Private Love

Private Love
AV. 15 (Ketahuan?)


__ADS_3

Setelah Vrilia berpacaran dengan Andi selama 2 minggu.


Di Rumah Vrilia


"Apa ni? " tanya Papa marah sambil menunjukkan HP Vrilia.


"kau pacaran dengan teman sekelas, sekolah dulu yang benar, sukses dulu kau." bentak Papa.


(Vrilia hanya bisa diam sambil menangis)


"Napa kau pacaran? " tanya Papa marah


"Susah hidupmu kak kalau dah pacaran tu" ucap Mama Vrilia ikut mengomeli.


"Liat adek mu tu, gaada mereka aneh-aneh" ucap Papa.


"Kau malah kayak gitu, nanti kalau dia apa-apa kan kau gimana hah? " ucap Mama Vrilia marah.


"Gausah ngemis-ngemis perhatian dengan cowo Lia" ucap mama.


"Maaf" ucap Vrilia sambil menangis.


"Dahh usah kitak terlalu di marahkan dia, kasian dia" ucap nenek melerai Papa Vrilia ngomong.


"telfon cowo nya ni ma" ucap Papa marah.


Papa menelfon diluar, Vrilia hanya bisa menangis memikir kan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Untung nya di rumah ada nenek, jadi situasi masih bisa dikendalikan.


"besok hari jumat, Papa ketemu dengan cowo mu tu" ucap Papa marah besar.


"awas jak kalau ndak ketemu" ucap Papa marah.


"Kita jak ndak pernah peduli dengan ku, wajar aku dekat dengan cowo, yang kitak pentingkan hanya peringkat" gumam Vrilia sambil menangis.


Nenek mengajak Vrilia ke kamarnya, agar Papa Lia gak marah lagi dengan Lia.


"udah gausah nangis lagi tidur dulu yok nong tidur siang" ucap nenek berbicara pelan pada Vrilia, ia tak tega melihat cucu nya menangis.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, Lia bangun dari tidur nya, tubuhnya seperti terasa sakit semua, ia demam, kepalanya pusing, rasa nya habis dipukul dengan sesuatu yang sangat berat.


"Andi maaf" gumam Lia.


"Liaa makan lagi" ajak Nenek.


"Ndak nek, aku ndak lapar" Ucap Vrilia, mata nya masih membengkak karna menangis seharian, ia pun mengompres mata nya dengan es batu.


"Makan lagi, nanti sakit kau susah mama" ucap Mama Vrilia.


(Lia mengangguk diam)

__ADS_1


Setelah makan, tiba-tiba saja badan Vrilia terasa sakit sekujur tubuhnya, badan nya sangat panas.


Vrilia pun segera mencari obat di rak obat milik mama nya, lalu meminum nya.


"Andi maaf" gumam Vrilia dari tadi dia hanya bisa mengatakan ini, karna ia sendiri juga gak bisa ngehubungin Andi untuk sekarang.


"Badan ku sakit semua, ya Tuhan" ucap Vrilia


Vrilia benar-benar merasa dada nya sesak, ia pun secepatnya kembali ke kamar ia takut berpapasan dengan Papa nya, karna pasti Papa nya belum maafin dia.


--ooo--


Besoknya.


saat berangkat ke sekolah.


"sekolah kah ndak? " tanya Papa Vrilia.


"sekolah" ucap Vrilia ia takut.


Di sekolah.


"Mana cowo mu tu? " tanya Papa Vrilia dengan sangat marah.


"Nda tau" ucap Vrilia ia menangis lagi.


"Manaa dia? " tanya Papa Vrilia di depan gerbang sekolah.


"Tanya teman mu mana dia" ucap Papa Vrilia marah.


"ndak tau Lia, aku baru datang" jawab Ivana.


beberapa saat kemudian, Andi turun dari lapangan atas ke gerbang, ia tau Papa Vrilia mencari nya, usai berbicara di telpon kemarin dengan nya.


"mana diaa" tanya Papa Vrilia.


"ini kah dia" tanya Papa Vrilia marah.


(Vrilia hanya bisa mengangguk sambil menangis)


Vrilia melihat tatapan Andi, ia tau apa yang Andi pikirkan. Andi hanya bisa menatap Vrilia dari jauh.


" kau yaa pacaran pacaran, mau ngasi anak orang apa kau, sukses dulu, liat saya sekarang dah sukses, baru berkeluarga " ucap Papa Vrilia marah ia menarik kerah Andi dan mendorong nya.


