Pria Terakhir Di Dunia

Pria Terakhir Di Dunia
Bab 21: Hasil yang Memuaskan


__ADS_3

"Fiuh~ ... aku sedikit lelah."


Elvino berjalan di jalan raya yang rusak dan gelap sambil menghembuskan napas panjang.


Di belakangnya, terdapat bongkahan daging yang terpotong dadu di atas jalan beton berdarah.


Genangan air darah yang bau busuk dan amis menyelimuti beberapa bagian jalan raya, membuat pemandangan menjadi mengerikan.


"Bentuk Gorila terasa canggung jika aku pikir-pikir lagi." Menyentuh dagunya Elvino memikirkan tentang peran Gorillaman. "Tidak mungkin aku bertelanjang di tengah-tengah pertempuran, bukankah itu memalukan? Kurasa, aku akan memakai bentuk itu saat di situasi tertentu."


Ketika Elvino masuk ke dalam bentuk gorila, dia harus bertelanjang agar tidak merusak celana dan pakaiannya. Merepotkan dirinya di saat sedang bertarung melawan zombie.


Lagi pula, dia punya sifat malu yang masih terjaga, meski sudah terkikis.


"Hmm?"


Tiba-tiba kaki Elvino berhenti melangkah, membalikkan tubuhnya ke belakang dengan wajah yang curiga.


Mata Elvino menyipit memandang ke salah satu bangunan tinggi yang memiliki jumlah lantai puluhan, tepatnya dia fokus menatap ke salah satu bagian gedung.


"Seperti ada yang mengintai dan memantau ku," gumam Elvino sambil melipat tangannya dan masih melirik ke gedung di kejauhan.


Berikutnya, Elvino berbalik dan kembali berjalan ke gedung tempat para wanitanya tertidur. "Mungkin perasaanku saja."


Elvino menggelengkan kepalanya dan terus melangkah menuju ke dalam gedung.


Di saat yang sama, dua orang wanita sedang menunduk di bawah jendela dengan ekspresi wajah yang tidak percaya.


"Apakah dia menemukan kita, Bila?!" Seorang wanita yang memiliki kantung mata di wajah cantiknya bertanya ke temannya bernama Bila.


Bila, wanita berambut pendek sedikit terlihat tomboi merespons dengan anggukan kejam dan menjawab, "Benar, seperti yang kamu lihat. Pria ini punya insting yang tinggi, Luna."


"Bagaimana menurutmu dengan pria itu? Membiarkannya tetap hidup atau ...."


Sebelum Luna menyelesaikan ucapannya, Bila menyela dengan wajah yang serius.


"Kita harus membuatnya menghilang."


"Namun, dia punya benda besar itu, Bila. Apakah kamu tidak ingin merasakannya sekali dalam seumur hidup?"


Mendengar ucapan Luna, mata Bila terbelalak dan menatap Luna dengan aneh. "Tidak, sama sekali tidak ada keinginan di dalam diriku berhubungan dengan seorang pria. Mengapa kamu berpikir seperti itu, Luna? Kamu lupa slogan dan ideologi kita?"


Mata Bila memandang Luna dengan tidak senang.


"Aku sudah tidak tahan, Bila. Aku seorang wanita, aku tidak bisa membohongi tubuhku sendiri," Luna berkata sambil memegang salah satu bagian bawah pada tubuhnya. "Apakah kamu tidak kesepian selama ini? Tak mungkin kita melakukan itu dengan zombie."

__ADS_1


"Itu ...." Bila ingin menjawab tidak, tetapi ia tak bisa mengucapkan jawabannya karena di dalam hatinya yang paling dalam dia merasa kesepian.


Melihat reaksi Bila yang ragu-ragu, sudut mulut Luna melengkung membentuk senyuman tipis. "Jadi, apa yang akan kita putuskan terhadap pria itu?"


"Bagaimana kalau kita dekati dia terlebih dahulu. Jika memang sikapnya menyebalkan, kita bunuh saja dia," kata Bila dengan entengnya.


"Setidaknya, siksa dia terlebih dahulu, atau nikmati tubuhnya, aku benar-benar ingin merasakan milik pria itu." Wanita yang punya mata kantung panda ini tampak sangat aneh, dia menggerakkan tangannya sambil berkomunikasi dengan Bila.


Bila memutarkan matanya dan membalas, "Ya-ya, terserahmu saja. Intinya, kita tak akan membiarkan pria mendominasi wanita lagi, seperti visi kita, yaitu menjadi yang terkuat."


"Oke!


Pada saat ini di kamar, Elvino menemukan wanitanya masih tidur nyenyak di atas kasur dengan wajah yang bahagia.


Tanpa berlama lagi, undian yang telah ia dapatkan dari membunuh seribu monster digunakan mumpung masih ada waktu santai.


Beberapa menit kemudian, Elvino berdiri di lemari yang terdapat cermin rusak untuk melihat penampakan tubuhnya saat ini.


