Potongan Hati

Potongan Hati
07. Sedikit Tentang Masa Lalu


__ADS_3

"Jadi ini yang namanya Antares?"


"Iya. Bagus kan?"


"Ehm lumayan-lumayan."


Ardiansyah melirik Fiya yang tampaknya sudah kembali ceria berkat penampilan band kampus favoritnya. Cewek itu bersenandung mengikuti lagu yang entah lagu apa ardiansyah tidak tahu.


"Cocok banget anjir lagunya."


"Emang ini lagu apa?"


"Lagu congratulations punya Day6."


"Day6 apaan lagi tuh?"


"Band Korea haha lo nggak akan tau, gue aja tau gara-gara si Citra sering muter itu di kosan." Ardiansyah cuma ngangguk-anggukkan.


Malam itu panggung fakultas bahasa ramai oleh orang-orang yang mencari hiburan atau yang memang ingin menonton penampilan musik dari band kampus serta salah satu band indie asal Jakarta. Kalau tidak salah namanya Bara suara. Riuh teriakan serta tepuk tangan penonton terdengar ke segala penjuru arah sebelum dibungkam oleh derasnya hujan yang tiba-tiba turun mengguyur Jakarta. Orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh, ada juga beberapa yang diam di tempat dan menikmati air hujan membasahinya seolah itu bukan masalah besar atau mereka memang menyukai hujan dan salah satu dari orang-orang itu adalah fiya. Cewek itu malah menengadahkan kepala sambil menutup mata, membiarkan rintik hujan mendarat di wajahnya. Kata orang, hujan adalah entitas terbaik untuk menyembunyikan air mata, sayangnya saat ini fiya sedang tidak ingin menangis.


"Heh, lo udah gila ya? ngapain malah diem di sini?" ardiansyah yang semula sudah berteduh, kembali berlari ke tempat fiya saat sadar cewek itu tidak mengikutinya.


"Lagi menikmati hujan," jawab fiya enteng.


"Lo bisa sakit entar."


"Tinggal minum obat."


“Ck, mulai deh." ardiansyah melepas jaketnya dan memakainya pada bahu fiya.


“Lain kali pake baju yang bener," katanya mengomentari blouse sabrina yang dikenakan fiya malam itu.


“Kalau lo masih mau ujan-ujanan, gue tunggu di sana ya?" ardiansyah menunjuk gazebo kampus yang sudah ramai ditempati orang-orang. Lalu tanpa menunggu jawaban dari fiya, ardiansyah berlari ke sana. Ia langsung menyugar rambutnya yang setengah basah membuat beberapa cewek di sekitar memandang ke arahnya. Setelah lima menit berlalu, fiya menyusul dengan baju yang sudah basah kuyup serta rambut lepek terkena air hujan. ardiansyah instan tertawa melihat penampilannya.


"Gue kira lo bakal nemenin gue ujan-ujanan biar romantis gitu." fiya mengucapkan kalimat pertamanya sambil membenarkan jaket pemberian ardiansyah yang nyaris terjatuh.


“Ya maaf mengecewakan, gue mah ogah diajak ujan-ujanan," balasnya sambil terkekeh. "


"Tadi tuh udah pas banget momennya lho apalagi lo pake acara makein jaket segala."


"Kalau gak gue pakein nanti lo jadi tontonan. Baju lo pasti nerawang tuh." Dagu ardiansyah menunjuk baju fiya yang kini sudah tertutup jaket miliknya. Fiya menunduk.


"Eh iya, lupa kalau gue pake baju putih." Lalu ia nyengir.


"Udah puas ujan-ujanannya?"


"Udah."


"Drama banget dasar. Untung gak sampe nangis-nangis juga, entar gue dikiranya udah ngapain lo lagi." Kini giliran fiya yang tertawa.

__ADS_1


"Harusnya sih begitu, tapi gue lagi nggak pengen nangis."


“Aturan pas nangis lo showeran aja daripada ujan-ujanan."


"Ini ngejek apa gimana? kos kentang kaya punya gue tuh mana ada showernya."


"Eh masa?"


"Ck, merasa terhina nih gue." fiya mencak-mencak.


Lantas ia berdiri di sebelah ardiansyah. Ikut menunggu hujan reda sambil sesekali menengadahkan tangannya untuk menangkap air hujan.


"Bau-bau bakal awet hujannya."


"Yaudah gapapa tungguin aja, gue udah biasa nunggu kok."


“Dih baperan." fiya tak menyahut. la menumpahkan air yang terkumpul dalam telapak tangannya hingga tersisa sedikit lalu menyipratkannya tepat di depan wajah ardiansyah.


“Anjir fi!" ardiansyah memekik kaget sedangkan fiya tertawa puas.


"Nggak usah sok-soan menghindar, lo waktu kecil juga pasti seneng ujan-ujanan kan sampe dimarahin nyokap lo?"


"Itu mah elo kali. Jangan sama-samain kaya gue.


Waktu kecil gue penurut anaknya."


"Lo waktu kecil pasti bandel banget ya?"


"Iya dong!" Bukannya tersinggung, fiya malah menjawabnya bangga.


“Makanya pas udah gede gue berubah jadi anak baik, soalnya bandelnya udah dihabisin waktu kecil."


"Heh, teori dari mana itu?"


"Dari gue." fiya kembali menengadahkan tangannya untuk mengumpulkan air hujan bersamaan dengan kenangan masa lalu yang satu persatu mulai bermunculan di benaknya.


