
Hari itu, adalah siang yg biasa di SMA Taruna Jaya. Para siswa dan Guru pengajar sedang menikmati waktu istirahat di kantin di sela-sela jam pelajaran. Seperti biasa juga, para siswa masih setia mengerumuni Qais dan teman-temannya.
Qais sibuk membaca buku, sementara Naura sibuk berswafoto. Haris, Gilang, dan Aditya sedang menyusun rencana untuk berfutsal akhir Minggu ini. Dan Fadil sepertinya sedang memperhatikan sesuatu di ponselnya. Tiba-tiba seorang gadis mendekati Qais sambil memegang sesuatu
"Qais." ujar gadis itu ragu-ragu
Qais menutup bukunya lalu menatap ke gadis yg berdiri di depannya. Gadis itu mengulurkan sesuatu yg digenggamnya. Ternyata itu adalah undangan.
"Akhir minggu ini aku mau ngadain pesta ulang tahunku. Aku mau kamu datang." kata gadis itu
Qais melihat sejenak undangan itu tanpa berkata apa-apa
"Aku berharap banget kamu bisa datang, Qais" kata gadis itu penuh harap
Qais memperhatikan wajah gadis itu. Wajahnya penuh harap. Qais tak tega melihatnya. Dia pun mengambil undangan itu
"Oke. Aku akan usahain datang" kata Qais sembari tersenyum. Gadis itu pun terlihat sangat bahagia mendengar ucapan Qais
__ADS_1
"Apa cuma aku aja yg diundang?" tanya Qais
Gadis itu terlihat agak bingung
"Apa teman-teman yang lain nggak diundang juga?" lanjut Qais. Gadis itu pun mulai paham
"Oh, iya. Teman-teman yang lain juga diundang kok. Nanti aku juga mau nyebarin undangannya. Tapi, undangan ini yg pertama, khusus buat kamu." jawab gadis itu. Qais tersenyum
"Oke, makasih ya. Aku akan usahakan bisa datang."
"Makasih ya, Qais." gadis itu tersenyum penuh semangat kemudian berlalu pergi
"Dia selalu dikelilingi banyak gadis yg akan rela melakukan apapun demi dia." lanjutnya
"Iya. Kalo kita, jangankan dikerumuni gadis-gadis. Selama masih ada Qais, dilirik aja enggak" jawab Gilang
"Ya beda lah bro. Qais itu kan istimewa. Siapa pun yg dia mau, bakal langsung dia dapatkan tanpa harus meminta. Tinggal tunjuk aja." sambung Haris
__ADS_1
"Iya. Mau berapa banyak pun juga bisa." sahut Aditya
"Semua itu biasa aja" kata Fadil tiba-tiba
"Semua gadis itu emang tipikal cewek yg akan rela berbuat apa aja demi bisa dekat sama Qais. Gak ada tantangannya" sambung Fadil
"Maksud kamu, Fadil?" tanya Naura
"Iya. Semua gadis yg kalian maksudkan tadi adalah gadis yg emang sejak awal silau sama status sosial Qais. Mereka emang sejak lama berharap bisa ada di samping Qais. Jadi kalo ngedapetin mereka, gak ada tantangannya. Karna sejak awal mereka emang udah nunggu untuk dipilih Qais" jelas Fadil
Mereka semua terdiam
"Kalo emang mau dibilang penakluk gadis, coba taklukkan gadis itu" kata Fadil sembari menunjuk gadis yg duduk di bangku pojokan kantin, yg sedang sibuk membaca sambil menyalin pelajaran di buku tugas
"Itu Lila, kan?" kata Naura
Fadil menunjukkan ekspresi wajah seolah mengiyakan
__ADS_1
"Lila adalah satu-satunya gadis, bahkan satu-satunya orang di sekolah ini yg nggak sibuk mengejar ataupun mendekati Qais. Dia dikenal sebagai gadis yg sinis, ambisius, dan bagi sebagian orang, cukup kasar. Jadi, mendekati dia adalah sebuah tantangan." kata Fadil
"Kalo Qais bisa menaklukkan dia, maka dia baru bisa disebut penakluk hati para gadis." kata Fadil