Pria Terakhir Di Dunia

Pria Terakhir Di Dunia
Bab 29: Wanita Gigih


__ADS_3

Bulan bergerak cepat dan mengambil satu pakaian yang selalu dia simpan di dalam tasnya.


Bersama dengan Mika, mereka berdua membantu wanita ini mengenakan pakaian.


Anehnya, tubuh wanita ini tidak terluka, cuma ada beberapa kotoran yang menempel di kakinya.


Kotoran tanah dan debu itu bisa dibersihkan oleh Mika menggunakan air mineral sehingga wanita ini bisa dikenakan pakaian.


Setelah melihat wanita ini telah memakai baju dan tak lagi menampilkan dua buah bola besar itu.


Elvino segera membawa wanita ini pergi dari ruang toilet bersama ketujuh wanitanya.


Masih di lantai yang sama, mereka akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas dan ada kasur yang sedikit kotor, aman dari zombie dan ancaman lainnya.


Wanita yang tidak sadarkan diri ini dibaringkan oleh Elvino dengan hati-hati, kemudian dia berdiri di tengah barisan wanitanya sambil menatap kondisi tubuh wanita ini lebih jelas.


"Siapa wanita ini?" celetuk Lusi yang penasaran.


Bahu Elvino tersentak dan memiringkan kepalanya, dan dia berkata, "Entah, aku saja tidak tahu."


"Kemungkinan besar dia adalah orang yang ada di kartu identitas," ujar Cinta yang masih ingat dengan kartu identitas.


Mendengar ucapan Cinta, mereka semua menjadi sadar dengan wanita yang ada di kartu identitas itu.


Namun, setelah mereka periksa, di kartu identitas ini tidak ada sebuah gambar atau foto dari identitas yang dijabarkan.


Hal ini membuat mereka ragu tentang identitas wanita ini.


"Sebaiknya, kita tunggu dahulu wanita ini siuman dan nanti kita tanya tentang identitas sebenarnya," Bulan memberi usulan yang mudah disetujui orang.


Dengan usulan Bulan, mereka semua setuju dan siap menunggu wanita yang mereka temui sampai sadar.


Langit yang berwarna oranye menjadi redup hingga akhirnya gelap dan hanya ada cahaya remang dari Bulan.


Mereka telah menunggu wanita ini berjam-jam. Setelah 4 jam menunggu hingga langit menjadi malam, wanita yang mereka tunggu akhirnya terbangun.


Dengan cekatan, Mika dan Cinta membantu wanita ini bangun dan membuat kondisinya membaik dari kondisi pingsan.


Elvino mengeluarkan beberapa botol air minum untuk mereka semua dan berbagai makanan yang telah dibungkus.


Waktu makan malam sudah tiba. Sambil mereka membantu wanita ini kembali membaik, mereka juga makan dan mengisi perut mereka yang kosong.


Terlihat dengan jelas dari tatapan wanita ini, dia memang sedang bingung. Matanya melirik sosok Elvino beberapa saat, dan dia langsung mengalihkan pandangan ke arah lain dengan pipi yang sedikit memerah.


Dilihat dari kondisi tubuhnya yang sekarang. Wanita ini memang terlihat agak kurus, sama kondisinya seperti saat Lusi ditemukan oleh Elvino.


Akan tetapi, wanita ini lebih parah dari Lusi.


Sekarang tubuh Lusi agak berisi dan kondisi kesehatannya sudah lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Beres makan malam, Cinta dan Bulan mencoba lebih dekat dengan wanita ini dan menciptakan perasaan yang nyaman.


Usaha keduanya berhasil lantaran mereka juga sama-sama seorang wanita.


Hal itu membuat mereka bisa berkomunikasi dan berinteraksi. Dengan begitu, mereka sudah mulai bisa melakukan interogasi lebih lanjut.


"Bisakah kamu memberi tahu namamu?" tanya Bulan dengan suara yang ramah.


Dengan pandangan yang menunduk, wanita tersebut menjawab, "Namaku Jesika. Terima kasih sudah menolongku sebelumnya."


"Sama-sama."


Semuanya merespons hampir bersamaan, termasuk Elvino sendiri.


Mendengar jawaban wanita itu juga, mereka menjadi lega karena kartu identitas yang mereka temui merupakan milik Jesika.


Elvino mengambil kartu identitas dari gelangnya dan menyerahkannya kepada Cinta.


Setelah mengambil ini, Cinta menatap Jesika dan kembali bertanya, "Apakah ini milikmu?"


"Benar! Ini punyaku."


Jesika yang melihat kartu identitas di tangan Cinta segera mengaku sebagai pemilik kartu identitasnya.


Dengan izin Cinta, kartu itu diambil oleh Jesika dan dia pegang dengan erat.


Jesika menerima permintaan keduanya, tetapi sebelum menceritakannya, dia mengambil napas dalam-dalam untuk membuat pernapasannya stabil.


