
Taburan bintang di langit malam menjadi salah satu pemandangan terindah yang dapat dilihat dari alun-alun Surya Kencana ketika cuaca sedang bagus. Jauh dari kilauan lampu-lampu perkotaan dan hirup piruk manusia-manusia metropolitan. Bersama lagu someone like you milik Adele, Fiya menggelar matras dan duduk di atasnya selagi teman-teman sedang asik bermain uno di dalam tenda. Gadis itu kalah pada permainan sebelumnya dan sebagai hukuman dia harus menunggu di luar tenda sendiri. Ini sudah lagu keduanya dan permainan di dalam juga belum berakhir. Fiya menggosok-gosokan kedua telapak tangan yang terasa dingin. Suhu di ketinggian 2750 mdpl bukan main-main. Meski begitu menikmati ketenangan yang jarang saya dapatkan di ibu kota.
Gelagar tawa teman-temannya dari dalam tenda seolah meredup tergantikan suara desauan angin yang berembus kencang. Fiya jaket serta beanie yang dikenakannya. Hingga tak lama kemudian seseorang ikut keluar dari tenda.
"Gila, dingin banget!" keluhnya yang langsung memeluk diri begitu merasakan embusan angin. Dia kemudian duduk di sebelah Fiya.
"Kalah juga?" tanya Fiya.
"Si Citra dibantuin Surya." Sekar tertawa. Sementara dia hanya diam sambil menggosok-gosokan telapak tangan. Hal yang juga tadi dilakukan oleh Fiya.
"Btw lagunya galau sih kaya abis diputusin pacar aja," celetuknya kemudian.
"Emang!" Jawaban Fiya membuat dia tersentak lalu mengerjap salah tingkah.
"Beneran abis diputusin?" tanyanya tak percaya.
Pemuda itu adalah Ardiansyah Putra, salah satu teman Surya pacarnya Citra.
"Gue diajak Citra ke sini katanya biar bisa refreshing dan ngelupain mantan." Entah apa yang mendorong sseorang Fiya mau pada orang yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.
"Boleh juga ide temen lo."
"Ya alibi sih sebenernya biar dia ada temen ceweknya aja."
"Wah, bisa juga." Kemudian keduanya terdiam menikmati alunan musik dari ponsel Fiya yang kini memutar lagu Akulah yang tersakiti milik Judika.
“Playlist lo galau semua ya?”
"Sesuai suasana hati."
Ardiansyah kemudian beranjak menuju tenda dan melongo ke dalamnya selama beberapa detik hingga kembali sambil menenteng ukulele di tangan.
"Mumpung gue lagi baik, gua mau hibur lo deh," katanya.
la kemudian memetik senar ukulele dan menyanyikan sebuah lagu yang kebetulan Fiya tau apa lagu itu.
Makan di resto terenak
Membaca di sudut paling tenang
Menonton pertunjukan musik
Telusuri jalanan dari malam hingga pagi
Suara Ardiansyah mengudara meski sedikit fals karena ia bernyanyi di tengah hawa dingin yang menusuk kulit dan membuat gigi menggeletuk.
Selanjutnya dia berhenti bernyanyi sambil memandang Fiya. Tatapannya seolah meminta Fiya untuk melanjutkan nyanyiannya karena lagu itu memang lagu duet cewek-cowok yang dinyanyikan Rizky Febian dan Mikha Tambayong, awalnya Fiya menolak dengan pukulan cepat, tapi Ardiansyah malah terkesan. Jari-jarinya masih terus memetik senar ukulele di kunci yang sama. Mau tidak mau Fiya akhirnya ikut bernyanyi meski tak yakin suaranya layak untuk didengarkan orang lain. Lalu mereka bersama bersama saat satu lagu dan melupakan keberadaan temnan-temannya di tenda. Katanya berpisah itu mudah, yang susah adalah melupakan kenangan setelahnya.
"Gimana, udah ngerasa kehibur belum?" tanya
Ardiansyah begitu mereka selesai bernyanyi, tapi Fiya malah tertawa.
"Baru kali ini gue dihibur dengan cara kaya gini ya walaupun gue masih galau, tapi lumayanlah."
__ADS_1
"Gue gak bakat ngehibur cewek sih soalnya cewek gue terlalu mandiri."
"Semacam wanita mandiri?" Ardiansyah mengangkat kedua bahunya sekilas.
"Semacam itu."
"Gue juga pengen jadi cewek kaya gitu, tapi nggak bisa."
"Gue saranin jangan deh. Bagi cowok-cowok, susah ngadepin cewek kaya gitu kadang kita jadi insecure ngerasa gak guna dan gak ada yang bisa kita lakuin."
"Yah, menurut gue sih tergantung cowoknya. Kalau lo ngerasa gitu berati ya lo belum usaha maksimal."
"Pedes juga kata-kata lo." Ardiansyah menyimpan ukulele di sampingnya. Lo sendiri kenapa putusin?" Fiya beralih memeluknya.
“Ehm. sebenernya gue yang mutusih sih." Dahi Ardiansyah mengernyit.
"Terus kenapa lo yang galau?"
"Tapi gue gak niat mutusin."
"Hah?"
