
Malam merambat naik saat Ki Ageng Mangir sepuh duduk di balai bambu rumahnya. Tangan kanannya memegang cerutu yang sudah dinyalakan. Tapi bukannya menghisap cerutu itu, Ki Ageng hanya membiarkannya saja. Bau asap menguar dari cerutu itu, membuat nyamuk nyamuk tidak berani mendekat.
Di depannya, di atas meja kecil secangkir kopi dan sepiring ketela rebus terhidang. Tak satu pun makanan itu disentuhnya.
Tatapan mata Ki Ageng menerawang jauh, menembus kegelapan malam. Suara jangkrik bersahutan dengan lolongan srigala serta kepak burung burung malam. Seakan menambah kesunyian dan kebekuan malam itu.
Sang Hyang Widhi...
Bila harus ada yang terjadi pada Mangir, ku mohon jagalah nama besar Mangir sebagai keturunan Wilwatikta yang agung. Restuilah babad Mangir ini...
Ki Ageng sepuh membuang nafasnya lalu mulai menghisap cerutunya yang tinggal separuh. Dihembuskannya asap cerutu itu pelan pelan.
Sementara itu, di pemondokan belakang tempat para pemuda Mangir yang bekerja pada Ki Ageng beristirahat, nampak dua orang pemuda masih terjaga. Mereka sedang berbicara serius.
"Den, sekarang semakin banyak orang yang berdatangan untuk menetap di Mangir. Ini tentu menggembirakan Raden." Si pemuda berkata pada pemuda yang dipanggilnya raden.
"Kau benar Darmo, itu tandanya mereka menyukai Mangir. Tapi tentu saja kita harus bekerja lebih keras lagi, untuk memakmurkan mereka, para warga Mangir." sang raden, yang tak lain adalah Bagus Wonoboyo, putra Ki Ageng Mangir sepuh yang sakti mandraguna itu, menjawab perkataan Darmo.
"Benar Den, karena mereka lebih memilih Mangir daripada Mataram raden." Darmo memberikan pendapatnya, Bagus Wonoboyo tersenyum.
"Jangan pernah membandingkan Darmo, nanti kita akan lelah sendiri, karena iri dengan Mataram. Dan ingat, kita bukan musuh Mataram" Bagus Wonoboyo menekankan kalimatnya.
"Den, semua orang tau tentang Mangir dan Mataram, kenapa raden selalu mengatakan Mataram bukan musuh kita?" Darmo mulai tidak sabar
__ADS_1
"Coba raden ingat ingat, berapa kali orang yang akan pindah ke Mangir selalu diganggu oleh prajurit prajurit Mataram? apa itu tidak cukup raden" Darmo
Bagus Wonoboyo menghela nafas, dia tidak ingin menjawab perkataan Darmo. Dalam hati dia pun membenarkan perkataan Darmo itu.
Sejak kapan Senopati begitu membenci Mangir. Sebagai keturunan Majapahit, aku tidak ingin membuat permusuhan yang tidak perlu. Tapi aku juga tidak akan menghindar jika dia benar benar menyerbu Mangir.
Hening. Tak ada suara yang terdengar dari keduanya. Keduanya larut dalam pikirannya masing masing.
Tiba tiba, dengan gerakan yang lembut hampir tak terlihat, Bagus Wonoboyo menyentuh bahu Darmo, sekejap kemudian Darmo terkulai di tangan Bagus Wonoboyo.
"Sebaiknya kau tidak melihat yang mungkin terjadi di sini Darmo." Bagus Wonoboyo perlahan meletakkan tubuh temannya itu.
Sesaat kemudian mata pemuda itu terpejam, lalu dengan gerakan yang sangat cepat, Bagus Wonoboyo melompat naik menembus atap pemondokan itu.
"Aarrgh..." terdengar suara tercekat kesakitan dari sesosok bayangan di atas genting pemondokan itu saat tangan Bagus Wonoboyo menyarangkan pukulan telak di ulu hatinya.
"Hiaaat..." gerakan keempat orang itu begitu lincah, namun itu masih belum cukup untuk mengimbangi Bagus Wonoboyo.
Tak lama kemudian, bugg....bugg..."Aarrg..." keempat orang itu pun terkena pukulan beruntun dari Bagus Wonoboyo hingga membuat keempatnya jatuh ke terjerembab ke tanah pelataran pemondokan itu.
Satu orang penyerang yang terkena pukulan lebih dulu, rupanya sudah bisa kembali menguasai diri. Demi dilihatnya keempat temannya tersungkur, dia langsung terjun ke bawah menuju teman temannya.
"Kita pergi, cepat." Kata salah satu penyerang itu. Lalu dengan langkah yang sangat ringan, dia berlari menyusup ke arah hutan, diikuti oleh keempat temannya.
__ADS_1
Bagus Wonoboyo sengaja membiarkannya.
Siapa mereka. Aku akan menunggu mereka datang lagi besok malam. Hhh...
Sejurus kemudian, Bagus Wonoboyo sudah berdiri di pelataran pemondokan, masih dengan tangan bersedekap di dada.
"Siapa tamumu Ngger?" suara yang sudah sangat dikenalnya.
"Oh...selamat malam Kanjeng Romo, rupanya Kanjeng Romo belum tidur, atau aku membangunkanmu Romo?" Bagus Wonoboyo melangkah mendekati ayahnya itu lalu menjura hormat.
"Tidak anakku, romo memang belum tidur, lalu siapa mereka Ngger?" Ki Ageng sepuh kembali bertanya.
"Hhh...saya sendiri tidak tahu Kanjeng Romo, tapi kita akan segera tahu romo" Bagus Wonoboyo menjawab dengan setengah berbisik, tidak ingin membangunkan teman temannya yang masih tertidur lelap di dalam pemondokan.
"Baiklah Ngger, ayo kita masuk, udara semakin dingin" Ki Ageng Sepuh melangkah menuju rumah utama, sedang Bagus Wonoboyo kembali menuju pemondokan
"Saya tidur di pemondokan saja malam ini romo"
"Baiklah Ngger" Ki Ageng sepuh
***
Bersambung ....
__ADS_1
***
Hai para readers yang selalu semangat...ikuti terus kisah R.A. Sekar Pembayun ini ya...yuk kita gali cerita cerita negeri sendiri yang gsk kalah dari bangsa lain...be proud of bring Indonesia❤❤❤ Thanks