"Aku berasal dari sebuah pemukiman penduduk yang ada di Jakarta Utara. Niatku untuk mengembara keluar adalah ingin pergi ke gedung perusahaan Frans untuk mengambil sesuatu yang penting bagiku. Dengan tujuan itu aku benar-benar keluar dan berjalan belasan kilometer dari pemukiman.


"Dengan perbekalan yang aku bawa, ternyata itu tidak cukup karena aku sering terjebak dan dilihat oleh banyak zombie di luar sehingga aku kerap bersembunyi dan menetap di suatu tempat di tengah perjalanan.


"Makin lama persediaan makanan yang aku bawa makin sedikit. Pada akhirnya, sebelum aku sampai di gedung ini, perbekalan yang aku bawa habis.


"Hampir dua hari aku tidak makan. Untungnya, aku menemukan tempat perbelanjaan yang di mana masih ada banyak makanan kaleng untuk dimakan. Sayangnya, makanan itu habis lagi sebelum bisa sampai di gedung ini. Supaya aku bisa mencapai gedung ini, aku memutuskan untuk meninggalkan barang-barangku agar tidak berat dalam berlari dan kabur, hanya membawa kartu ini di tanganku.


"Rencana itu berhasil, tetapi sesampainya di sini kemarin, aku dikejar oleh Zombie Level dua, yaitu Jumper Zombie. Aku terjebak di toilet selama satu hari. Terima kasih, aku berhasil diselamatkan oleh kalian di sini."


Cerita Jesika Yuni ini penuh perjuangan hanya demi sampai ke gedung Frans yang tak ada orang sama sekali.


Ternyata butuh banyak pengorbanan ke sini, dan tekad Jesika bisa dikatakan sangat tangguh.


Tak disangka wanita ini sangat pemberani.


Wanita lainnya sangat tersentuh mendengar cerita Jesika yang sangat bersusah payah demi mencapai tujuannya ke sini.


"Lantas, kamu sudah mendapatkan sesuatu yang berharga itu?"


"Tidak. Benda itu hilang." Wajah Jesika menjadi muram dan mendung dengan mata yang memerah.

__ADS_1


Dengan simpati dan empati yang tinggi, Cinta dan Bulan mencoba menenangkan diri Jesika agar tidak menangis.


Usaha mereka berhasil dan interogasi bisa dilanjutkan kembali.


Dengan wajah yang penuh kehati-hatian, Bulan melontarkan pertanyaan, "Benda apa yang sebenarnya kamu cari?"


"Itu sebuah foto keluarga yang aku simpan di meja kerja milikku. Namun, foto itu menghilang dan tidak ada bangkainya," jawab Jesika dengan cepat.


Memindai respons Jesika, Elvino mengetahui bahwa Jesika tidak berbohong.


Sulit untuk orang merencanakan jawaban secepat mungkin, terlebih kondisinya setelah bangun dari pingsan.


Interogasi terus dilakukan hingga beberapa pertanyaan berhasil dijawab oleh Jesika dengan lancar.


Jesika adalah seorang pegawai atau karyawan di perusahaan ini yang mengelola pemasaran. Posisinya ada di bawah, jabatannya masih karyawan biasa.


Akan tetapi, wajahnya yang cantik kerap menjadi sasaran atasan.


Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Jesika tidak naik jabatan setelah 3 tahun lamanya mengabdi di perusahaan Frans.


Ada beberapa orang yang menghalangi Jesika dan mereka memiliki posisi yang kuat.


"Setelah ini, kamu ingin ke mana?" tanya Mika yang antusias mendengarkan ucapan Jesika.


Jesika menanggapi pertanyaan Mika dengan gelengan kepala. "Aku tidak tahu. Aku sudah tidak punya apa-apa. Tidak ada tujuan setelah aku tiba di sini."


"Bagaimana kalau kamu ikut kami?" ajak Kana dengan senyuman yang ramah dan lembut.


Mendengar ini mata Jesika menjadi cerah, seolah semangat di tubuhnya terisi kembali. "Aku mau!"


"Namun, kamu harus bicara dengan ketua tim kita, yaitu Elvino." Kana menunjuk Elvino yang berdiri di dekat jendela memandang kota di malam hari yang gelap.


"Um, aku malu."


"Tak perlu malu." Bulan tiba-tiba menarik pelan Jesika dan membawanya ke Elvino. "Sayang, Jesika ingin bergabung dengan tim kita."


Wajah Jesika menjadi salah mendengar panggilan Elvino yang diucapkan oleh Bulan.


"Boleh." Elvino membalikkan badannya dan menghadap Jesika secara langsung.


Wajah tampan dan tubuh kuat itu dapat dilihat dari dekat oleh Jesika, membuat tubuh Jesika menjadi panas.


"Kamu ingin bergabung dengan kami?"


"I–iya, aku ingin." Jesika memandang ke bawah dan tak berani melihat langsung wajah Elvino.


"Kalau begitu, buka bajumu," kata Elvino dengan santai tanpa merasa berdosa.


"Eh?"

__ADS_1


__ADS_2