
"Jangan pakai sembarangan karena peluru pistol ini hanya ada tujuh belas butir. Aku tidak memiliki cadangan peluru."
Elvino memberikan pistol Glock 17 miliknya kepada Cinta lantaran wanita yang lain tidak layak menggunakan senjata api.
Tak layak yang dimaksud adalah mereka tidak memiliki pengalaman dalam memegang sebuah pistol dan senjata api lainnya. Hanya Cinta yang pernah menggunakan pistol sehingga Elvino memberinya pistol tersebut.
Cinta mengangguk mengerti, dan menatap Elvino dengan tatapan yang cerah.
Di dalam hatinya, Cinta merasa sangat bahagia, Elvino memberinya kepercayaan untuk memegang barang penting, artinya Elvino tidak meragukan cinta dan kasih sayangnya.
Meskipun tatapan matanya terlihat cerah, Cinta tetaplah Cinta yang memiliki penampilan agak dingin dan cuek. Wajahnya sulit untuk memperlihatkan ekspresinya ketika senang. Wanita ini memang kaku.
"Aku mengerti," ucap Cinta sambil menyimpan pistol di kantung saku celananya.
Celana yang dikenakan Cinta begitu banyak, biasa disebut celana kargo, sering digunakan oleh para militer dan anak pendaki.
"Ayo pergi!"
"Ya!"
Setelah memberikan pistol tersebut kepada Cinta, Elvino mengajak yang lainnya untuk berjalan menuju tujuan utama mereka, yakni gedung tinggi yang bernama gedung Franz.
Seingat Elvino, tidak ada gedung ini di dunia sebelumnya, kota Jakarta yang Elvino sekarang lihat berbeda dengan yang ada di Bumi. Selain gedung ini, ada beberapa gedung lain yang tidak seharusnya berdiri di dunia ini.
Setelah tiga jam berlalu, mereka sampai di sebuah gedung yang ada di seberang jalan dari gedung Frans yang besar.
Keluar dari sini mereka langsung bisa pergi ke gedung utama yang mereka tuju.
"Benar-benar terasa seperti sedang di dunia lain," gumam Elvino yang bersandar di jendela melihat pemandangan gedung rusak di luar.
Di belakang Elvino, ada lima wanita cantik yang sedang duduk dan berdiri sambil menyantap makanan di tangannya.
Mendengar ucapan Elvino yang pelan, mereka menoleh untuk melihat Elvino yang sedang asyik menatap pemandangan.
__ADS_1
"Memang, tampilan kota ini sangat berbeda dari sebelumnya. Jalan yang dahulunya ramai dilalui banyak kendaraan, kini hanya diisi oleh tanaman rumput dan lumut, juga mobil-mobil yang rusak karena terjebak saat hari pertama kekacauan datang," ucap Bulan sembari mendekati Elvino.
Bulan berdiri di samping Elvino untuk ikut memandangi panorama di luar gedung.
Perlahan Bulan menyandarkan kepalanya ke bahu Elvino sambil mengunyah burger.
Memalingkan wajahnya untuk melihat Bulan, Elvino kembali bertanya, "Apakah kamu melihat bagaimana kekacauan di hari terjadinya zombie-zombie menginvasi kota?"
Dengan cepat Bulan merespons dan mengangguk kejam, kemudian dia menjawab, "Ya, tentu saja. Pada saat itu, aku sedang pulang dari kuliah, di jalanan yang ramai tampak kondusif tiba-tiba menjadi kacau oleh teriakan dan jeritan, diiringi oleh bunyi klakson mobil dan kendaraan lainnya yang memekakkan telinga.
"Aku melihat dengan jelas beberapa zombie berjalan menggerogoti beberapa orang yang keluar dari mobil dan berlari di jalanan. Darah dan daging berceceran di jalan, korban makin banyak seiring detik berlalu. Pemandangan itu sangat mengerikan.
"Untungnya, aku ingat dengan daerah dekat kampus sehingga aku bisa lolos dari hari di mana zombie-zombie mulai bermunculan. Di hari itu juga, aku merasa sangat panik dan cemas. Pasalnya, aku sama sekali tidak menemukan satu orang di daerah kampus setelah keributan yang terjadi. Hari-hari berikutnya, aku benar-benar sendiri, bertahan sendirian."
Bulan menerangkan bagaimana menakutkannya kejadian di hari pertama zombie menyerang. Hari yang damai berubah menjadi neraka bagi orang-orang. Zombie mulai menginfeksi dan terus menumbangkan banyak manusia.