"kau tau kan siapa saya?"


"tau Pak Kapus" saut Andi.


"Maaf Pak" jawab Andi.


Di satu sisi Andi tidak peduli pada dirinya, ia hanya tidak tega melihat Vrilia dimarah kan dan dibentak Papa nya didepan umum.

__ADS_1


"Lagi kau? gausah lagi berhubungan kalian ya dengar"


"Mulai sekarang gausah berhubungan lagi, awas nanti saya dengar masih berhubungan"


"Gausah olok-olok, saya bisa cari kau, jadi awas kalau masih" ucap Papa Vrilia marah besar.


setelah beberapa lama, Papa Vrilia memarahi mereka berdua di depan umum, Lia langsung pergi ke perpustakaan dengan Nia dan Gina yang nemanin dia.


Di beberapa jalan, ada yang membicarakan tentang Papa Vrilia yang marah-marah di sekolah. Lia hanya bisa menahan sakit yang ia rasakan, apalagi saat itu ia sedang demam.


Di lorong jalan kelas, masih banyak yang membicarakan tentang Vrilia. Bahkan ada yang mengatakan...


"Dia yang kena marah, kita juga yang kena apa lah"


(karna Papa Vrilia juga sempat mengomeli mereka yang ada di gerbang agar jangan berpacaran)


" masih kecil bah, gausah pacaran wkwk"


Di perpustakaan


Lia takut kembali ke kelas waktu itu jam pelajaran belum dimulai, karna itu ia meminta Nia dan Gina menemani ia ke perpus.


"kau ndak pintar main Lia" ucap Nia.


"Coba kau tu pandak-pandai sembunyikan nya" ucap Gina.


"kita tau ndak apa yang ku rasa sekarang ni, sakit tolong berhenti ngomong" ucap Vrilia menangis.


Beberapa saat kemudian, Kepala sekolah meminta agar murid kelas 9 berkumpul dan baris di lapangan, karna ada yang ingin di sampaikan atas kejadian Vrilia dan Andi tadi, karna ini juga jadi masalah sekolah, sebab orang tua murid ada yang marah, padahal sebelumnya gaada tuh larangan pacaran.


Setelah baris, mereka yang berpacaran diminta untuk maju ke depan. Ya Andi maju dulu di ikuti Lia di belakang nya, Lia berjalan dengan menundukkan kepala nya, dia masih menangis saat itu.


"Adohaii Andi gebetan mu tinggi sekali" ucap kepala sekolah.


"Lia juga kena astaga" ucap beberapa Guru.


setelah berbicara tentang masalah Pacaran di usia dini. Mereka yang berpacaran disuruh masuk ke ruangan dan bertemu dengan Guru BK dan Guru Agama.


"Napa mata nya merah semua ni lagi nangis kah? " tanya Ibu Guru BK.


Padahal jelas-jelas waktu itu hanya Vrilia yang menangis, maksud Guru BK nanya gitu buat apa? buat permalukan Lia? nyindir Lia? Guru BK iya tapi kenapa gak paham dengan yang sekarang di alami muridnya, sejak kejadian itu Lia yang dulunya selalu ngehargai dan senang dengan kehadiran Guru BK merasa sakit atas perkataan Guru BK.


"Siapa yang duluan buat masalah ni tadi? " tanya Guru BK.


"Papa Vrilia" saut murid laki-laki.


Vrilia duduk di kursi bagian pojokan ia takut melihat orang-orang setelah apa yang terjadi menimpa dirinya.


"Gausah pacaran dulu ya anak-anak, suka itu wajar dan normal ya, udah pemberian dari Tuhan buat suka dengan lawan jenis" ucap Guru Agama menenangkan.


"Kalau suka pendam aja dulu, pas dah sukses kalau memang jodoh gapapa, liat tu Pak Yosi udah berapa tahun umurnya sekitar 30 tahun, belum nikah tu" ucap Guru Agama menambahkan.

__ADS_1


Setelah mendengar perkataan Guru Agama, akhirnya hati Vrilia mulai tenang. Setelah beberapa menit berbicara akhirnya mereka diperbolehkan kembali ke ruangan masing-masing, Lia hanya berjalan sendirian, ia melihat Andi dari jauh, ia merasa pasti sekarang Andi sangat benci pada nya.


Hari itu bagi Vrilia, adalah hari yang paling sakit, gaada yang peduli padanya, yang ada hanya ucapan sakit dari orang-orang.


__ADS_2