Potongan Hati

Potongan Hati
08. Saudara Kembar


__ADS_3

Fiya terbangun dengan badan panas dan wajah pucat pasi. Gara-gara hujan ia jadi demam. Untung saja ini hari minggu jadi ia tidak usah repot-repot pergi ke kampus.


Ketika jarum jam sudah menunjukkan angka delapan pagi, Fiya berbaring di tempat tidurnya sambil membungkus diri dengan selimut. Kepalanya terasa pening dan tubuhnya lemas tak bertenaga.


"fii beli sarapan yuk?!" Citra muncul tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Eh, kenapa lo?" tanya cewek itu lalu mendekat pada Fiya.


"Lo sakit ya?"


"Cit, titip beli bubur yang deket mesjid nggak boleh? badan gue nggak enak banget."


"Udah minum obat belum?"


"Belum."


“Astaga ni anak. Yaudah tunggu bentar gue beliin bubur dulu sama obatnya." Tanpa menunggu lama Citra langsung menghilang dari kamar Fiya dan kembali setengah jam kemudian. Begitu ia kembali, fiya masih di posisi yang sama.


"Lo abis ngapain sih sampe sakit segala?"


"Kemarin ujan-ujanan."


"Ngapain?"


"Pengen aja."


"Dih, sableng!" Citra membuka meja lipat di atas tempat tidur fiya lalu meletakan bubur yang baru dibelinya di sana.


"Habisin makanannya, habis itu minum obat." fiya menurut tanpa banyak protes. Walau bucin setengah mati, tapi kadang Citra masih peduli pada dirinya sendiri.


“Btw ini apaan fi?” Citra menunjuk kotak makan di atas meja belajar fiya.


"Rendang dari nyokap gue. Makan aja Cit kalau mau, tapi diangetin dulu."


"Yeu si bambang kenapa nggak bilang? gue udah beli soto nih."


"Lupa."


"Yaudah gue angetin deh lumayan buat makan siang atau buat nanti malem." Kemudian Citra meninggalkan kamar Fiya setelah berpesan.


"Kalau butuh apa-apa panggil gue aja." Lantas Foto Itu fiya hanya tiduran di kamarnya. Citra datang untuk mengecek keadaan fiya dan teman-temannya itu beristirahat sampai menjelang datang untuk kesekian Kali mengunjungi fiya, tapi kali ini sambil membawa kabar yang cukup mengejutkan.


"fi, ada Zein tuh." Kedua mata fiya yang semula terpejam langsung terbuka lebar.


"Zein?" tanyanya memastikan. Takut-takut tadi ia salah dengar, tapi anggukan Citra setelahnya menjawab pertanyaan fiya.


"Ngapain?"


"Tidak tau."


"Suruh masuk aja."


"Oke." Lalu tak lama kemudian sosok Zein muncul. Citra meninggalkan mereka dan membiarkan pintu kamar Fiya terbuka lebar.


"Ada apa Zein? tumben ke sini." Fiya tanpa dirinya bangun dan duduk di atas tempat tidur.


"Sakit?" tanya Zein begitu melihat kondisi Fiya serta kool fever yang menempel di kening cewek itu.


"Cuma demam."


"Udah minum obat?"

__ADS_1


"Udah." Zein menghela napas panjang.


"Pasti kemarin ujan-ujanan?"


"Tidak sengaja," dusta Fiya.


"Tadi kak Tevin nelpon gue."


"Hah, ngapain?"


"Katanya hape lo nggak aktif." Fiya mengerjap beberapa kali hingga tersadar bahwa dari kemarin malam ia belum mengecek ponselnya sama sekali. Sontak ia bangkit dan mengeluarkan ponselnya dari dalam slingbag yang kemarin dia pakai.


"Mampus," pekik fiya di detik berikutnya.


"Kenapa?"


"Hape aku mati." Fiya mencoba ponselnya, tapi tidak berhasil padahal ia ingat betul baterai ponselnya masih penuh.


"Habis baterainya kali."


"Tidak, kemarin masih penuh kok."


"Kan kemarin, coba dulu aja dicas." Fiya menurut. la menunggu beberapa menit sebelum ponselnya kembali, tapi benda persegi itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyala.


