Raden Ayu Sekar Pembayun;Tak Pernah Padam

Raden Ayu Sekar Pembayun;Tak Pernah Padam
Banyak Somba


__ADS_3

"Berhenti sebentar Kang, sebentar saja huhhhh...huhhh" Sesosok bayangan tubuh itu menghentikan gerakannya. Dia tampak terengah engah, sambil memegangi dadanya.


"Kau kenapa? Apa begitu saja sudah menyerah?" jawab lelaki di depannya yàng langsung menghentikan larinya.


"Hhhh...hhh...tidak Kang, hanya anak muda itu rupanya sengaja mencideraiku, dia benar benar hebat" jawab lelaki itu dalam gelapnya hutan


Tidak lama kemudian muncul tiga sosok bayangan dari arah belakang.


"Kenapa dia Kakang Banyak Somba?" tanya salah satu dari mereka bertiga.


Yang ditanya hanya diam sambil bersedekap.


"Hhh...aku perlu berhenti sejenak dadaku sakit sekali dan sesak." jawab si sakit


"Kita masih di wilayah musuh Kakang, maaf kang" secepat kilat menyambar tubuh temannya itu dan menotoknya lalu membawanya melesat masuk ke dalam hutan. Ketiga sosok tubuh pun berlari mengikutinya menembus kegelapan malam hutan Mangir.


Bulan masih bersinar di atas hutan Mangir, namun sedikit temaram dihalangi awan dan kabut malam. Suasana begitu hening, hanya pergerakan langkah setengah berlari gerombolan Banyak Somba lah yang memecah kesunyian itu. Binatang binatang malam menyingkir saat kelima orang itu melewati tempat persembunyiannya.


Ya, mereka adalah gerombolan begal kenamaan di wilayah perbatasan Mangir dan Mataram. Dipimpin oleh Banyak Somba, putra seorang demang di Brang Wetan yang ingin menuntut balas pada Bagus Wonoboyo. Tak seorang pun yang tahu, bahwa dia pernah menjadi saudara seperguruan Bagus Wonoboyo.


***


Siapa mereka? baru kali ini Ndalem Mangiran benar benar didatangi penjahat. Tp tunggu, salah satu dari mereka, aku seperti tak asing dengan jurus2x nya... hm...siapa dia?


Bagus Wonoboyo masih belum tidur, dia tenggelam dalam lamunannya.


Sementara itu, di dalam rumah utama Ndalem Mangiran, Ki Ageng Sepuh masih terjaga di pembaringannya. Tatapan matanya kembali

__ADS_1


menerawang jauh.


Apa sebaiknya kuberitahu saja kedatangan Sutowijoyo dan Ki Juru Martani pada Wonoboyo putraku. Penyerangan ini benar benar mengusik ketenanganku. Tapi apa benar, Sutowijoyo **nabok nyilih tangan? Untunglah, hanya aku dan putraku yang tahu hal ini. Hhhmmm


Setelah beberapa lama, Ki Ageng Sepuh akhirnya berhasil memejamkan matanya di saat malam semakin turun.


***


"Kang, kita hampir sampai di padepokan, kita istirahat dulu, biar kusadarkan Kang Mangun." kata anak buah Banyak Somba yang sedari tadi memanggul temannya dalam keadaan tak sadar karena totokannya."


Dengan cekatan, lelaki bertopeng itu menurunkan tubuh temannya. Lalu dengan satu sentuhan di bahu kiri kanan lelaki itu langsung sadarkan diri.


"Kau sudah sadar Kang Mangun"


"Hhh..." mengambil nafas beberapa saat sambil memegangi dadanya.


"Ha...ha...ha...., bualanmu membuatku mual Mangun. Kau bahkan terjungkal pertama kali melawannya, sudah ku katakan, hati hati dengan Wonoboyo, dia tak bisa dianggap remeh. Kali ini penjajakan kita cukup. Tunggu perintahku selanjutnya."Banyak Somba yang sedari tadi diam, mulai membuka mulutnya.


"Huhhh...dan kau sendiri Kang Banyak Somba? Cih...kau jg terkena tendangannya" Mangun pun tak mau kalah


"Tutup mulutmu itu atau kulempar ke jurang hahhh??" Banyak Somba mulai meninggikan suaranya.


Sreeetttt...tiba tiba kedua anak buah Banyak Somba datang dari kegelapan hutan itu.


"HAHHH...kemana saja kalian, apa ilmu seipi angin kalian sudah kalah dengan nyamuk nyamuk itu hahhh??" Banyak Somba menggertaknya


"Hehhhh....eh...ma...maaf Kang Somba, kami sedikit kelelahan"

__ADS_1


Jawab salah satu dari mereka sambil masih terengah engah dan melirik temannya yang masih menunduk


"Cepat ke padepokan, guru pasti sudah menunggu kita" Banyak Somba berkata sambil berlalu meninggalkan mereka. Langkahnya yang sangat ringan membawanya menjauh dengan cepat dari adik adik seperguruannya.


Huhh...ini misi pertamaku yang diperintahkan guru, bukan membegal atas perintahku yang tak pernah diketahui guru. Dan gila sekali, Wonoboyo membuat kami kalang kabut hanya dalam beberapa jurus saja. Cih...andai saja mereka tak ikut serta, pasti aku akan benar benar melampiaskan dendamku padanya.


Banyak Somba masih bermain dengan perasaannya sendiri, sampai akhirnya gerbang bambu yang rapat dan tinggi itu terpampang di hadapannya.


Bangunan padepokan itu sebagian besar dari kayu kayu jati hutan yang besar dan kokoh, dan sekelilingnya dipagari dengan bambu petung yang memang banyak terdapat di sekitar tempat itu.


Inilah padepokan Kundolo Yekti, yang sudah terkenal di seantero Mataraman dan Mangiran. Padepokan yang tersohor karena kesaktian gurunya yang berjuluk, Ki Ageng Kundholo Yekti. Tokoh ini begitu disegani di dunia persilatan karena senjata pamungkasnya Keris Cokro yang bisa memenggal kepala musuh yang berani melawannya.


Dan entah apa yang sebenarnya terjadi, hingga malam itu, Ki Ageng Kundholo Yekti memerintahkan kelima murid andalannya untuk menyerang Ndalem Mangiran.


***


**Bersambung....


***


Hai readers, tetep ikuti ya cerita R.A. Sekar Pembayun; Tak Pernah Padam ini ya...mohon dukungan like and rating 5 ya😍😍🙏


Makasih banyak


NB:


***nabok nyilih tangan \= menyerang dengan menggunakan tenaga orang lain / menyuruh orang lain utk mencelakai musuh. (proverb bahasa Jawa***)

__ADS_1


__ADS_2