
Siang harinya.....
Seperti biasa, sepulang sekolah Lila akan langsung menuju tempatnya bekerja paruh waktu. Pemilik kedai makanan itu kebetulan adalah teman Ibu Lila saat dulu masih bekerja di jasa laundry. Karena itu pemilik kedai mengizinkan Lila untuk ikut bekerja paruh waktu di sana.
Begitu sampai, Lila langsung mengganti bajunya dengan seragam tempat kerjanya. Pemilik kedai sangat menyukai Lila, karena meskipun masih sangat muda, tapi Lila sangat rajin dan juga gesit. Pelanggan kedai itu pun menyukai Lila karena Lila dikenal ramah.
Kebanyakan pengunjung kedai adalah pekerja pabrik atau kantor karena memang kebetulan kedai itu ada di kompleks perusahaan.
Seperti biasa, Lila selalu datang di saat jam kedai ramai karena pergantian shift pabrik dan jam pulang kantor. Lila pun langsung bergerak cepat melayani pelanggan bersama 3 orang karyawan lainnya, Mila, Andri, dan Dio.
Mencatat pesanan pelanggan, mengantar pesanan, dan membersihkan meja, sudah biasa Lila lakukan dengan cekatan.
Tidak terasa jarum jam sudah menunjuk ke angka 6. Para pelanggan yg mayoritas pekerja sudah mulai pergi. Hanya 1-2 orang pelanggan yg mampir. Bukan pelanggan tetap, hanya orang yg kebetulan mampir untuk mencari makan.
Di sela saat santainya, Mila menghampiri Lila dan membisikkan sesuatu
"La, ada cowok yg dari tadi ngeliatin kamu" kata Mila
Lila agak terkejut mendengar kata-kata Mila
"Siapa?" tanya Lila
"Gak tau. Tapi dari tadi sore sih aku perhatiin. Kalo nggak salah, dia dateng nggak lama setelah kamu datang" kata Mila lagi
Lila berniat menoleh dan melihatnya, tapi Mila mencegahnya
"Jangan diliat." kata Mila lantas memberikan sebuah cermin kecil pada Lila dan memberi isyarat agar Lila melihat pengunjung yg dimaksud lewat cermin itu.
__ADS_1
Lila memperhatikan orang yg dimaksud Mila dengan seksama. Sejurus kemudian, Lila mengenali wajah pemuda yg duduk di sudut kedai itu.
Itu Qais!
Lila tidak mengira pemuda itu bisa mengikutinya sampai ke sana. Entah apa tujuannya.
"Ngapain dia di sini?"gumam Lila
Dio lantas menoleh ke arah Lila
"Kamu kenal sama dia, La?" tanya Dio
Lila mengangguk
"Dia anak orang kaya yg aku ceritain sama kalian." jawab Lila
Lagi-lagi Lila hanya mengangguk
"Apa kamu mau kami negur dia biar dia pergi, La?" tanya Andri
"Nggak usah, Kak. Selagi dia gak ganggu, biarin aja di sana. Ntar juga pergi sendiri" kata Lila
Mereka bertiga mengiyakan kata-kata Lila
Lila terbiasa memanggil Mila, Andri, dan Dio "kakak" karena mereka memang berusia lebih tua dari Lila. Mereka bertiga sudah lulus sekolah. Andri sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi sambil bekerja. Mila sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Sementara Dio sebenarnya dulu pernah bekerja di pabrik. Tapi berhenti karena pengurangan pegawai.
Sementara itu, di sudut kedai itu, Qais masih duduk di sana. Menunggu Lila menghampirinya hanya untuk sekedar menyapanya, mengingat mereka adalah teman sekolah.
__ADS_1
Tapi harapan itu tak pernah terwujud karena Lila bahkan tidak memperhatikannya.
Sudah hampir waktunya tutup kedai, dan Qais masih duduk di sana tanpa ada tanda-tanda Lila akan menghampirinya.
Tiba-tiba, Andri datang dan menegur Qais agar pergi karena kedai akan ditutup. Qais pun pergi dengan kecewa karena hari itu berlalu tanpa hasil.
Tapi Qais tidak menyerah. Dia menunggu Lila di luar kedai dengan harapan bisa berbincang dengannya di luar.
Kedai sudah ditutup dan semua pegawai bersiap untuk pulang. Tiba-tiba Dio menghampiri Lila
"La, aku anterin kamu pulang ya." kata Dio menawarkan untuk mengantar Lila.
"Nggak usah, Kak. Aku pulang sendiri aja. Kan udah biasa juga." Lila menolak
"Hari ini aku anterin ya. Soalnya firasat aku nggak enak. Aku takut cowok tadi pasti akan berusaha untuk bisa nemuin kamu." bujuk Andri
"Tapi, Kak..." kata-kata Lila terpotong
"Udahlah, La. Andri bener. Kamu biar dianter sama Andri aja. Lagian,aku juga khawatir kamu kenapa-kenapa. Apalagi setelah ngeliat cowok tadi. Aku takut dia macem-macem sama kamu" kata Mila berusaha ikut membujuk Lila
"Bener, La. Lebih baik aman dari pada kenapa-kenapa, kan? Udah, kamu biar dianter aja sama Andri." bujuk Dio
Mendengar bujukan para "kakak"nya, Lila pun tak bisa menolak. Akhirnya dia setuju di antar oleh Andri
Sementara itu, di luar kedai, Qais masih menunggu Lila. Dia berharap bisa berbincang dengan Lila sambil berjalan. Tapi sejurus kemudian, harapan itu pupus ketika dia melihat Lila berboncengan dengan Andri.
Qais melihat mereka dengan perasaan kecewa bercampur kesal karena semua rencananya berantakan. Terlebih, dia sudah melewatkan satu hari taruhan tanpa kemajuan apapun.
__ADS_1
"Sia-sia aja aku nungguin dia di sini dari tadi." gumam Qais kesal