
Hari masih pagi, di dalam kaputren Mataram, tampak beberapa anak perempuan yang masih kecil berlarian kesana kemari mengejar kupu kupu di taman, tawa mereka begitu ceria.
Sementara itu, di samping taman yang luas dan penuh bunga bunga terdapat sebuah pendopo. Pendopo jati itu tidak terlalu luas, tapi cukup lega untuk ditempati beberapa orang. Nampak beberapa gadis remaja bermain dakon ditemani beberapa mbok emban.
Di sisi sebelah kanan di pendopo itu, beberapa gadis remaja yang usianya lebih tua, sedang membatik. Pelan tapi pasti tangan mereka melukis pola pola bunga yang indah di kain putih itu dengan canting yang sesekali ditiup ujungnya.
"Bagaimana pola ini Yunda?" tanya salah satu gadis remaja itu pada gadis cantik di sampingnya.
"Hm...itu cantik sekali dinda, ibunda ratu pasti akan menyukainya" jawab si gadis yang lebih tua.
"Terima kasih yunda, lalu apa yang yunda lukis di kain yunda?"
"Yunda sedang belajar melukis pola bunga padi dan kapas dinda, itu melambangkan kesejahteraan Mataram, yunda akan memberikan kepada romo Senopati setelah kain batik ini jadi" jawab si gadis yang dipanggil Yunda, yang tak lain adalah R.A Sekar Pembayun, putri sulung Panembahan Senopati
"Waah...romo pasti akan senang sekali Yunda"
"Semoga saja dinda, oh ya setelah ini Yunda akan berlatih menari, apakah dinda akan ikut Yunda?" tanya Sekar Pembayun kemudian pada dinda nya
"Dengan senang hati yunda, tapi...bolehkah kita sarapan dulu yunda"
"Oh ya, tentu saja, yunda juga lupa, ayo dinda kita sarapan dulu" ajak Sekar Pembayun yang memanggil embannya.
"Mbok...mbok...kami ingin sarapan dulu, setelah itu kami akan berlatih beksan (tari), jadi membatiknya sampai di sini dulu ya mbok, kami akan melanjutkannya besok" Sekar Pembayun berkata pada emban pengasuhnya.
"Nggih ndoro putri, monggo, silakan mbok akan menyiapkan sarapannya" jawab mbok emban sambil membungkuk hormat.
"Sri, tolong kamu bereskan peralatan membatik milik ndoro putri ini" perintah mbok emban kepada salah satu dayang yang menemani mereka.
Lalu sang putri pun melangkah dengan anggunnya melewati taman bunga menuju sebuah pendopo kecil di sisi selatan keputren, pendopo yang berbentuk seperti gubuk panggung itu memang sering digunakan oleh sang putri untuk sarapan, sambil melihat indahnya pemandangan di dalam kaputren yang luas dan indah itu.
"Sri, aku akan menyisir rambut ndoro putri dulu, kau dan teman temanmu siapkan sarapan untuk ndoro putri" mbok emban lalu mendekati Sekar Pembayun dan mulai menyisir rambutnya sang putri yang telah menjadi gadis remaja yang cantik jelita.
"Mbok, aku tidak terlalu suka berlatih menari, aku lebih suka berlatih memanah dan ilmu kanuragan, tapi ibunda ratu selalu memaksaku"
"nggih ndoro putri, tapi kan ndoro sudah berlatih memanah dan pencak silat kemarin, dan sudah banyak sekali kemajuan ndoro putri" jawab mbok emban yang sudah mengasuh dan mendampingi sang putri sejak lahir itu
"Iya mbok, mbok benar, tapi aku ingin lebih mendalami ilmu kanuragan dan belajar nyantri pada seorang guru kyai besar." jawab sang putri.
__ADS_1
"Ndoro putri, apakah Kanjeng Senopati akan mengijinkan itu ndoro? ndoro kan seorang putri" jawab mbok emban
"Entahlah mbok, tapi biasanya, romo Senopati selalu menuruti keinginanku, bahkan beliau mengijinkanku belajar ilmu kanuragan dari Eyang Panjawi dulu" jawab putri Pembayun.
"Ndoro Ayu, untuk seorang putri, mbok kira ilmu kanuragan ndoro putri sudah cukup. Nanti jika ndoro putri menikah, pasti suami ndoro putri yang akan melindungi ndoro putri. Dia pastilah seorang pangeran yang hebat, sakti mandraguna seperti ndoro Senopati " ujar si mbok emban sambil menyisir rambut indah sang putri.
Seketika wajah sang putri merah merona, baru kali ini semenjak dirinya remaja, ada yang berbicara tentang seorang lelaki dengannya.
"Ah...mbok bisa saja, kenapa membicarakan hal itu denganku to mbok..."
