
❤ Halo readers..., selamat menikmati episode kali ini, semoga terhibur, jgn lupa like, komen and vote nya yaa...selamat beraktivitas di rumah dan tetap jaga kondisi... sehat selalu...aamiin ❤🔥
*****
Seseorang yang bersembunyi di semak semak itu berdecak kagum dengan kemampuan kedua lelaki yang sedang beradu ilmu kanuragan tingkat tinggi di hadapannya itu.
"Hm...luar biasa, siapa mereka sebenarnya, aku akan tunggu sesaat lagi, benar benar membuat penasaran"
"Aku tak akan membiarkanmu kali ini Kakang, berhati hatilah... *lena pangendhamu, tak prungges janggamu... hiaaaat" Ki Kundholo Yekti mengangkat tangan kanannya ke udara, tiba tiba muncul seberkas sinar kuning kemerahan di telapak tangannya.
Pelan tapi pasti, cahaya itu berubah bentuk menjadi sebilah keris yang terus berputar putar di atas telapak tangannya.
"Keris itu...benarkah ... itu keris cokro? apakah itu Ki Kundholo Yekti?" gumam seseorang yang bersembunyi di semak semak.
Deg...
"Dan...jangan jangan musuhnya itu ... romo...??? Kurang ajar, aku tak akan sungkan meremukkan batok kepalamu orang tua, jika sedikit saja romo terluka" tangan lelaki itu mengepal, mata elangnya tetap mengamati kedua orang yang sedang bertarung sengit itu.
Sementara itu, keris cokro sudah terlepas dari tangan Ki Kundholo Yekti, berputar melesat ke arah lawannya.
Ki Ageng Mangir sepuh yang terkesiap langsung salto ke udara dua kali.
"Hiaat...Hampir saja"
__ADS_1
Belum sampai Ki Ageng Mangir berdiri tegak, keris itu sudah berputar balik menyerangnya lagi.
Bajul buntung...!!! rupanya kau tak main main Dhimas. Geram Ki Ageng mengumpat dalam hati setelah berhasil mengelakkan serangan itu.
"Baiklah Dhimas, kau benar benar memaksaku" Ki Ageng Mangir bersila di atas rumpun bambu yang bergoyang diterpa angin malam.
Mata orang tua itu terpejam dan mulutnya komat kamit membaca mantra. Sejurus kemudian, tubuh Ki Ageng Mangir terangkat dan mengeluarkan sinar hijau yang semakin lama semakin tebal, menyelimuti tubuhnya, suara menderu dari sinar itu semakin kencang.
"Ajian Mendung Jalasutra??" Desis seseorang di balik semak semak yang tak lain adalah Bagus Wonoboyo.
Jantung Bagus Wonoboyo berdetak cepat, matanya nanar menatap ke depan.
"Jadi...romo... memiliki ajian itu?? Jagad Dewa Batara...!!!" desisnya.
Kembali ke medan laga, nampak Ki Kundholo Yekti yang masih memegang Keris Cokro di tangannya, terperangah melihat pemandangan di hadapannya. Takjub sesaat.
Dengan tegap berdiri, lelaki tua itu bersedekap dan memejamkan mata, sejurus kemudian kedua tangannya terangkat dan berubah menjadi bercahaya merah menyala.
Ya, itulah Ajian Geni Sumurup, ajian pamungkas Ki Kundholo Yekti yang belum pernah gagal menghancurkan musuhnya.
Angin pun menderu, pepohonan dan rumpun bambu di sekitar dua pendekar tua itu tampak bergerak kesana kemari disapu angin kencang dari kekuatan mereka berdua.
Zeeesssssssss.... wussss....
__ADS_1
Secepat kilat kedua orang itu melepaskan pukulan tenaga dalam yang langsung berbenturan.
Bummmm....glarrrr....
Suara yang memekakkan telinga itu tercipta entah berapa kali. Kedua orang tua itu sudah bergeser menjauh dengan saling serang. Tak ayal lagi, kebakaran pun terjadi di sekitar mereka
Bagus Wonoboyo pun masih setia dalam persembunyiannya.
"Mereka benar benar hebat, dengan tubuh yang tak muda lagi tapi lihatlah...betapa luar biasa"
Pertunjukan itu masih berlanjut, hingga keduanya tampak mulai kelelahan. Dan setelah lama, tanpa terduga oleh Bagus Wonoboyo, Keris Cokro tiba tiba melesat cepat ke arahnya.
"Romo...!!!"
Bagus Wonoboyo tak pelak langsung melesat menyongsong serangan Keris Kyai Cokro yang menurut perhitungannya tak mungkin bisa dielakkan oleh romonya itu.
Saat Bagus Wonoboyo melesat naik ke arah perkelahian itu, di tangan kanannya terpancar cahaya perak menyilaukan mata. Sesaat kemudian...
Blaarrrrr....
"Aaaarrrgghhh...."
Bersambung....
__ADS_1
***
* Lena pangendhamu tak prungges janggamu...(Lengah menghindar, ku tebas lehermu)