"Pasti gara-gara kehujanan," celetuk Zein membuat Fiya menyesali perbuatannya kemarin. Harusnya ia titipkan dulu ponselnya pada Ardiansyah, sudah tahu slingbag yang pakai dia nggak tahan air.


"Bau-bau harus diservis ini mah." Zein cuma geleng-geleng kepala lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Tevin kakak pertama Fiya.


"Halo kak Tevin? ini gue udah sama Fiya. Lagi sakit dia terus hapenya kayanya kehujanan jadi mati." Fiya melotot mendengar Zein melaporkan semuanya kepada kakaknya. Mending kalau dia melapor pada Kevin, malah malah ke Tevin. Sudah pasti setelah ini ia akan diceramahi panjang lebar.


"Udah minum obat sih katanya." Zein mencuri-curi pandang ke arah fiya selagi berbicara dengan Tevin.


“Biasa kak ujan-ujanan.” Setelah itu menyerahkan ponselnya pada Fiya.


“Bilangin aja aku lagi tidur abis minum obat," katanya sepelan mungkin. Lalu ia kembali berindung di bawah selimutnya. Zein kembali menempelkan ponselnya di dekat telinga.


"Kata fiya bilangin aja dia lagi tidur abis minum obat." fiya ternganga begitu mendengar ucapan Zein. Mereka kembali berbincang sebelum Zein menutup ponselnya dan memandang fiya dengan siap mengomel.


"Kak Tevin nanti malem mau ke sini, jangan kemana-mana." Zein memang tidak jadi ngomel, tapi ia membawa kabar yang lebih menakutkan bikin fiya langsung cemberut. Sebenarnya Tevin sosok kakak yang seram. Malah dia sangat baik, tapi Tevin sering kali mengomeli kecerobohan fiya atau saat fiya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak ia lakukan seperti hujan-hujanan misalnya. Beda dengan Kevin kakak keduanya yang memiliki prinsip hidup.


'lakuin semua hal yang lo mau karena hidup cuma sekali' makanya dulu Kevin sering kena omel juga karena menularkan kebandelannya pada fiya.


"Gue balik ya? btw makasih buat yang kemarin." fiya mendongak membocorkan Zein. adalah suatu penemuan kembali dengan sosok perempuan yang ia temui di kos-kosan mantan pacarnya itu. Hatinya lagi-lagi tercubit.


"Gws fiya." Zein pamit lalu berlalu tanpa menoleh kembali.


"Sabar fiya, lo nggak boleh kecewa. Dia bukan pacar lo lagi!" fiya mencoba menghibur diri.


Tepat pukul tujuh malam, kedua kakaknya tiba di kos-kosan fiya. Lengkap dengan sekantung kresek berisi makanan dan susu kotak ukuran satu liter. Tevin mengecek keadaan fiya dengan termometer yang dibawanya. Sedangkan Kevin malah duduk santai membelakangi meja belajar Fiya sambil ngemil pocky. Menyaksikan kakak kembarnya mengurus adik perempuan satu-satunya.


"Udah minum obat lagi?" tanya Tevin.


"Nanti aja kak kalau mau tidur."


"Yaelah Tev, si Fiya cuma pilek doang bukan tifus," celetuk mengundang Kevin pelototan tajam Tevin.


"Kamu ngapain pake ujan-ujanan segala?" fiya meneguk ludahnya. la harus segera menyiapkan diri untuk mendengarkan ceramah dari kakaknya.


"Tidak sengaja mendapatkan kak," cicit Fiya tak berani membocorkan mata Tevin dan berlagak lemah tak berdaya guna simpati.


"Tidak mungkin, pasti kamu sengaja kan?"

__ADS_1


"Tidak kok." Melihat gelagat Fiya , Tevin tahu bahwa dia berbohong.


"Kan udah dibilangin jangan ujan-ujanan, bandel banget sih udah gede juga." fiya manyun.


"Mampus lo dimarahin." Bukannya membantu, Kevin malah mengolok-olok fiya. Tevin lanjut ngomel-ngomel sampai bikin kuping fiya pegal, sedang Kevin asik menonton tanpa berniat untuk menyela, karena jika dia melakukan yang ada dia akan kena omel Tevin juga. Jadi mending diam saja.