"Hm...ndoro putri malu ya...tuh..mbok lihat pipi ndoro jadi merah begitu" mbok emban menyingkap sedikit rambut yang sedikit tersisa di kening bendoro nya itu.
"Mboookk...sudah sudah... jangan bicara itu mbok, dan... lagipula, aku pasti akan menguji ilmu kanuragan siapapun pemuda yang akan melamarku" Sekar Pembayun berdiri dari duduknya, dengan rambut yang telah tersanggul rapi. Diambilnya sekuntum mawar merah lalu diselipkan di sanggul indahnya itu.
Tak lama kemudian, beberapa dayang berjalan mendekat, membawa nampan nampan berisi makanan, minuman dan buah buahan. Mereka pun menghidangkannya untuk sang putri dan saudara saudaranya, para putri dan sepupu mereka, yang masih trah Mataram.
***
Sementara itu di bangsal pasewakan , Panembahan Senopati duduk ditemani Ki Juru Mertani dan beberapa senopati yang memang sedang menghadap tanpa dipanggil secara resmi oleh Senopati.
"Duduklah Kakang Jaya Supanta"
"Ada perlu apa kau menghadapku Kakang" Panembahan Senopati membuka pembicaraan.
"Maaf Kanjeng Panembahan, hari ini saya ingin melaporkan perkembangan di Mataram dan sekitarnya" jawab senopati Jaya Supanta.
"Silakan Kakang"Panembahan lalu memberi waktu senopati Jaya Supanta untuk mulai bercerita.
"Begini Kanjeng, sudah beberapa hari ini saya dan beberapa telik sandi menyisir wilayah Mataram, sampai ke perbatasan Mangir, banyak penduduk dari wilayah lain bekas kerajaan Wilwatikta, yang dilanda pertikaian, berbondong bondong menetap di Mangir. Dan saya juga melihat, Mangir mulai membentuk angkatan perang, lalu berlatih ilmu kanuragan, meskipun jumlah mereka belum sebanyak prajurit kita Kanjeng, tapi kita harus waspada Kanjeng" senopati Jaya Supanta sejenak berhenti.
"Terima kasih kakang, lalu, berita apalagi yanh kai dapatkan?" sela Panembahan Senopati
"Hh...dan saya juga melihat, banyak gerombolan begal di perbatasan Mangir dan Mataram, dan yang paling ditakuti karena sering membuat resah adalah gerombolan Banyak Somba." lanjut senopati Jaya Supanta
"Hm...adakah yang lain kakang" Panembahan Senopati tampak mengangguk anggukan kepalanya.
"Benar Kanjeng, saya juga mengetahui, bahwa ada penyusup yang menyerang Ndalem Mangiran, dan berusaha melukai Bagus Wonoboyo"
__ADS_1
"Apa?? Kau tidak salah kakang? Siapa mereka yang berani menyusup kesana?Lalu bagaimana akhirnya, apakah Ki Ageng Mangir mengetahuinya?" Senopati terhenyak dari duduknya.
"Kami tidak tahu kakang, yang pasti, mereka kabarnya sempat dihajar oleh Bagus Wonoboyo"
"Hmmm..." Panembahan Senopati bersedekap lalu menatap jauh ke depan, seakan ingin menembus ke Ndalem Mangiran
"Ngger, Senopati Ing Alogo, apa rencanamu selanjutnya Ngger" Ki Juru Mertani yang sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara.
"Jangan gegabah, itu pesanku ngger, kita harus mengatur cara yang terbaik untuk hal ini"
"Kau benar Paman, aku akan sangat berhati hati, karena janji Romo Pemanahan pada romo Sultan Pajang harus aku penuhi, menjaga kedaulatan Mataram, termasuk dengan Mangir di dalamnya" Panembahan Senopati bergelora dalam nada bicaranya yang tegas.
Sementara itu, Ki Juru Mertani tersenyum penuh arti
Bersambung...
❤❤❤
Hai readers
Berikut penjelasan dari beberapa kosakata bahasa Jawa yang Author pakai di episode ini.
*Canting \= alat untuk membatik, utamanya untuk melukiskan malam yang direbus ke pola yang sudah disiapkan di kain.
**Bangsal pasewakan \= aula atau pendopo khusus untuk menghadap raja.
*** Ngger \= panggilan sayang utk anak lelaki / yang dianggap seperti anak lelakinya.
****Ngaturaken sembah dalem \= menghaturkan sembah / hormat saya
*****Nyantri \= menjadi santri / murid kyai
Demikian kurang lebih arti dr kosakata bahasa Jawa yg ada dlm episode ini. Mohon maaf ya jika Author ada kesalahan di sana sini
Jangan lupa like, komen dan rate 5 yaa...biar Author tetep semangat...
❤❤❤
__ADS_1