
"Lho, mama kok ada di sini?" kaget Fiya saat tiba-tiba menemukan sosok ibunya sudah berdiri di depan kos-kosan sambil menenteng dua totebag.
"Habis dari tempat kakak kamu yaudah sekalian mampir."
"Kenapa nggak ngabarin Fiya dulu?"
"Mama nggak akan lama, nanti malem mau ketemu klien. Nih, nanti dimakan bareng Citra." Ibu Fiya menyerahkan satu totebagnya.
"Ih mama tau banget Fiya belum makan." Fiya berseri-seri dan mengintip isi totebagnya.
"Yang ini kasihin ke Zein, titipan dari tante Risma."
Seketika Fiya mematung. la hampir lupa bahwa dirinya dengan Zein adalah tetangga dan orang tua mereka berteman baik. Cepat atau lambat ibunya akan tahu kalau hubungan Fiya dengan Zein sudah berakhir, tapi untuk saat ini Fiya memilih menyembunyikannya dulu.
"Oke Ma, nanti Fiya kasin ke Zein." Fiya memasang senyum pura-pura.
“Yaudah kalau gitu mama pulang dulu ya, kamu jaga kesehatan jangan lupa makan." Ibu Fiya memeluknya singkat dan mengecup keningnya sekilas.
“Mama juga."
"Uang jajan kamu masih ada?"
"Masih kok Ma, tapi kalau mama mau nambahin ya gapapa. Sang ibu terkekeh kecil.
"ya nanti mama transfer," ujarnya kemudian pamit dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
Fiya melambaikan tangan sampai mobil ibunya berlalu dari depan kos-kosannya. Barulah ia menghela napas dalam-dalam. Kenapa selalu saja ada hal yang memaksanya untuk bertemu Zein. Apa semesta tidak mengijinkan Fiya untuk move on?
"Gini nih susahnya punya mantan pacar tetanggaan," keluh Fiya.
Cewek itu lantas kembali ke kamarnya. Mengeluarkan isi totebag miliknya ke atas meja lalu menyabet kardigan yang tersampir di punggung kursi. Tak lupa ia juga merapikan rambutnya dan memastikan bahwa wajahnya dalam keadaan enak dipandang. Sebelum berangkat, Fiya menyemprotkan sedikit parfum pada pakaiannya. Kata orang kalau mau ketemu mantan jangan kelihatan kucel, biar doi nggak bersyukur udah mutusin kamu. Justru kamu harus lebih glowing biar dia menyesal, ya walaupun dalam kasus ini Fiya tidak yakin Zein akan menyesal sih.
Kurang dari sepuluh menit motor Fiya sudah menepi di depan kos-kosan Zein. Ia berniat untuk mengirim pesan pada cowok itu untuk mengabari kehadirannya, tapi urung ketika mendengar gelak tawa seseorang yang begitu ia kenal. Fiya melongok dan menemukan sosok Zein sedang duduk di teras bersama seorang perempuan. Di depan mereka ada dua buah laptop yang terbuka serta berbagai macam makanan ringan. Mereka tampak akrab dan Fiya tahu bahwa perempuan itu adalah alasan Zein memutuskan hubungan mereka.
"Bentar, bentar gue ngisi minum dulu." Zein masuk ke dalam kos-kosannya sanmbil membawa botol minum.
Sementara Fiya masih terdiam di atas motornya. la tidak berani mendekat atau ia akan menangis lagi. Ternyata seperti ini sakitnya kehilangan seseorang yang dulu pernah berjuang untukmu, kini tertawa bahagia bersama orang lain. Apa itu artinya selama ini Fiya tidak cukup baik untuk Zein?
Saat Sekar berniat menjalankan motornya dan putar balik, perempuan yang tadi bersama Zein menoleh dan mempertemukan pandangan mereka. Dari raut wajahnya bisa ditebak kalau dia mengenal Fiya. Hal itu terbukti karena dia sekarang berjalan mendekati Fiya.
"Fiya kan?" tanyanya terdengar riang.
"Iya."
“Mau ketemu Zein?" Fiya memalingkan wajahnya.
"Nggak gu-"
"Zeinnya ada kok." Dia memnotong ucapan Fiya.
“Mau gue panggilin?" Fiya langsung menggeleng cepat lalu buru-buru memberikan totebag yang dibawanya pada perempuan itu.
“Titip buat Zein, bilang dari tante Risma."
"Tante Risma?"
__ADS_1
"Mamanya Zein."
"Ohh." Dia mengambil alih totebag dari tangan Fiya.
“Nggak mau mampir dulu?"
"Nggak usah, gue duluan!" Tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya, Fiya langsung tancap gas sambil mendumel dalam hati.
Gila ya tu cewek pake pura-pra baik segala, dasar uler, dasar pelakor! Gue sumpahin jeranwatan gede di idung! Fiya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sampai mengundang umpatan dari pengendara lain, tapi dia tidak peduli. Fiya hanya ingin cepat-cepat sampai ke kos dan meluapkan semua kekesalannya.
"Fiya lo mau nit " Fiya mengacuhkan Citra yang berpapasan dengannya di depan kos lalu masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu membuat sobatnya itu jadi bertanya-tanya.
"WOY SEKAR LO KENAPA?" Suara Citra mengudara dari balik pintu kamarnya.
"JANGAN BILANG LO ABIS KETEMU MANTAN." Fiya tetap mengacuhkan Citra meski ucapan cewek itu nyaris benar. Kalau ketemu mantannya aja sih gak apa-apa, tapi masalahnya yang Fiya temui itu gebetan mantannya atau mungkin sekarang udah jadi cewek baru mantannya.
