
Setelah Elvino lihat-lihat lagi, memang benar kondisi kartu identitas ini masih terawat dan bagus, tidak seperti kartu yang sudah tua dan banyak memiliki goresan karena tertimpa atau terkena benda luar.
Dengan keadaan kartu identitas seperti ini bisa diasumsikan bahwa pemilik kartu identitas ini masih hidup, atau memang sengaja meninggalkan ini sebelum dia pergi jauh.
Menyentuh dagunya, ekspresi wajah Elvino tampak bingung, dan dia termangu sambil berpikir kejadian apa yang telah terjadi sebelumnya.
"Jesika Yuni, seorang pekerja kantor di perusahaan Frans?" Lusi membaca kartu yang ada di tangan Elvino.
Mendengar ucapan Lusi, semuanya menjadi sadar dengan suatu hal.
Cinta tiba-tiba menatap tajam ke kartu identitas tersebut dan membaca kembali identitas yang tercetak di kartu tersebut.
"Kartu identitas ini bukan kartu identitas dari negara kita, melainkan kartu identitas dari karyawan perusahaan Frans," ujar Cinta dengan mata yang menyipit menatap kartu tersebut.
"Benar. " Elvino mengangguk membenarkan ucapan mereka berdua. "Namun, setelah menjelajah di beberapa lantai, hanya di lantai lima ini yang berhasil kita temui kartu identitas. Ada hal yang aneh dengan lantai ini."
Apa yang dikatakan oleh Elvino memang terdengar masuk akal. Pasti ada sesuatu yang tidak biasa di lantai 5 ini dan itu penting.
Bulan menatap Elvino dan memberi usulan.
"Bagaimana kalau kita kembali memeriksa semua ruangan di lantai ini?"
"Benar, aku setuju dengan pendapat Bulan," tambah Kana sambil mengangguk.
Elvino melirik wanita yang lain untuk meminta tanggapan mereka terhadap usulan Bulan.
Lusi, Mika, Luna, Cinta, dan Bila ternyata setuju dengan usulan Bulan sehingga Elvino mengajak mereka untuk kembali berkeliling di sekitar lantai 5 untuk kedua kalinya.
Mereka melewati berbagai lorong dan ruangan, memeriksa satu per satu dengan jeli tanpa detail yang terlewat.
Sudah setengah lantai 5 telah Elvino dan wanitanya periksa dan tidak menemukan apa-apa selain beberapa zombie level 2 dan 1 yang menyerang.
Sayang sekali, mereka tidak ada apa-apanya di bawah kekuatan Elvino.
Brak!
Kepala Walker Zombie didorong ke tembok hingga pecah bak melon yang dihimpit oleh mesin jepit raksasa.
Darah menyembur seluruh jari tangan Elvino dan membuat tangannya menjadi merah karena darah.
"Tolong beri aku kain lap."
"Ini, Sayang."
Luna berjalan menghampiri Elvino untuk menyerahkan kain yang diminta.
Tepat ketika Elvino ingin mengambil kain untuk mengelap dari Luna, tiba-tiba Luna menampar tangan Elvino dan dia secara mendadak mengelap tangan berdarah milik Elvino penuh kehati-hatian.
Melihat wajah Elvino yang sedikit terkejut, Luna tersenyum dan berkata, "Biar aku saja, Sayang."
__ADS_1
"Terima kasih, Pandaku," kata Elvino yang merasa sangat senang dengan pelayanan Luna.
Lusi yang mendengar ini hampir saja muntah karena mendengar ucapan keduanya yang penuh kengerian. Dia muntah bukan karena darah zombie yang bau.
Sementara itu, semua wanita yang lain ingin sekali dipanggil seperti oleh Elvino.
Wanita yang cuek dan berkelas seperti Cinta saja punya keinginan memiliki panggilan khusus dari Elvino seperti Luna.
Setelah tangannya bersih dengan darah, Luna membuang kain robek yang digunakan untuk menyeka dan membersihkan sesuatu ke sembarang arah.
Setelahnya, Elvino dan yang lain kembali menjelajah semua ruangan di lantai 5 ini sampai tuntas.
Baru saja Elvino ingin bergerak meninggalkan mayat zombie tanpa kepala di lorong, dari telinganya dia mendengar sebuah suara yang mencurigakan.
Kresek!
"Suara apa itu?" Lusi mendengar suara ini juga dan di bertanya ke yang lainnya.
Semua orang juga tidak tahu dan menggelengkan kepalanya.
