Raden Ayu Sekar Pembayun;Tak Pernah Padam

Raden Ayu Sekar Pembayun;Tak Pernah Padam
Tombak Kyai Baru Klinthing


__ADS_3

Hai readers...


Maaf lamaaaa tdk up


Sangat menyenangkan saya bisa bangkit dari hibernasi panjang 🀭🀭🀭dan menulis lagi...yuk kita galakkan literasi di era milenial ini...


jgn lupa vote, like dan comment ya readers


Terima kasih


🌷🌷🌷🌷


Saat Bagus Wonoboyo melesat naik ke arah perkelahian itu, di tangan kanannya terpancar cahaya perak yang menyilaukan mata. Sesaat kemudian ...


Blaaarrrr...


"Aaarrrgghhh..."


Tampak dua tubuh terpental tinggi ke udara lalu terhempas ke semak semak di hutan itu. Dan sesosok tubuh tegap sempurna berdiri gagah di tengah gelanggang pertarungan tingkat tinggi itu.


"Aarrgh...ba*****n...!! huk..huk...hoooeek..."


Dari mulut lelaki tua yang mengumpat itu pun keluar darah segar saat terbatuk batuk. Sambil memegangi dadanya, dia berusaha bangkit.


"Siapa kau b*****t ...!!!, beraninya kau ikut campur urusanku" teriak lelaki tua yang tak lain adalah Ki Kundholo Yekti.


"Bagaimana mungkin pemuda itu bisa mengalahkan kerisku ini." gumamnya


"Siapapun yang membuat onar di wilayahku, pasti akan berhadapan denganku." jawab Bagus Wonoboyo dengan waspada


"Cih...ha ha ha...hei anak muda, apa katamu? ha ha ha...!" sahut Ki Kundholo Yekti


"Sejak kapan Ki Ageng Mangir dilecehkan seperti ini, ha ha ha...lihatlah Kangmas...cecung*k ini bahkan menghinamu ha ha ha...!!"


Perlahan lelaki tua itu bangkit dan berjalan ke arah Bagus Wonoboyo dengan masih memegangi dadanya.

__ADS_1


"Hei anak muda, pergi kau, jangan ikut campur lagi, cepattt...!!"


Huh, pukulannya tadi begitu hebat, jika dia merecokiku, bisa bisa aku kehabisan tenagaku di sini. Cih siapa dia


"Kau yang pergi orang tua, sebelum kesabaranku habis" Bagus Wonoboyo pun berteriak


"Kalau kau penasaran, baiklah orang tua" lanjutnya


"Kau sudah salah paham..., Ki Ageng Mangir sama sekali tidak keberatan dengan yang kulakukan. Ketahuilah, aku adalah putranya, aku Bagus Wonoboyo" pemuda itu melanjutkan


Sementara itu, tak kalah kagetnya dengan Ki Kundholo Yekti, sang romo, Ki Ageng Mangir yang telah berdiri dan mengamati yang terjadi dari tempatnya terpental tadi pun terkesiap.


Jagad Dewa Bathara...


Bagaimana mungkin putraku bisa mengendalikannya dengan sehebat itu...


"Ha ha ha...begitu rupanya. Jadi romo mu itu sdh tidak mampu menghadapiku??? Sampai sampai anaknya yang dihadapkan padaku...ha ha ha. " Ki Kundholo Yekti kembali berteriak


Bagaimana bisa anak ini memegang senjata keramat itu. Kalau aku tidak salah, itu pasti tombak agung Kyai Baru Klinthing. Pusaka Dalem Majapahit. Hhhhhuuuhhh...aku bisa terbunuh jika tidak waspada, benar benar gila...gumam Ki Kundholo Yekti


"Ha..ha...ha...kurasa cukup mengejutkan jika kau begitu hebat ngger anakku...bukankah begitu Kangmas Mangir ha ha ha...pulanglah ngger, sampaikan salamku pada ibumu yang kupuja itu...ha ha ha..." Ki Kundholo Yekti berteriak


"Ha ha ha...aku tidak mungkin membunuhmu anak muda, karena ku anggap kau sebagai anakku sendiri ha ha ha...jadi aku akan membiarkan kalian kembali pulang dengan selamat. Cukuplah uluk salamku pada romomu saat ini...ha ha ha.." Ki Kundholo Yekti berkata dengan congkaknya


Secepat kilat tubuh Ki Kundholo Yekti menghilang bersama asap putih tebal yang melingkupinya. Hening sesaat...


"Ngger...mari kita kembali, ibumu pasti telah menunggu kita dengan cemas." Suara Ki Ageng Mangir sepuh pun menyadarkan Bagus Wonoboyo dari lamunannya.


"Baik Romo, silakan."


Mereka pun secepat kilat berlari meninggalkan tempat itu menuju ndalem Mangiran. Ki Ageng Mangir sepuh tampak gesit menggunakan aji Sepi Angin tingkat tinggi miliknya. Ajian itu mampu menyembunyikan usia tua pemiliknya yang tampak begitu lincah.


Di belakangnya tampak Bagus Wonoboyo mengimbangi gerakan lincah romonya tanpa kesulitan.


Kenapa perasaanku tidak enak....Uhh...semoga tidak terjadi apa apa di ndalem Mangiran

__ADS_1


*****


Sementara itu, di ndalem Mangiran...


"Hei...Kang...Kang Darmo...bangun Kang..." Seorang pemuda di pondokan di belakang ndalem Mangiran tampak berusaha membangunkan Darmo


"Aaahhh...mmm...ada apa Cung...kena...ebbbb" Jawab Darmo sambil menguap yang langsung dibungkam mulutnya oleh si pemuda


"Ssstt...Kang...ssttt..." lanjutnya sambil perlahan melepaskan tangannya dari mulut Darmo


Tanggap ing Sasmita ... Darmo waspada


Mata pemuda tangan kanan Bagus Wonoboyo itu pun mulai mengedarkan pandangan dan menajamkan telinganya


"Kang...aku melihat ... semak semak di samping pondokan ini bergerak gerak mencurigakan...kurasa itu bukan anjing hutan Kang...aku kuatir..."


"Tetap tenang dalam bahaya Kuncung...diam diam bangunkan yang lain...aku akan memeriksanya" Bisik Darmo sambil bangkit dan mulai berjalan dengan waspada menuju jendela samping pondok. Nafasnya tercekat.


Darmo mulai mengintip dari celah dinding kayu pondokan itu, di samping jendela.


"Hm...benar, sangat hening di luar, tapi semak semak itu terus bergerak mendekati pemondokan ini. Baiklah...tapi Den Bagus bahkan belum kembali. Huffh..." gumam Darmo


"Kang, semua sudah bangun dan bersiap, apa yang akan kita lakukan Kang?" bisik Kuncung yang sudah mendekati Darmo


"Jangan lakukan apapun, biarkan kita tahu dulu apa yang di balik semak semak itu, tetap siaga dan jangan berdiri." perintah Darmo


"Kang, apa perlu satu satunya teplok di ruangan ini aku matikan" bisik Kuncung sekali lagi


"Jangan Cung, agar mereka tidak menyadari kalau kita sudah bangun dan siaga." Darmo pun menggerakkan tangannya cepat melarang Kuncung


"Baik Kang..." bisik Kuncung sambil bergeser pelan menuju ke teman temannya untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk..


Sementara itu, Darmo terperangah saat sebuah lemparan anak panah melesat menembus dinding kayu di sampingnya mengintip.


Sreettttt jleeebbb

__ADS_1


*****


Bersambung ...


__ADS_2