Raden Ayu Sekar Pembayun;Tak Pernah Padam

Raden Ayu Sekar Pembayun;Tak Pernah Padam
Ki Kundholo Yekti


__ADS_3

Saat Banyak Somba dan rombongannya tiba di padepokan, hari masih gelap. Tapi rupanya sang guru, Ki Kundholo Yekti, masih duduk di pendopo padepokan.


"Kalian sudah datang" Ki Kundholo Yekti menyambut kelima muridnya yang mulai memasuki pendopo.


"Hormat kami berlima guru" Banyak Somba menjura hormat diikuti keempat adik seperguruannya


"Bagaimana tugas yang kuperintahkan pada kalian?" Ki Kundholo Yekti langsung ke pokok pembicaraan


"Ampun guru, kami belum bisa melukai Wonoboyo, tapi kami berhasil memasuki Ndalem Mangiran" jelas Banyak Somba pada gurunya, sedang keempat saudara tunggal gurunya terdiam dalam duduknya.


"Hm...Banyak Somba, kau tetap di sini, yang lain kembalilah ke tempat kalian masing masing" Sang guru bertitah.


Apa yang ingin guru bicarakan denganku?Ahhh, apa guru akan marah padaku? Kalo benar, aku akan pergi saja dari sini. Banyak Somba


Setelah keempat orang itu pergi dari hadapan gurunya, Banyak Somba masih tertunduk di hadapan gurunya.


"Hmm...Banyak Somba, kukira kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik. Ternyata kau tak berkutik menghadapinya." Ki Kundholo Yekti mulai melanjutkan pembicaraannya


"Ampun guru, seandainya saya sendirian, saya pasti lebih leluasa" jawab Banyak Somba mencoba mengelak


"Ha ha ha...beraninya kau, dimana otakmu hahh? dibantu adik adik seperguruanmu saja masih tidak becus, apalagi sendiri, jangan sombong di hadapanku cihhh" Ki Kundholo Yekti mulai meninggikan suaranya.


"Maafkan saya guru, bukan itu maksud saya, tapi..." Banyak Somba tidak meneruskan kata katanya


"Tetapi apa?? murid tak berguna, begitu saja tidak becuss !!!"


"Aku hanya ingin kau melukai Bagus Wonoboyo, bukan membunuhnya, tapi apa yang kalian dapat hahh?? Dia bukan tujuanku yang sesungguhnya, aku hanya ingin memberi salam pada kakak seperguruanku"


Kali ini ucapan Ki Kundholo Yekti membuat kepala Banyak Somba terdongak, menatap gurunya dengan sorot mata bingung.

__ADS_1


"Maksud guru?"Banyak Somba memberanikan diri bertanya


"Ha...ha...ha..., Ki Ageng Mangir sepuh, ayah dari Bagus Wonoboyo adalah kakak seperguruanku" Ki Kundholo Yekti menjawab sambil berdiri dan melangkah membelakangi Banyak Somba.


"Tapi sayang, kau tidak berhasil menyampaikan salamku" Ki Kundholo Yekti membuang nafas dengan kasar.


"Maafkan saya guru, perintahkan saya sekali lagi kesana guru, aku akan membuat anak itu tak bisa berjalan" Banyak Somba berbicara sambil mengepalkan tangannya


"Tidak perlu, aku akan kesana sendiri untuk menemui kakak seperguruanku, dia pasti akan senang melihatku ha ha ha...!"Kini Ki Kundholo Yekti yang nampak mengepalkan tangannya sambil menyeringai lebar.


***Flashback On***


Pagi itu, si tepian kota raja Wilwatikta, dua pemuda gagah dan tampan tampak berkelahi dengan hebatnya.


"Ayo Kakang..., kerahkan semua kemampuanmu, aku tidak akan lari Kakang ha ha ha...!!" yang satu terus menyerang tanpa henti.


"Dimas, hentikan...!! cukupp...!!" yang satu mulai ikut berteriak tidak tahan dengan tingkah laku adik seperguruannya yang tanpa ba bi bu menyerangnya.