"Cowok gue cuek banget gitu terus gue ngerasa kaya digantung, dia juga udah beda aja gak kaya dulu lagi. Udah jarang ngehubungin gue dan lebih memilih nongkrong sama temen-temannya dari pada jalan sama gue. Jadi, gue kepikiran apa di udah bosen sama gue ya abis itu gue nyoba putus sama dia dan ternyata dia langsung ngeiyain dong. Dari situ gue mikir kayanya dia emang udah pengen putus sama gue dari lama, tapi mungkin gak berani bilang."
"Terus sekarang lo nyesel?" Fiya mengangguk-angguk.
“Bisa dibilang kaya gitu. Kalau gue tau dia bakal ngeiyain, gue gak akan bilang dan lebih milih buat mertahanin hubungan kita sambil nyari jalan keluar."
"Kenapa gak nyoba ngajak dia balikan?"
"Gak tau kenapa kok gue kayanya ngerti banget apa yang lagi lo rasain. Cewek gue walau gak secuek cowok lo, tapi dia kaya punya tembok yang gak bisa gue lewati. Dia kaya ngejaga jarak dari gue." Fiya kini menoleh pada Ardiansyah yang sedang menerawang jauh ke depan. Tatapannya kosong seperti miliknya beberapa saat lalu.
"Sebenernya kemarin cewek gue juga putus, tapi belum gue iyain. Ini gue sengaja ngehindarin dia buat ngasih dia waktu sendiri. Kita udah lama pacaran, jadi sayang banget kalau putus gitu aja."
"Wah, ternyata bukan cuma gue yang lagi galau di sini."
"Seneng ya nemu temen sepergalauan?"
"Seenggaknya gue ikut ke sini gak sia-sia deh. Semoga hubungan lo gak berakhir kaya gue."
"Doain aja."
"Tapi kalau ternyata lo putus juga, bilang aja ke gue nanti gue hibur lo deh itung-itung balas budi," canda Fiya
"Mau nyanyi bareng lagi?"
"Belum tau, nanti gue cari referensi dulu gimana cara ngehibur orang yang lagi patah hati."
"Sebelum diterapin ke gue, coba dulu terapin ke diri sendiri ya kalau mempan baru deh."
"Siap kapten." Fiya dan Ardiansyah tertawa bersama.
Bahkan embusan angin malam terasa tidak sedingin tadi. Mungkin karena mereka sudah beradaptasi atau obrolan mereka berhasil pikiran pikiran. Tawa mereka berhenti ketika sosok Citra keluar dari dalanm tenda laki-laki yang tadinya dijadikan tempat untuk bernmain lalu mengajak Fiya untuk kembali ke dalam tenda mereka yang dibangun berhadapan.
__ADS_1
"Mainnya udah selesai?"
"Iya, Abi yang menang."
“Anjir berati lo kalah dong? kok gak keluar tenda."
"Hehe male dingin terus gak mau ganggu kalian juga,"
“Apa-apaan!” protes Fiya, tapi tetap mengikuti Citra masuk ke dalan tenda yang lebih kecil dari tenda laki-laki itu setelah mengambil senter yang tadi ia letakan di sampingnya. Sebelum ia menutup ritsleting tenda, ia melongokan kepalanya keluar dan melihat Ardiansyah yang juga bersiap-siap masuk ke dalam tenda.
"Night Ardiansyah," ujar Fiya diiringi senyum manis tanda terima kasih atas perbincangan mereka beberapa menit lalu yang cukup menghibur.
"Kamu juga." Ardiansyah balas tersenyum.
Begitu Fiya menutup rapat tenda dan mulai memakai kantong tidur, Citra menatap sambil tersenyum jahil.
"Gimana Ardiansyah?"
"Asik"
"Ciee."
"Apaan deh."
"Kiw kiW yang baru langsung pdkt sama yang baru."
"Hus, biasanya! Ardiansyah udah punya cewek," sergah Fiya tegas.
"Jodoh kan gak ada yang tau."
"Gak usal mulai!" Fiya membaringkan tubuhnya senyaman mungkin sementara Citra masih duduk bersila di sampingnya.
“Kalau butuh bantuan bilang aja ya, Ardiansyah kan temen Surya dan temen Surya temen gue juga."
"Gak usah sok soan jadi mak comblang."
"Gue kan pengen bantuin lo." Akhirnya Citra ikut masalah di samping Fiya.
“ANDA pantas mendapatkan yang lebih baik. baby."
"Ya aku tahu, tapi pertama-tama biarin hati gue pulih dulu oke?"
"Kalau mau cepet pulih lo harus nyari obatnya."
"Tapi bukan berarti harus Ardiansyah, gue gak punya cita-cita jadi pelakor ya."
Citra hanya terkekeh. Entah mengapa ia punya firasat kalau Fiya akan cocok dengan Fiya meski ia banyak mendengar hal yang kurang baik mengenai cowok itu, tapi mungkin mereka bisa saling melengkapi.
...Gemes banget...
Catatan :
__ADS_1
Aku berterima kasih kepada kalian yg mau meninggalkan jejak like dan komentarnya ya guys ya:)
......SALAM HANGAT DARI AUTHOR TERCINTA......