
Hari ketiga.....
Qais mendekati Lila yg duduk sendirian di bangkunya. Hari ini dia sengaja datang lebih awal untuk berbicara dengan Lila.
Lila memang selalu datang ke sekolah pagi-pagi agar bisa belajar, karena dia tidak punya kesempatan belajar saat di rumah selepas pulang kerja.
Lila memperhatikan gerak-gerik Qais yg mendekatinya dengan pelan-pelan. Lantas duduk di kursi di depan tempat duduk Lila. Qais memperhatikan Lila tanpa berkata-kata. Dia nampak ragu untuk bicara dengannya. Sedang Lila nampak tak mempedulikannya.
"Ehm....... La...." katanya ragu-ragu
Lila masih diam tanpa mempedulikan Qais.
"Lila..." panggilnya lagi.
"Kamu lagi apa?" tanyanya kemudian
Lila masih tidak berkata apapun.
"Kamu lagi baca buku ya? Buku apa?" tanya Qais lagi.
Lila memandang Qais sekilas, kemudian kembali membaca buku lagi.
"Apa kamu masih marah sama aku gara-gara tadi malam?"
Lila mulai kesal mendengar Qais. Dia lantas menutup bukunya lalu menatap lekat pada Qais.
"Bukannya kemarin aku udah bilang sama kamu untuk nggak bicara sama aku lagi?" kata Lila dengan nada agak tinggi.
Qais menatap Lila. Dia masih tidak mengerti kenapa Lila begitu emosi hanya karena dia melontarkan pertanyaan sederhana.
"Apa kamu masih marah?" tanya Qais lagi.
"Apa sih sebenarnya mau kamu?" tanya Lila kesal.
"Aku cuma mau bisa ngobrol sama kamu. Dan kalo mungkin, bisa jadi teman kamu." jawab Qais.
__ADS_1
Lila tertawa kecil, seolah merasa lucu yg bercampur ironi.
"Teman?" nada suara Lila seperti mengejek.
"Untuk apa?" tanya Lila.
"Untuk apa?" Qais balik bertanya karena bingung.
"Iya. Untuk apa kamu mau berteman sama orang miskin kayak aku? Bukankah aku nggak selevel sama kamu dan teman-teman kamu yg anak orang kaya itu? Apa kamu nggak akan menjatuhkan martabat kamu kalo kamu berteman sama aku?" dera Lila.
Qais makin bingung dengan sikap Lila.
"Ada apa sebenernya antara kamu sama orang-orang kaya?" tanya Qais.
"Kenapa kamu sepertinya sangat membenci orang kaya? Apa yg udah mereka lakukan sama kamu sampai kamu begitu membenci mereka?" tanyanya lagi.
Lila menatap Qais dengan pandangan marah bercampur bingung. Dia tidak tau harus bicara apa.
"Kamu...." Lila kehilangan kata-kata saat dia melihat beberapa siswa masuk ke ruang kelas.
Lila akhirnya memutuskan tidak mempedulikan kata-kata Qais dan kembali duduk di mejanya. Tidak lama kemudian bel berbunyi tanda pelajaran akan dimulai.
Lila bersiap pergi ke tempat kerjanya saat dia melihat Qais duduk di depan kelas. Dia enggan mempedulikan Qais dan bergegas pergi.
Melihat Lila berlalu pergi, Qais mengikutinya sambil memanggil namanya.
"La, seenggaknya satu kali aja peduliin aku!" Qais agak berteriak kali ini karena mulai merasa kesal terus diabaikan Lila.
Lila berhenti lalu berbalik melihat Qais. Dia menatap Qais dengan kesal lalu berkata.
"Kamu mau apa sih? Bukannya aku udah bilang untuk gak ganggu aku lagi?" kata Lila.
"Aku tau. Dan aku mau minta maaf kalo aku udah ganggu kamu. Tapi aku nggak ada niat buruk. Aku cuma mau berteman sama kamu. Itu aja. Apa aku nggak boleh berteman sama kamu?" kata Qais berusaha membujuk Lila.
Lila menatap Qais dengan tatapan penuh curiga dan masih kesal.
__ADS_1
"Kamu bilang kamu mau temenan sama aku?" tanya Lila.
Qais mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Apa hal itu mungkin?" tanya Lila kemudian.
Qais bingung dengan pertanyaan Lila.
"Apanya yang nggak mungkin?" tanya Qais balik.
"Iya, apa mungkin orang kaya seperti kamu, bisa berteman dengan orang dari kalangan bawah seperti aku tanpa ada tujuan lain?" tanya Lila.
"Emangnya kenapa nggak mungkin? Contohnya aku. Aku pengen berteman sama kamu. Tanpa embel-embel apapun. Cuman temen." Qais mencoba merayu Lila.
Lila tersenyum masam pada Qais.
"Apa kamu pikir aku nggak tau apa rencana kamu?" kata Lila ketus.
"Apa maksud kamu?" tanya Qais mulai panik karena dia pikir Lila tau perihal taruhannya dengan teman-temannya.
"Aku tau kenapa kamu pengen berteman sama aku." kata Lila lagi.
"Kenapa?" Qais makin panik.
"Kamu pengen jadi teman aku, supaya kamu bisa jadiin aku pesuruh kayak cewek-cewek lain di sekolah ini yg selalu mengerubuti kamu kan? Supaya kamu bisa manfaatin aku sesuai kemauan kamu kan?" kata Lila menjelaskan.
Qais agak lega karena ternyata Lila tidak tau soal taruhan itu.
"Bukan begitu, La. Aku nggak punya niat kayak gitu sama kamu. Seriusan, aku cuman pengen temenan aja sama kamu. Cuman pengen Deket sama kamu. Ga lebih." elak Qais.
"Maaf, tapi aku nggak tertarik." kata Lila kemudian berlalu pergi meninggalkan Qais.
Qais berniat mengikuti Lila saat tiba-tiba tangannya ditarik oleh Naura yg mencoba menghentikannya.
"Udahlah, Qais. Kamu ngapain juga sih ngurusin cewek itu mulu? Udah lupain aja dia. Mendingan sekarang kita jalan yuk. Temen-temen yang lain juga udah pada nunggu." kata Naura sambil menarik tangan Qais.
__ADS_1
"Eh, tapi, Ra..."
"Udah, ayo! Kamu bisa ngurus cewek itu lagi nanti" kata Naura sambil masih menggelendeng tangan Qais.