Cinta dan semua wanita langsung memasang kewaspadaan diri yang tinggi dan telinga dengan baik.
Pada saat semua wanita Elvino bertanya-tanya, Elvino sudah menemukan arah dari suara itu berasal.
Elvino memandang semua wanitanya dan berkata dengan suara yang pelan, "Ikuti aku dan jangan tertinggal."
Semua respons wanitanya sangat kompak dan mereka mendengar perintah Elvino yang mutlak menurut mereka sendiri.
Mereka semua perlahan mengikuti Elvino melangkah dan bergerak.
Tampak jelas mereka semua berhati-hati dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara yang bising agar suara yang mencurigakan tersebut hilang.
Arah ke mana Elvino melangkah adalah ke sebuah toilet umum khusus karyawan.
Namun, tepat ketika mereka ingin membuka salah satu ruangan toilet, yakni toilet wanita, tiba-tiba saja sebuah bayangan meluncur cepat dari ujung salah satu lorong lantai yang terdapat ruang komputer dan toilet.
Dengan refleks yang sangat cepat, Elvino mengeluarkan pedang panjangnya, dan menebas ke arah bayangan yang melintas dari arah samping kanannya.
Klang! Crack!!
Suara seperti benda yang patah dan hancur berkeping-keping terdengar di lorong.
Setelah suara itu, lorong kembali sunyi seakan semuanya telah membeku.
Kraah!
Keheningan menghilang seketika setelah sebuah suara mengerikan muncul secara mendadak.
Di bawah pandangan Elvino dan wanitanya, mereka melihat terdapat sesosok zombie yang terbaring lemah di depan mereka dengan tubuh yang hampir terpotong menjadi dua.
__ADS_1
Hal yang membuat zombie ini mengerikan adalah kedua tangannya tampaknya hancur.
Jari-jarinya mengeluarkan banyak darah dan itu terus mengalir keluar membasahi seluruh tangannya.
"Jumper Zombie," kata Cinta setelah melihat sosok zombie tersebut di depannya.
Elvino menarik alisnya ke atas dan bertanya, "Zombie level dua?"
"Benar," jawab Cinta dengan cepat. "Mereka menyerang kamu dengan cakar panjang yang ada di kedua tangannya. Sayang sekali, mangsanya adalah kamu. Pada akhirnya, dia mati karena salah menjadikan seseorang sebagai mangsa."
"Sangat disayangkan."
Elvino menggelengkan kepalanya dengan sedih, kemudian sebuah cahaya biru menyala di lorong dan zombie yang sekarat itu mati menjadi bubur daging.
Setelah mengatasi zombie yang menyerang tiba-tiba itu, Elvino fokus kembali ke pintu toilet khusus wanita.
Di dalam sana masih terdengar jelas suara yang mencurigakan tersebut.
"Mundurlah, ini akan mengejutkan."
Elvino memberi instruksi kepada mereka semua untuk mundur beberapa langkah dan menjauh.
Sesuai dengan ucapan Elvino mereka semua mundur dan melakukan ancang-ancang jika terjadi sesuatu.
Setelah melihat semuanya mengikuti arahannya, Elvino menatap pintu toilet dengan tatapan yang dalam.
Perlahan Elvino mengangkat tangannya dan mulai mengepal kencang, kemudian dia melemparkan kepalannya ke arah pintu.
"Ini tidak terkunci."
Elvino mendorong pintu toilet dan ternyata sama sekali tidak terkunci.
Sebenarnya bukan tidak terkunci, melainkan pintu toilet terlepas dari engselnya.
Tepat ketika pintu itu terbuka, sesosok makhluk tiba-tiba melompat keluar ke arah Elvino dari dalam ruangan.
Elvino tidak sempat menghindar serangan makhluk ini karena dia berada di dekat pintu sambil memegang pintu yang besar di tangannya.
Semua wanita Elvino memejamkan matanya karena takut, sedangkan Elvino memalingkan wajahnya karena terkejut telah melihat sesuatu.
"Tolong aku ...."
Sebuah suara wanita yang lemah terdengar di telinga semua wanita Elvino, dan saat mereka membuka matanya, mereka melihat seorang wanita yang tidak mengenakan pakaian apa pun memeluk Elvino dengan pasrah.
Sesudah kata-kata itu keluar, wanita yang memeluk tubuh Elvino hendak jatuh ke bawah.
Tangan kiri Elvino menopang tubuh wanita itu dan menahannya agar tidak terjatuh.
"Tolong berikan aku pakaian untuk wanita ini."
__ADS_1