Selama Elvino mendengar cerita Bulan, dia membayangkan kejadian sesuai dengan situasi yang diceritakan oleh Bulan.
Bisa dikatakan, Bulan sangat beruntung, dari banyaknya zombie yang berdatangan, Bulan tidak menjadi target penyerangan zombie sehingga dia bisa lolos di kondisi jalan yang begitu ricuh.
Elvino sadar dengan ucapan Bulan, dia awalnya sendirian dalam bertahan hidup di dunia yang hancur ini, tetapi sekarang dia telah hidup bersama dengan Kana dan Mika.
"Dikarenakan pemukiman," kata Bulan menelan gigitan burger terakhir lalu melanjutkan, "aku bertemu dengan Kana dan Mika di pemukiman. Aku bisa ke pemukiman karena aku bertemu salah satu orang yang tinggal di pemukiman satu tahun yang lebih yang lalu."
Tiba-tiba, Elvino merasa dirinya sedang dipeluk dan melihat ada Kana yang memeluknya dengan erat dari belakang.
"Benar, aku bertemu Bulan di pemukiman. Saat itu, dia terlihat sangat kumuh, sekarang dia sangat cantik," ucap Kana dengan suara yang lembut mengonfirmasi pernyataan Bulan.
Mendengar perkataan Kana, Bulan menjadi malu, dan dia menepuk pelan tubuh Kana yang berdiri di belakang Elvino.
Berikutnya, Mika datang ke sisi lain Elvino, dengan tenang mengambil dagu Elvino dan mencium bibir bawah Elvino penuh perhatian.
"Selain Bulan, kami berdua melihat secara langsung betapa berantakannya hari itu. Dari banyaknya teman di tempat kerja, hanya kita berdua yang sempat melarikan diri," tambah Mika sambil tersenyum setelah mencium mesra Elvino.
__ADS_1
Elvino mendengar baik-baik ucapan mereka semua yang menceritakan hari pertama zombie berdatangan.
Ternyata Cinta juga punya pengalaman yang mengerikan di hari yang sama, hanya Lusi yang tidak keluar dan memilih untuk diam di hotel selama berlangsungnya kehancuran di hari itu.
Tidak ada satu pun cerita yang mereka beri tahu kepada Elvino tidak terdengar mengerikan. Semua cerita pengalaman mereka begitu menyeramkan dan membuat Elvino merasa ngeri.
Jika di Bumi tempatnya berasal seperti itu, mungkin dia tidak akan seberuntung wanita-wanita ini, dan tak pasti bisa hidup selama tiga tahun lamanya pasca kekacauan tanpa ada sistem.
"Pada waktu itu, seluruh kota terdengar ramai, bahkan jalan raya yang hanya terdengar suara klakson menjadi ramai seolah sedang diselenggarakan aksi demo—"
Tepat ketika Lusi melanjutkan ceritanya, tiba-tiba kalimatnya terputus karena sesuatu yang aneh masuk ke dalam bidang penglihatannya di luar jendela.
"Apa itu?!"
Dalam sekejap, mereka semua melihat dua sosok manusia yang sedang berjalan di jalanan yang sepi di bawahnya.
Elvino yang melihat ini segera menyuruh mereka menunduk sambil menutupi mulut Lusi yang berteriak.
Sayangnya, dua sosok tersebut sempat melihat Elvino yang menyuruh Lusi untuk menunduk di jendela, dan kedua orang itu berlari menuju gedung sebelah.
Melihat ini, Elvino tampak kecewa, kemudian dia memandang Lusi tanpa daya.
"Kalian tunggu di sini, aku akan memeriksa orang itu."
Begitu Elvino ingin bergegas keluar ruangan tempat mereka beristirahat, tangannya digenggam oleh Bulan. "Jangan, kita harus bersama."
"Kenapa? Mereka berdua orang jahat?" tanya Elvino merasa heran.
Bulan menoleh ke arah Mika dan Kana, kemudian menatap Elvino kembali lalu menjawab,"Ya, seragam yang orang itu kenakan berasal dari suatu kelompok berbahaya."
"*******?"
"Bukan." Mika menggelengkan kepalanya dengan wajah serius. "Tulisan Man dicoret silang yang tercetak di seragam mereka adalah tanda bahwa mereka termasuk anggota kelompok Femihunt."
__ADS_1
Ekspresi Elvino terlihat terkejut. "Femihunt?"
"Benar, kelompok wanita yang memiliki tujuan untuk membasmi kaum pria di dunia ini."