
Hari Selasa, waktu pulang sekolah, sebelum pulang sekolah setiap siswa/i, di wajibkan melakukan piket kelas nya masing-masing. Dan hari itu adalah hari piketnya Vrilia, setiap piket ia selalu menutup jendela, bagi ia lebih mudah menutup jendela bagian kanan daripada jendela bagian kiri. Karna jendela di bagian kiri terlalu tinggi sedangkan yang bagian kanan pas tinggi nya dengan Lia, sehingga setiap piket kelas Lia selalu minta tolong teman yang ada di dekat jendela bagian kiri buat nutup jendelanya atau menaiki kursi buat nutup jendela nya.
Sekarang Guru udah keluar kelas, waktunya laksana kan piket.
"okee jendela bagian kanan udah, sekarang yang bagian kiri lagii, mana tinggi lagi dan juga itu barisan tempat duduk si dia ihh malas bat" gumam Vrilia.
"misi, tolong tutupin jendela nya" ucap Lia meminta tolong teman nya buat nutupin jendela itu.
"okee udah" saut Vina.
"Okee makasih" Jawab Lia.
Kini jendela bagian Andi. Andi hanya melihatnya sekilas tanpa mempedulikan nya.
"Andi tolong tutupin" ucap Lia.
Andi masih duduk di kursi nya tanpa peduli dengan orang yang ngajak nya bicara. Vrilia pun merasa kesal dan pergi ke kursi lain buat nutup jendela yang lain, alhasil dia hanya bisa naikin kursi lain buat nutup jendela yang didepan meja Andi.
"Cepatt geser" ucap Vrilia kesal, karna daritadi Andi masih duduk di kursi sambil ngikat sepatu. Kebetulan jendela nya ada di samping kursi Andi dan belum ditutup.
"Sabar bahh" saut Andi.
"Yaudah awas-awas" Vrilia mendorong Andi sedikit agar bisa memberi ruang di kursi, supaya Lia bisa nginjak kursi buat nutup jendela.
"ihh cewek ni memang" ucap Andi geram.
Sebelumnya kalau ngak Lia yang nutup jendela ya Andi yang inisiatif bantu nutupin tapi hari itu justru Andi sengaja membuat Lia kesal.
--ooo--
1 minggu sebelumnya.
"Andi tolong tutupin" ucap Lia meminta tolong.
"Andi cwe diii" ucap Dean mengejek.
Andi pun langsung menutup jendela di samping nya karna jendela sebelah kiri pas tinggi nya dengan Andi.
"oke makasihh" ucap Lia langsung pergi.
--ooo--
2 minggu sebelumnya.
__ADS_1
"Malas bat ngeliat tu orang, dasar buaya darat." Gumam Vrilia kesal.
Lia pun pergi ke samping beberapa kursi dan meja buat jengkek kan kakinya berharap tangan nya bisa sampai ke jendela, karna ga mungkin juga Lia langsung injak kursi yang lain, karna mereka masih duduk disitu, mau minta tolong juga gaenak karna mereka masih ada yang lagi beresin buku.
Di bagian meja Andi.
"Ihh ni jendela tinggi amat, tangan ngak sampai astaga" Gumam Lia.
Alhasil Andi yang lagi di belakang Lia ulurin tangan nya buat bantu Lia nutupin Jendela.
"Okee makasih" ucap Lia setelah itu ia langsung pergi.
--ooo--
Sepulang sekolah, setelah Lia sampai di rumah, karna pulang sekolah ia dijemput, beberapa menit kemudian pun muncul notif di HP Lia.
On chat WA:
Andi stress: Nutup jendela pun gak sampai (emot tertawa)
"Nii manusia memang yaa mentang-mentang tinggi" ucap Lia kesal.
Vrilia: idih itu mah, jendela nya yang ketinggian.
Andi Stress: ngak itu memang kau yang pendek.
Lia hanya bisa tertawa bahagia, iya dia tau dia pendek tapi jangan gitu juga, Andi hanya bisa bikin kesal.
--ooo--
Kini sekolah mereka masih melakukan tatap muka.Tapi sekarang harus membatasi murid di setiap kelas menjadi beberapa ruangan, Guru membagi murid di setiap kelas 20 an orang.
