Raden Ayu Sekar Pembayun;Tak Pernah Padam

Raden Ayu Sekar Pembayun;Tak Pernah Padam
Sebuah Renungan


__ADS_3

Pagi itu di Mataram, suara alunan gending mat matan terdengar merdu. Sayup sayup suara itu sampai ke bangsal palereman, dimana saat ini Panembahan Senopati sedang berdiri memandang keluar dari jendela berkayu jati itu. Kedua tangannya disilangkan di depan dada. Tatapannya yang setajam mata elang itu tampak jauh menembus ranting ranting pepohonan yang begitu asri di luar bangunan itu.


Hm..., lelaki muda itu begitu luar biasa. Aku bisa merasakannya. Pohon sebesar itu ditahannya begitu saja, aku bisa menakar tenaga dalamnya.


Panembahan Senopati perlahan melangkah keluar. Para abdi dalem yang kebetulan berpapasan dengannya, langsung menjura hormat, hingga sesampainya di regol depan bangsal itu, Senopati menghentikan langkahnya saat melihat Ki Juru Martani datang mendekat.


"Selamat pagi, Ngger" Ki Juru mengangguk hormat


"Selamat pagi, paman Juru" Senopati mengangguk dengan senyuman di wajahnya. Tak tampak lagi keresahannya saat ini.


"Mari paman, kita melihat lihat para prajurit yang sedang berlatih, saya sudah memerintahkan Lurah Kebo Luwu untuk bersiap siap."


"Silakan Ngger" Ki Juru mengiyakan ajakan Senopati.


Mereka pun berjalan menuju asrama prajurit. Di belakang asrama itulah terdapat lapangan yang luas untuk para prajurit berlatih.


Tampak beberapa prajurit sedang melaksanakan tugasnya masing masing. Beberapa ada yang berlalu lalang dari arah gudang penyimpanan senjata, ada yang berlatih ilmu kanuragan. Mereka langsung menghentikan kegiatannya dan menghormat manakala melihat junjungannya datang.


"Lanjutkanlah latihan kalian" Senopati mengangkat tangannya, mempersilakan seluruh prajurit kembali berlatih.


Lurah Kebo Luwu langsung berlari mendekat dan menghormat begitu mendengar suara Senopati.

__ADS_1


"Selamat pagi Kanjeng Senopati" Lurah Kebo Luwu menjura hormat


"Bangkitlah Ki Lurah,aku ingin melihat liat mereka berlatih pagi ini." Senopati


"Nggih Gusti, silakan berkeliling, silakan Ki Juru." Ki Lurah Kebon Luwu mempersilakan keduanya untuk memeriksa kegiatan para prajurit.


"Ngger, apa yang mengganggu pikiranmu hingga tiba tiba mengajakku kemari?" Ki Juru melangkah di samping Senopati.


"Apa Nakmas memikirkan Mangir?" Ki Juru menebak nebak pikiran Senopati.


Ya, Ki Juru bukan orang lain bagi Panembahan Senopati. Dia orang kepercayaan sekaligus ahli strategi perang yang handal. Ki Juru Martani juga sangat tinggi ilmu kanuragannya, tak perlu diragukan lagi. Terlebih, kewaskitaannya membuat ketajaman mata batinnya begitu terasah. Karena itu pulalah, setiap hal penting yang terjadi pada Senopati selalu diketahuinya.


"Hmmm.., paman Juru, aku punya banyak alasan untuk waspada terhadap Mangir. Bagaimana menurut paman Juru?" Senopati mulai berbicara serius.


Mereka terus berjalan, Senopati tersenyum mendengar gurunya itu.


Bahkan Romo Sultan Pajang pun adalah matahari yang pernah bersinar terang, hhh... Senopati bergumam di hatinya.


"Kau tidak perlu mengkuatirkan Romo mu di Pajang Ngger, setidaknya untuk saat ini." Ki Juru Martani berkata halus.


"Paman Juru pasti tau, jika aku tidak ingin Romo membenciku, bagaimana pun, beliau juga orang tuaku." Senopati mengerti arah pembicaraan ini.

__ADS_1


"Benar Ngger, jadi, pikirkan dan renungkan dengan seksama, bagaimana Nakmas akan bersikap pada Mangir, yang sudah kita lihat sendiri perkembangannya" Ki Juru menekankan inti pembicaraan itu


"Tentu saja aku akan memiikirkannya dengan cermat paman Juru" tatapan Senopati jauh menerawang ke langit Mataram yang cerah.


***


Wussshhh...


Anak panah itu melesat secepat kilat, menancap pada lesan panah yang sudah disiapkan.


"Hebaaat Gusti Putri...hebaaat..." seru para dayang itu sambil bertepuk tangan dengan penuh semangat.


Sang putri nan cantik jelita itu tersenyum ke arah dayang dayangnya.


"Paman, sudah cukup untuk hari ini, lain kali kita lanjutkan lagi" Sang putri menyerahkan busur panahnya kepada prajurit yang melatihnya.


"Nggih Gusti Putri, saya mohon diri." Prajurit itu mengundurkan diri dengan membungkuk sopan.


"Mbok, mari kita kembali ke kaputren, aku ingin sarapan mbok" sang putri mengayunkan langkahnya diikuti oleh mbok emban dan para dayangnya.


Ya, dialah Raden Ajeng Sekar Pembayun, putri sulung Panembahan Senopati yang luar biasa cantik, cerdas dan mempesona.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2