"Lo kalau mau nitip sesuatu chat aja ya. Eh, lo bukannya mau nonton Antares sama Ardiansyah?" Tidak ada jawaban dari Fiya. Citra hanya bisa menghela napas panjang.
...******...
Ardiansyah mengetuk-ngetuk jemarinya pada meja sementara sebelah tangannya yang lain memangku ponsel yang tengah menampilkan room chat dengan Fiya. Sudah berkali-kali ia mengirim pesan pada cewek itu, tapi jangankan dibalas dibaca saja tidak.
"Jangan bilang ni anak ketiduran!" gumam Ardiansyah sambil mencoba meneleponnya untuk yang ketiga kali, tapi tetap tidalk ada jawaban dari Fiya. Akhirnya Ardiansyah memutuskan untuk menelepon Citra karena satu-satunya teman Fiya yang Ardiansyah kenal ya cuma Citra.
“Ada apa Ar? tumben nelpon?" Suara Citra terdengar dari sebrang telpon tak lama setelah panggilan mereka terhubung.
"Lo lagi sama Fiya nggak? dia gue chat nggak bales."
"Di kos deh kayanya. Tadi sore dia gak tau habis dari mana pulang-pulang langsung banting pintu mana mukanya keliatan kesel gitu."
"Lo susulin aja ke kos Ar. Kamar Fiya yang paling depan. Di pintunya juga ada namanya sih."
"Emang boleh masuk?"
"Boleh boleh aja. Kos gue mah bebas."
"Yaudah gue ke sana sekarang."
"Eh Ar-" Ardiansyah yang sudah menurunkan ponselnya dan berniat mengakhiri panggilan teleponnya, kembali menempelkan benda persegi itu di dekat telinganya.
"Kenapa Cit?"
"Nggak jadi deh hehe, entar mau ngomong langsung aja."
"Oh oke." Kemudian panggilan telepon mereka benar-benar terputus dan Ardiansyah segera beranjak menuju kos-kosan Fiya.
Sampai di sana suasana kos-kosan tampak sepi. Mungkin karena malam minggu jadi para penghuninya pada pergi untuk menikmati masa muda bareng doi. Ardiansyah nggak akan kaget kalau tinggal Fiya yang ada di sana.
"Fii?" Ardiansyah mengetuk-ngetuk pintu kamar depan yang bertuliskan nama Fiya sesuai yang dibilang Citra.
"Fiya?" Tidak ada jawaban, tapi dari dalam kamarnya terdengar alunan musik mellow khas orang yang lagi patah hati. Sekali lagi Ardiansyah mengetuk pintu dan mencoba memutar knop yang ternyata tidak dikunci sama sekali.
“Fii gue masuk ya?" Kemudian pintu terbuka dan menampilkan sosok Fiya sedang tengkurap di atas tempat tidur. Cewek itu melirik Ardiansyah, tapi tidak mengatakan apapun.
"Kok belum siap-siap? katanya mau nonton Antares?"
__ADS_1
Ardiansyah bersedekap sambil memandang Fiya lalu tatapannya teralih pada sebuah bingkai foto yang tergeletak di samping cewek itu. Dari tempatnya berdiri Ardiansyah masih bisa melihat potret Fiya bersama mantannya yang masih berbalut seragam putih abu-abu. Keduanya menatap lurus ke depan sambil memasang ekspresi aneh dan mencubit pipi satu sama lain.
"Abis ketemu mantan lo ya?" Tatapan Ardiansyah melunak. la kemudian duduk di tepi ranjang.
"Gimana lo mau moveon kalau fotonya aja masih lo simpen. Mana disayang-sayang gitu kayanya." Melihat Ardiansyah yang sepertinya siap ceramah panjang lebar, Fiya langsung menyela.
"Nggak usah sok soan nasehatin gue, lo sendiri belum move on dari mantan lo."
"Karena nasehatin orang lain itu lebih gampang daripada nasehatin diri sendiri."
"Cih!" Fiya mengalihkan pandangannya, tapi ucapan Ardiansyah memang benar adanya.
"Nggak jadi nonton nih? gue udah rapi gini padahal."
"Mager."
"Nggak ada mager-mageran, cepet bangun!" Ardiansyah menarik tubuh Fiya.
"Lo yang bikin janji masa lo yang nggak nepatin."
"Ar ..," Fiya merajuk.
"Gunanya lo ngegalauin mantan apa?"
"Tanya aja ke diri sendiri," jawab Fiya bikin Ardiansyah merotasikan bola matanya.
"Hari ini libur dulu ngelauin mantannya, okay?" Fiya lagi-lagi tidak menjawab.
"Ini gue sita!" Ardiansyah mengeluarkan foto Fiya dan mantannya dari bingkai bikin Fiya auto melotot.
"HEH MAU LO APAIN?"
"Cepet siap-siap, gue tunggu diluar!"
"ARDIANSYAH!"
"Kalau nggak berangkat, fotonya gue buang," kata Ardiansyah tegas. Lalu ia keluar dari kamar Fiya.
"SUMPAH AR GUE BAKAL NANGIS KALAU LO
APA-APAIN FOTO ITU." Dengan kecepatan kilat Fiya segera merapikan dirinya lalu menyusul Ardiansyah yang sudah duduk anteng di atas motornya.
“AY0 berangkat!"
"Fotonya?" Fiya menengadahkan tangan, tapi Ardiansyah malah memberikan helm padanya.
"Gue balikin nanti pas pulang." Fiya manyun, tapi tetap naik ke atas boncengan Ardiansyah setelah memakai helmnya asal-asalan.
"Ceklekin dulu tu helmnya." Fiya berdecak sebal, tapi tak urung menuruti ucapan Ardiansyah.
...Fiya waktu ngegalauin mas mantan...
...YOK-YOK JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA GUYS YA!!!! ...
__ADS_1