Hari Rabu, Lia pergi ikut Gisa dan Kerrin ke perpustakaan buat ambil buku pelajaran bahasa Inggris dan kamus nya. Karna mayan banyak buku yang mau diambil sekitar 20 an untuk buku pelajaran+kamusnya.
"Lia yok ambil buku" ajak Gisa.
"Gak ah capek" tolak Lia.
"Iya bantu bawain mayan banyak juga tu" tambah Kerrin.
"Oh iyalah yaudah ayo" Lia pergi seraya mengikuti mereka.
"Astaga tu manusia juga ambil buku" Gumam Vrilia dalam hatinya.
__ADS_1
Di lorong kelas, terlihat juga Andi dan teman nya kebetulan ngambil buku juga buat ruangan mereka, jadi Vrilia dan Andi beda ruang ya, meski mereka 1 kelas. Andi melirik nya sekilas, Vrilia hanya bisa membuang muka ke arah lain.
Setiba nya di perpus, ternyata Perpus belum di buka, karna Ibu Pustakawan nya lagi di kantor guru. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya ada yang datang membawa kunci, dan Ibu perpus nya nyusul jalan dibelakang.
Pintu udah dibuka, Gisa dan Kerrin bergegas ngambil buku pelajaran yang lumayan banyak, sedangkan Lia sibuk mengambil beberapa kamus sambil membantu Gisa menghitung buku paket bahasa Inggris yang diperlukan untuk kelas.
Ternyata Buku nya lumayang banyak dan berat untuk mereka bawa, ya ga mungkin juga Lia yang bawa semuanya kan, dengan badan nya yang pendek bisa-bisa yang ada jatuh nantinya, karna buku yang dibawa Gisa dan Kerrin bisa dibilang udah penuh ditangan nya gak mungkin nambah lagi, alhasil Bu perpus malah bilang.
"Yaudah salah satu ada yang bantuin juga bawa nya, gausah banyak-banyak bawa buku berat" ucap Ibu perpus.
Dan Andi nawarin diri buat bantu.
"Sini" Andi menawarkan diri.
"Oh yaudah inii" Lia memberi tumpukan buku yang banyak.
Gisa dan Kerrin malah ninggalin Lia dengan Andi entah apa maksud mereka, jalan mereka juga jalannya cepat kayak memang sengaja buat ninggalin Lia dan Andi berduaan.
Sementara Vrilia dan Andi jalan nya barengan, tapi Lia rada kayak jaga jarak dengan Andi, jadi Andi ngikutin Lia dari belakang. Lia menghentikan langkah nya, karna mereka buku yang ia bawa terlalu berat. Andi melihatnya.
"Sinii, beratkah?" Andi ingin membantu.
Lia Menganggukan kepala nya sekilas, dan memberikan beberapa buku pada Andi. Sejujurnya di samping itu Lia merasa iri dengan Andi yang badannya tinggi, tapi apa daya udah nasib punya badan pendek :).
Mereka kembali berjalan melewati beberapa ruang kelas, dan jadi tontonan publik. Setelah sampai diruang 1 tempat Lia, Andi menaruh buku kamus itu di atas meja, setelah itu ia kembali ke ruangan nya lagi.
"Ehh Andii, bantu cewe nya hahaha" ucap beberapa orang yang ada di ruangan Lia.
--ooo--
Sepulang sekolah, seperti biasa setelah Lia mandi dan makan, Andi selalu mengechat nya di WA, setiap pulang sekolah pasti ada notif dari nya.
On chat WA:
Andi: kau setinggi leherku tadi wkwk
Vrilia: hahh?kau ukur? sok tinggi bat kau yaa _^
Andi: yaa kau pendek tadi aku ukur dengan tinggi ku, tinggian aku.
Vrilia: halah, itu mah kau nya yang ketinggian bukan aku yang pendek yaa. Aku tuh tinggi.
Andi: tinggian aku si.
__ADS_1
Vrilia: setinggi tiang listrik pun bangga.
Andi: iyaa memang tinggi.