Sekali dua kali serangan itu hanya ditangkis dan dielakkan oleh si kakang tanpa bermaksud membalas sama sekali. Dan tentu saja hal itu membuat si adik mulai melonjak amarahnya


"Oh...jadi begini bisamu kakang, hanya kucing kucingan denganku ha..., mana kakangku yang sakti itu ha...mana??"


"Kau kenapa adhi? kenapa menyerangku seperti orang kesetanan begitu hahh..., kau membuatku bingung" Si Kakang mendengus kesal dan masih mengatur nafasnya.


"Kang, kita hentikan sampai di sini saja mencari pembunuh guru, karena kau tak perlu kemana mana lagi ha ha ha...aku...aku yang sudah menghabisinya dengan tanganku ha ha haa...!"


Sang kakak seperguruan terkesiap dan sangat terperanjat manakal mendengar kata kata sang adik seperguruannya itu.


"Apa katamu ?? Apa kau sadar dengan ucapanmu dhimas? Apa kau sudah gila??" berteriak sekencang kencangnya

__ADS_1


"Ha ha ha...iya kakang, aku memang sudah gila, karena orang tua itu lebih memilih kakang untuk menikahi Nimas Ratna Ningrum, kau tak pernah tau hatiku sesakit apa hahhh...!!" bentak si adik seperguruan


"Hahhh....apa?? Kau benar benar melakukan kejahatan itu hanya karena Ratna Ningrum dijodohkan denganku?? Dhimas, kau bahkan tak mengatakan apapun saat itu. Kau sudah berbuat kejahatan paling tinggi di perguruan kita dengan membunuh guru" Si kakak seperguruan mulai tidak sabar dengan ulah si adik seperguruannya.


"Ha ha ha...kau terlalu lurus kakang ha ha ha..."


"Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja dhimas?" si kakak berbicara


"Kau boleh tak percaya kakang, tapi begitulah kenyataannya ha ha ha...guru...mati di tanganku ha ha...lelaki tua bodoh itu tak bisa berbuat apa apa lagi..., aku hanya perlu mengirimmu menemuinya di neraka kakang, agar Ratna Ningrum menjadi milikku ha ha ha..." si adik seperguruan dengan congkaknya berkata


"Kau...kau...dhimas, kalau kau bicara saat itu, aku pasti akan memberikan Nimas Ratna Ningrum padamu, tapi sekarang semua sudah terlambat, aku pasti memberimu pelajaran untuk kau ingat seumur hidupmu" sang kakak seperguruan langsung menerjang dengan gerakan secepat kilat.


Jurus demi jurus beradu, sudah tak ada lagi gerakan menghindar dari sang kakak seperguruan.


"Ciiaaaat..." wushhh


"Hati hati kakang dengan kepalamu...ha ha ha" si adik seperguruan sudah melompat ke atas daun jati, lalu secepat kilat menghunus sebilah keris yang cahayanya menyilaukan mata


"Dhimas..., kau kurang ajar, rupanya kau sangat serakah, kau mencuri pusaka padepokan milik guru" berteriak sambil menyusul melompat ke atas pohon itu.


"Ha ha ha...maafkan aku kakang, kukira kita impaa, kau dapat Ratna Ningrum dan aku dapat keris cokro ini ha ha ha...dan akhirnya aku pun akan.memiliki Nimas Ratna Ningrum setelah membunuhmu...rasakan ini, hiaatt"


Wwt...wush...bug...bug...


Secepat kilat sang kakak menghindari kilatan cahaya putih yang keluar dari keria cokro itu. Tubuhnya beberapa kali bersalto si udara.


Tepat di saat kakinya hampir menginjak tanah, saat itulah, kedua tangannya terkepal, mengarahkan sebuah pukulan tenaga dalam ke arah adik seperguruannya yang sudah siap dengan keris cokro di tangannya.


Sebuah dentuman keras terjadi saat pukulan jarak jauh itu bertemu. Kedua tubuh pemuda itu terlempar dan jatuh. Keduanya sama sama jatuh ke dalam jurang di sisi kanan tebing curam itu.

__ADS_1


***Flashback Off***


__ADS_2