"Hape kamu mana? sini biar kakak yang benerin." Fiya menyerahkan ponselnya pada Tevin. Setelah suasana mulai tenang, barulah Kevin buka suara, tapi yang malah membuat Fiya kembali terpojok.


"Dek, lo lagi marahan ya sama Zein?"


"Hah? nggak kok. Kata siapa?"


"Abisnya aneh banget tadi Tevin nelpon dia buat nanyain lo tapi dia bilang nggak tau, nggak kaya biasanya aja."


"Kan hape aku rusak jadi nggak bisa ngehubungin Zein." Kini giliran Kevin yang memandangnya curiga. Kalau urusan asmara dia memang jagonya.


"Kalian tidak putus kan?" Fiya langsung terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Zein belum cerita apa-apa pada mereka.


"Dek?" Melihat Fiya tetap bergeming, Kevin langsung melebarkan matanya tak percaya.


"BENERAN PUTUS?" Fiya menunduk meminta meminta kedua kakaknya yang memuntut penjelasan. Kalau sudah gini fiya harus apa? menyangkalpun percuma, tapi untuk menjelaskan fiya terlalu enggan.


"Siapa yang mutusin?" tanya Kevin dengan raut serius.


"Aku."


“Bagus bagus, seenggaknya lo nggak diputusin.” Dalam hitungan detik raut wajah Kevin sudah seperti biasa,malah sekarang ia terkesan bangga. Beda halnya dengan Tevin yang malah malah memandang fiya serius.


"Jangan bilang kamu kemarin ujan-ujanan karena galau putus sama Zein?" Kepala fiya sontak cepat.


"Tidak kok. Kemarin aku nonton acara kampus terus keujanan." Kemudian Tevin menghela napas panjang.


"Kakak nggak akan ikut campur masalah kamu sama


Zein, tapi kakak harap kalian bisa nyelesainnya baik-baik. Inget sebelum pacaran kalian pernah temenan."


"Iya kak."


"Gak usah sok galau gitu dek, masih banyak cowo lain di luar sana atau lo mau gue kenalin ke temen-temen gue? eh jangan deh temen gue nggak ada yang bener," celoteh Kevin berhasil membuat fiya tersenyum geli.


"Kita pulang dulu ya, kamu istirahat aja kalau ada apa-apa bilang." Tevin kemudian mengarahkan pandangannya pada Kevin sambil menengadahkan telapak tangan.


"Hape lo mana?"


"Hah, buat apa?"


"Sini!" Dengan kerutan samar di dahinya, Kevin memberikan ponselnya secara cuma-cuma. lalu Tevin memberikan ponsel itu pada fiya.


"Nih pake hape Kevin dulu." Bikin Kevin menganga tidak pada tempatnya.


"KOK PAKE HAPE GUE SIH?" protesnya, tapi Tevin tidak peduli dan malah menarik Kevin keluar dari kamar Fiya.


"Tidak usah berisik, hape lo banyak!" fita hanya bisa tertawa melihat kelakuan kakaknya. Mereka berdua sangat berbeda walau terlahir kembar. Yang satu menjelma jadi fakboy, yang terjebak jadi sadboy. Bahkan keduanya punya jalan hidup yang berbeda pula. Kalau Tevin tipe orang yang terencana, Kevin malah lebih suka mengikuti arus. Sekarang saja Tevin sudah punya jadwal sidang, sementara Kevin jangankan sidang, topik skripsi saja dia belum tahu mau ngambil apa.


Dulu Fiya sempat masuk ke kampus yang sama dengan mereka, tapi Fiya langsung menolak mentah-mentah. Bisa stres dia tinggal dengan kedua kakaknya dan bisa dipastikan kebebasannya akan terancam. Maka dari itu memutuskan untuk memisahkan diri, walau nyatanya mereka masih tinggal di kota yang sama.


...Tevin Kevin kakak kesayangan Fiya....



...Sama abang Tevin...

__ADS_1



...JANGAN LUPA VOTE AND COMENT YO!!!...


__ADS_2