[High Elf (SR): Memberi tuan rumah tubuh penuh pesona dan umur panjang 1.000 tahun.]


Satu peran telah Elvino dapatkan, tetapi peran ini bukanlah peran untuk bertarung, melainkan menambah penampilan dan umurnya.


Di kaca cermin yang terbelah, sesosok wajah pria yang tampan dan menawan muncul dengan senyuman.


Elvino mengangguk sangat puas dengan penampilan wajahnya sekarang, benar-benar ditingkatkan dari tampan menjadi sangat tampan. Di seluruh bagian wajahnya bisa dikatakan hampir sempurna tanpa cacat. Jika wajahnya sekarang ditempatkan di Bumi yang damai, dia mungkin telah menjadi artis dan orang tertampan di dunia.


Ketika telinganya diruncingkan, Elvino terlihat seperti seorang pangeran elf yang sangat tampan, calon pewaris kerajaan.


Namun, telinganya tidak akan Elvino ubah menjadi runcing karena dia ingin tetap menjadi seorang manusia.


[Glock 17 (R) : Pistol tangan yang dapat memuat 17 butir peluru 9 mm, mampu membunuh zombie level 1 dengan mudah jika mengenai kepala.]


"Yo, Mamarika?"


Menatap pistol di tangannya, pandangan Elvino agak kurang menyukai senjata yang ia dapatkan dari undian acak.


Melihat keterangan pada layar mengambang yang ada di depannya, pistol ini cukup bagus, tetapi terbatas karena hanya ada 17 butir di magasinnya.


Baginya, senjata api ini cukup ampas karena hanya bisa membunuh zombie level 1 dalam satu kali tembakan, itu pun harus mengenai kepala. Selain dari kepala, membutuhkan lebih dari satu kali tembakan.


"Senjata ini sangat tidak cocok untukku, bukan tipeku."


Elvino memutuskan untuk tidak memakai senjata api ini.


Menoleh ke arah para wanitanya, Elvino memiliki ide untuk memberikan pistol ini ke salah satu dari mereka.

__ADS_1


Melihat matahari masih belum muncul, Elvino memutuskan untuk istirahat sejenak di balik pintu.


Waktu berjalan bagai air sungai yang mengalir, langit gelap berubah menjadi terang dengan cahaya matahari yang hangat.


Di dalam kamar, Elvino terbangun oleh sentuhan lembut yang dapat ia rasakan di bagian pipinya.


Saat dia membuka matanya, dia melihat empat wanita sedang duduk manis di depannya sambil menampilkan senyuman.


Elvino melihat Lusi duduk di sebelahnya sembari mencium pipinya dengan manja.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Elvino yang setengah sadar.


Lusi terkejut setelah melihat Elvino yang terbangun, kemudian dia bangkit dan berlari ke belakang barisan keempat wanita dengan wajah yang merah.


"Aku sedang memeriksa wajahmu, barusan ada serangga yang hinggap di sana," jawab Lusi yang bersembunyi di balik tubuh Mika.


Mendengar jawaban Lusi, Elvino menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Jadi, kamu memakan serangganya?"


"Tidak, bukan begitu maksudku." Lusi menggelengkan kepalanya dengan cepat dan masih memerah karena malu.


"Hahaha."


Kana dan lainnya tertawa karena ucapan Lusi dan Elvino.


Lusi yang malu seketika menggembungkan pipinya karena kesal.


"Sudah pagi, kita makan dahulu sebelum pergi ke gedung tujuan kita." Elvino bangun dari duduknya dan berdiri di depan mereka berlima.


Semua wanitanya pun ikut berdiri sambil memandang sosok Elvino dengan tatapan yang lembut.


Peristiwa semalam mengubah mereka menjadi wanita yang pengertian.


Ketika sarapan pagi dilakukan, Mika yang lebih dewasa menawarkan diri untuk menyuapi Elvino.


Tentu, Elvino menerima perlakuan ini dengan senang hati.


Namun, setelah Mika menawarkan seperti itu, Bulan dan Kana juga ikut menawarkan jasa melakukan sesuatu untuk Elvino.


Hanya Cinta dan Lusi saja yang makan pagi tanpa melayani Elvino bagai seorang raja.


'Sial, aku juga mau dipeluk sambil makan seperti itu oleh Elvino,' gumam Lusi di dalam hatinya. Dia melirik Bulan yang dipeluk oleh Elvino sambil sarapan dengan pandangan yang kurang senang.


Sementara itu, Cinta fokus pada makanannya karena dia sangat lapar. Semalam tenaganya benar-benar terkuras habis.


Cinta memandang Elvino diam-diam, dan senyuman penuh kebahagiaan muncul di mulutnya.

__ADS_1


[Harem Party: Semua anggota Harem Party akan patuh dan setia kepada tuan rumah tanpa syarat.]


__ADS_2