"Waktu kecil gue seneng banget ujan-ujanan. Biasanya gue main bola sama Zein sama kak Kevin atau main kejar-kejaran sampe nyokap gue nyusulin terus ngejewer telinga kak Kevin karena malah ikut-ikutan," curhat fiya tiba-tiba.


"Oh jadi lo sama mantan lo temen masa kecil ya?" fiya mengangguk.


"Orang tua kita temenan terus rumah kita juga deketan jadi dari kecil gue mainnya sama Zein. Kita kemana-mana selalu bareng, sampe sekolahpun sama terus." ardiansyah memilih diam mendengarkan cerita fiya.


"Waktu SMA tiba-tiba Zein nembak gue. Sebenernya sebelum nembak pun kita sering dijodoh-jodohin sama temen-temen karena nempel mulu walau beda jurusan, tapi gue tetep aja syok karena nggak nyangka Zein bakal suka sama gue." fiya mengambil jeda sejenak.


"Zein itu orangnya supel, dia baik ke semua orang jadi dia temennya banyak nggak kaya gue yang gampang dibenci dan dimusuhin orang."


"Terus lo langsung nerima dia?" tanya ardiansyah.


"Nggak, pas pertama nembak gue langsung nolak Zein. Gue itu nggak pernah pacaran sebelumnya dan denger curhatan temen-temen gue yang hobi ngegalauin pacarnya gue jadi takut. Gue takut kalau kita pacaran suatu saat bakal putus dan kebanyakan orang yang udah putus kan susah buat temenan lagi. Zein itu bukan sosok yang numpang lewat doang di hidup gue, kita gede bareng makanya gue sayang banget sama dia."

__ADS_1


"Dan ketakutan lo sekarang kejadian." fiya tersenyum miris mendengar ucapan ardiansyah.


"Iya. Makanya selama ini gue berusaha buat mertahanin hubungan kita gimanapun caranya. Cuma ya gue goblok aja pake nyoba-nyoba minta putus segala."


"Kenapa dulu lo nerima Zein?" fiya tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan ardiansyah.


"Karena dia selalu berusaha ngeyakinin gue dan dipikir-pikir kalau gue nolak bisa aja Zein nantinya ngedeketin cewek lain atau pacaran sama yang lain. Waktu ngebayangin itu gue nggak rela makanya akhirnya gue nerima ia, tapi ya emang bener hidup itu nggak ada yang tau. Walau udah bareng bertahun-tahun dan udah ganti status jadi pacaran, bukannya makin lengket hubungan kita malah renggang nggak lama setelah kita kuliah."


"Mungkin lo ada salah sama dia makanya hubungan kalian jadi renggang"


"Gue juga pernah mikir gitu sampe nanya ke dia, tapi dia bilang gue nggak punya salah apa-apa dan karena gue tau Zein orangnya kaya gimana makanya gue percaya-percaya aja. Dia tuh tipe orang yang bakal bilang gue salah kalau emang gue beneran salah."


"Bentar," sela ardiansyah ketika mengingat sesuatu.


"Kalian kan udah deket dari kecil harusnya dia juga udah tau gimana sifat lo. Kenapa waktu itu lo bilang lo nggak pernah ngelakuin hal yang nggak dia suka?" Pertanyaan Reno membuat fiya merotasikan bola matanya.


“Aduh ar masa lo nggak paham sih! itu kan salah satu usaha gue. Gue pikir kalau gue berubah jadi cewek seperti yang dia mau, dia bakal balik kaya dulu." Barulah ardiansyah mengangguk-angguk mengerti.


"Tapi ternyata nggak berhasil. Mungkin emang perasaan Zeinnya aja yang udah berubah." fiya sudah berhenti mengumpulkan air hujan dengan telapak tangannya. Sekarang ia lebih memilih memandanginya saja.


"Sekarang gue jadi percaya kalau cowok itu berjuangnya emang cuma diawal doang."


"Nggak semua kaya gitu," sangkal ardiansyah cepat.


"Emang lo nggak?"


"Kalau iya harusnya gue yang mutusin bukan yang diputusin."


“Bisa aja kan lo kaya Zein, nggak mau mutusin duluan dan ngegantung cewek lo."


"Gue nggak pernah ngegantungin Vina," bela ardiansyah.


"Iya juga. Kata Citra kan lo posesif banget sama cewek lo."


Sebelah sudut bibir ardiansyah tertarik.


"Itu juga salah satu usaha dari gue buat mertahanin hubungan gue sama Vina. Gue pengen dia nggak pernah lupa sama kehadiran gue di hidup dia."


“Ehm ... berati cowok itu ada dua jenis. Kalau nggak tukang ngegantungin hubungan, ya yang posesif kaya lo," kata fiya menarik kesimpulan seenaknya.


"Tapi kalau disuruh milih sih gue mending cowok yang posesif. Seenggaknya kan gue tau kalau dia dan masih punya masih nganggep gue pacarnya rasa sama gue."


"Jadi ceritanya lo lebih milih gue dari pada mantan lo?" pancing ardiansyah sambil tersenyum jahil.


"Ya nggak gitu juga. Maksudnya dari pada hubungan gue, kayanya hubungan lo sama Vina lebih baik."


"Rumput tetangga selalu lebih hijau emang." Perkataan ardiansyah membuat keduanya tertawa.


...JANGAN LUPA VOTE AND COMENT YO!!! ...

__ADS_1


__ADS_2