
#Prolog#
Perdikan Mangir adalah suatu wilayah istimewa di bawah kerajaan Majapahit. Pada masa itu Majapahit dipimpin oleh Prabu Brawijaya V / Prabu Brawijaya Pamungkas (terakhir).
Tanah perdikan Mangir berada di wilayah Bantul sekarang. Dipimpin oleh keturunan raja Majapahit yang berjuluk Ki Ageng Mangir II, yang mempunyai putra sakti mandraguna bernama Bagus Wanabaya, yang kemudian kelak di kemudian hari bergelar Ki Ageng Mangir III alias Ki Ageng Mangir Wonoboyo.
Kesaktian Bagus Wonoboyo inilah yang menggoyahkan hati Panembahan Senopati alias Danang Sutowijoyo, yang juga sedang giat giatnya membuka dan memajukan Tanah Perdikan Alas Mentaok atau Mataram, yang merupakan pemberian ayah angkatnya, yaitu Kanjeng Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir).
Lokasi tanah perdikan Mangir yang tidak jauh dari tanah perdikan Mentaok atau Mataram (sekarang Kota Gede) juga menjadi perhitungan tersendiri bagi Danang Sutowijoyo alias Panembahan Senopati. Dia tidak ingin ada matahari kembar dan kerikil tajam ke depannya yang bisa mengancam kedaulatan Mataram.
***
Dua orang berpakaian petani desa itu berjalan memasuki hutan yang berada di wilayah tanah perdikan Mangir. Akhir akhir ini, tanah perdikan Mangir memang ramai dikunjungi, bahkan banyak yang berbondong bondong pindah untuk menetap di Mangir.
Tak lama kemudian, kedua orang itu sampai ke tempat pembukaan lahan Mangir yang terus berlangsung.
"Kita sudah sampai paman" Seorang yang tampak lebih muda membuka percakapan sambil tetap menundukkan kepala.
"Benar Ngger, mari kita membaur dengan para pendatang itu" jawab yang lebih tua.
__ADS_1
Mereka pun membaur dengan para pendatang sambil terus mengawasi gerak gerik para lelaki yang bekerja menebang pohon untuk dijadikan lahan itu.
Tiba tiba, "Aaaa...anakkuuuuu" seorang wanita berteriak keras manakala dilihat anaknya yang berlari menuju bapaknya tepat di saat sebuah pohon besar tumbang.
Salah satu dari kedua orang asing tadi sigap akan berlari menolong anak kecil itu. "Tunggu Ngger, lihat ke sana" orang tua itu memberi isyarat utk berhenti dan menoleh ke arah yang ditunjuk.
"Dialah yang kau cari cari Ngger, Bagus Wonoboyo, putra Ki Ageng Mangir yang tersohor itu" berbisik si orang tua
Benar saja, tepat di saat yang genting itu, seorang pemuda tampan dan gagah perkasa, secepat kilat sudah berada di samping anak kecil itu.
Sementara tangan kanannya memegang lengan si bocah, sedang tangan kirinya menahan pohon besar itu. Semua yang melihat tercengang dan terpesona pada pemuda itu.
"Oh...i...iya..Raden, matur nuwun,...matur nuwun Den" sang ibu bocah itu pun berlari mengambil putranya sambil terus membungkuk memberi hormat.
Dengan senyum yang mengembang di bibirnya, Bagus Wonoboyo perlahan lahan meletakkan pohon besar itu ke tanah. Semua berdecak kagum, tak terkecuali kedua orang pendatang tadi.
"Luar biasa..." gumam si pendatang muda
"Cukup untuk hari ini Paman Juru, mari kita kembali" ajak si pendatang muda yang tak lain adalah Danang Sutowijoyo alias Panembahan Senopati sendiri.
__ADS_1
Dan tentu saja, orang tua yang di sampingnya adalah tangan kanannya, sekaligus penasehatnya, Ki Juru Martani. Mereka sedang menyamar untuk melihat sendiri perkembangan tanah perdikan Mangir.
Matahari semakin terik ketika Panembahan Senopati dan Ki Juru Martani melangkah meninggalkan kerumunan di Mangir itu menuju Mataram.
"Hmmm... kenapa Panembahan Senopati sendiri sampai datang kemari?" Gumam sesosok lelaki berwibawa yang sedari tadi melihat semua kejadian itu dari balik gubuk tak jauh dari situ.
Sutowijoyo tak mungkin turun tangan sendiri jika tidak ada yang penting. Apalagi sampai membawa serta Ki Juru Martani. Hmm.
Lelaki paruh baya itu tertegun sejenak. Lalu diambilnya cangkul yang sedari tadi hanya dipegangnya, urung bekerja di ladang. Lelaki itu kembali berjalan meninggalkan ladangnya.
****
Bersambung....
****
Hai para pembaca, semoga betah membacanya ya..., semoga kita bangga sebagai bangsa yang punya sejarah besar.
Mohon dukungan like vote dan ratingnya ya...biar terus semangaat menggalakkan literasi generasi muda.❤
__ADS_1