
"Qais!"
"Qais!"
"Qais, liat sebelah sini!"
"Qais, aku mau jadi pacar kamu!"
Begitulah teriakan para gadis SMA Taruna Jaya saat sebuah motor memasuki halaman sekolah. Motor sport berwarna hitam kombinasi merah itu meraung-raung dengan gaharnya menuju tempat parkir.
Itulah Qais Muhammad, siswa populer yg jadi idola di sekolah itu. Banyak gadis yg bermimpi bisa dekat dengan Qais walau hanya jadi tukang bawa tas sekolah atau tukang mengerjakan tugas sekolahnya. Semua itu hanya dengan harapan agar mereka bisa dekat dengan Qais, bahkan mungkin menjadi kekasihnya.
Bagaimana tidak, Qais adalah putra tunggal seorang pengusaha batu bara. Kekayaannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Selain itu, Qais juga memiliki paras yg tampan. Ibunya orang Arab asli, dan ayahnya adalah orang Aceh, membuat Qais memiliki paras yg sangat rupawan. Tubuh tinggi warisan Sang Kakek pun membuat ketampanan Qais semakin sempurna.
Di tempat parkir, sudah ada 4 orang temannya yg menunggu Qais. Aditya, Fadil, Gilang, Haris, dan Naura, yg juga merupakan anak-anak dari konglomerat kawan ayah Qais.
__ADS_1
"Baru datang?" sapa Aditya. Qais hanya diam sambil turun dari motornya dan melepas helm
"Qais, hari ini kita nonton yuk. Ada film bagus loh di bioskop. Lagipula kita juga kan udah lama nggak jalan-jalan." kata Naura dengan nada manja. Naura memang sudah lama berharap bisa menjadi kekasih Qais. Tapi Qais tidak pernah mempedulikannya
Lagi-lagi Qais hanya diam.
"Aku lagi males. Kalo mau nonton, ajak aja Gilang. Dia kan juga udah lama gak jalan sama kamu." jawab Qais. Qais tau bahwa sejak lama Gilang menyukai Naura, tapi gadis itu lebih suka mengejar Qais yg tidak mempedulikannya
"Tapi aku maunya nonton sama kamu" kata Naura sembari memegang stang motor Qais. Spontan Qais memukul tangan Naura agar dia tak menyentuh motornya
"Aku kan cuman megang, lagipula gak lecet kan?" elak Naura
"Tetep aja gak boleh. Kalo nanti motor aku rusak, gimana?" kata Qais
"Udahlah Ra, emangnya kamu gak tau betapa berharganya motor ini buat Qais? Cuman Qais yg boleh menyentuhnya, bahkan mama dan papanya pun gak boleh menyentuhnya, apalagi kamu" kata Aditya
__ADS_1
Naura hanya menghela nafas tanda kesal.
"Udahlah, ayo masuk kelas. Udah mau masuk jam pelajaran" kata Haris
Mereka pun berlalu menuju kelas. Baru beberapa langkah mereka berjalan, seorang gadis berlari dengan tergopoh-gopoh mengejar mereka
"Qais, boleh aku bawakan tas kamu?" kata Nisa. Gadis itu memang biasa membawakan tas atau buku milik Qais. tujuannya hanya satu, apalagi kalau bukan untuk menarik perhatian Qais
"Hari ini tas aku gak berat, aku bawa sendiri aja" jawab Qais menolak. Nisa terlihat kecewa dengan jawaban Qais. Qais menyadari hal itu, dia pun mencoba menghibur Nisa
"Aku cuman kuatir kamu capek karna tiap hari bawain tas aku. Tapi kalo emang mau bawain tas, bawain aja tasnya Naura. Tasnya kelihatan berat, kasihan nanti kukunya patah kalo ngangkat tasnya." kata Qais sembari tersenyum sinis. Naura melotot melihat Qais
"Naura, boleh aku bawain tas kamu?" kata Nisa
Naura awalnya merasa enggan, tapi akhirnya dia setuju memberikan tasnya pada Nisa
__ADS_1
Mereka pun akhirnya masuk ke kelas