
Siang itu saat nongkrong, teman-teman Qais mulai menanyainya tentang perkembangan taruhannya.
"Gimana, Is? Kamu udah bisa menaklukkan gadis itu?" tanya Fadil.
Qais hanya melirik Fadil sinis tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Aduh, udah deh. Kenapa juga kamu musti bahas gadis itu sekarang? Sekarang itu waktunya kita untuk senang-senang." sela Naura.
"Gadis itu masih mengabaikan kamu?" tanya Fadil lagi.
Qais masih diam.
"Sepertinya taruhan ini akan aku menangkan dengan mudah." kata Fadil percaya diri.
"Enggak mungkin." potong Naura.
"Aku yakin Qais pasti akan memenangkan taruhan ini. Liat aja. Lagi pula tenggat waktunya juga masih lama kan? Ini baru 3 hari. Masih ada 27 hari lagi. Jadi tenang aja." lanjutnya.
"Apa gadis itu memang sesulit itu didekati?" tanya Gilang lalu.
"Dia mengabaikan Qais dan bahkan mengusirnya keluar dari tempat makan tempatnya bekerja." jawab Aditya.
"Ini aneh." kata Qais agak bergumam.
"Biasanya gadis mana pun akan mendekat sendiri setelah tau latar belakang keluargaku. Tapi gadis ini......" kata-kata Qais terhenti. Sepertinya dia memikirkan sesuatu.
"Dia mengatakan anak orang kaya seperti kalian memang suka melakukan hal yang tidak berguna dan memanfaatkan orang kurang mampu." gumamnya lagi.
"Tapi siapa yg dia maksud "kalian"? Apa yg membuatnya begitu membenci orang-orang kaya? Padahal selama ini aku nggak pernah kurang ajar sama dia." Qais menggigit bibirnya dan berusaha berpikir keras.
__ADS_1
"Qais?" tegur Aditya.
"Kamu nggak apa-apa?" katanya lagi.
Qais tidak menjawab sepatah kata pun. Dia lantas mengambil tasnya lalu berlalu pergi meninggalkan teman-temannya.
"Kamu mau kemana, Qais?" tegur Naura, tapi Qais tidak mempedulikan pertanyaannya.
Fadil memandangi Qais yg menjauh, dia merasa ada yg berbeda dari Qais.
Sementara itu, di tempat kerja Lila.
Lila dan 3 orang teman kerjanya sedang agak kerepotan melayani pelanggan yg ramai. Kebetulan hari itu ada pekerja salah satu pabrik di dekat rumah makan itu yg sedang mengadakan syukuran dan mentraktir teman-temannya makan di situ.
Tepat pukul 6 sore, suasana rumah makan sudah agak sepi. Hanya tersisa 5-6 orang yg masih menikmati makanan. Saat membereskan meja-meja, tiba-tiba Lila melihat sesosok pemuda berdiri di seberang jalan sedang memperhatikannya. Pemuda dengan perawakan tinggi tegap, dengan wajah yg sangat dikenalnya.
Itu Qais!
"Kamu kenapa, La?" tanya Andri. Rupanya sudah sejak beberapa lama Andri melihat Lila terpaku menatap keluar.
Lila tidak menjawab pertanyaan Andri dan masih terpaku melihat Qais yg berdiri di luar. Karena penasaran, Andri pun akhirnya melihat ke arah Lila menatap.
"Pemuda itu lagi?" kata Andri.
"Mau apa lagi dia ke sini?" lanjutnya. Lila menggeleng.
"Liat aja, kali ini aku akan kasih dia pelajaran supaya dia nggak lagi berani untuk mendekati kamu." kata Andri seraya beranjak. Tapi Lila menahan tangannya dan mencegahnya.
"Nggak usah, kak. Biarin aja. Lagian dia juga nggak ngapa-ngapain." bujuk Lila.
__ADS_1
"Aku mau lanjut beres-beres dulu di belakang." kata Lila sembari berlalu meninggalkan Andri yg masih beradu pandangan dengan Qais.
Tepat pukul 8 malam, rumah makan tutup. Para pekerja sudah bersiap untuk pulang. Lila terbiasa pulang sendiri karena memang jarak rumah dan tempat kerjanya tidak terlampau jauh. Selain itu memang Lila tidak punya kendaraan sendiri, dan angkutan umum sudah tidak lewat jalan itu setelah pukul 6 sore.
Di tengah perjalanan, Lila merasa ada yg mengikutinya. Dia mempercepat langkahnya, tapi orang di belakangnya juga mengikutinya mempercepat langkah.
Lila berbelok ke kanan, dia juga belok ke kanan. Lila belok ke kiri, dia juga ikut belok ke kiri.
Merasa kesal, Lila akhirnya memutuskan untuk berhenti dan melihat siapa yg mengikutinya.
"Kamu?" kata Lila kesal setelah tau bahwa yg mengikutinya adalah Qais.
"Ngapain kamu ngikutin aku dari tadi?" tanyanya.
"Akhirnya kamu sadar juga kalo aku dari tadi ngikutin kamu." kata Qais.
"Kamu udah menguntit aku sejak aku di tempat kerja kan?" kata Lila.
"Sebenarnya apa sih tujuan kamu?" tanya Lila.
"Aku cuma pengen ngobrol sama kamu." jawab Qais.
Lila menghela nafas dalam, lalu menatap Qais dengan tatapan kesal yg bercampur lelah.
"Kamu tau, aku mulai bosan sama permainan ini. Tiap kali kamu selalu bilang pengen ngobrol. Tapi aku tau bahwa nggak ada satu pun dari apa yg kamu omongin itu penting buat aku." kata Lila.
"Dari mana kamu tau yg aku omongin itu penting atau enggak, kalo kamu bahkan belum mendengarnya?" tanya Qais.
"Dengar, aku capek. Dan aku nggak mau berdebat sama kamu. Jadi aku mohon, tolong tinggalin aku sendiri." kata Lila sambil mengatupkan tangannya sebagai isyarat permohonan.
__ADS_1
"Aku nggak mau. Aku nggak akan pergi sampai kamu setuju ngobrol sama aku." kata Qais bersikukuh.