
Malam itu, Ndalem Mangiran nampak hening. Tetapi di pemondokan, banyak pemuda pemuda desa Mangir yang telah berikrar menjadi prajurit Mangir, masih bercakap cakap sambil menyalakan api unggun.
"Kang Darmo, jadi kau asli dari Mangiran sini Kang?" tanya salah seorang pemuda kepada Darmo, yang ikut duduk duduk di sekitar api unggun itu.
"Benar, aku asli sini, kamu sendiri dari mana? Dan siapa namamu? " Darmo kembali bertanya
"Aku dari dekat sini saja Kang, dari seberang Kali Progo, namaku Anggoro Kang" jawab pemuda itu.
"Oh ya Kang, sejak bergabung dan berlatih di sini, saya belum pernah melihat Ki Ageng Sepuh Kang, apa beliau tidak ada di sini Kang?" tanya Anggoro
"Ada, beliau sudah sepuh, lebih senang menyepi di Ndalem utama, kadang berjalan mengitari Mangiran di malam malam tertentu, sambil mendoakan kita semua"jawab Darmo yang membuat Anggoro mengangguk angguk .
"Hm, pasti beliau begitu hebat hingga bisa lelaku seperti itu, lalu bagaimana dengan Den Bagus Wonoboyo Kang? Apakah beliau akan melatih kita juga?" tanya Anggoro penasaran.
"Tentu, suatu saat pasti Den Bagus Wonoboyo melatih kita, untuk saat ini, sepertinya masih banyak urusannya." terang Darmo
"Hm..., aku sudah tidak sabar Kang, beliau termasyur sampai ke mana mana, kesaktiannya sangat luar biasa kata orang" Anggoro ingin melanjutkan namun seketika terdiam dan sontak berdiri dan membungkukkan badannya, Darmo yang kaget pun langsung ikut berdiri. Begitu pun para pemuda lainnya.
"Den Bagus...ngapunten Den" Anggoro bergetar
"Duduklah kembali, dan kau Darmo ikutlah denganku" ajak dari Raden Bagus Wonoboyo sambil berlalu meninggalkan mereka. Secepatnya Darmo pun menyusulnya
Duh...slamet...slamet..jadi itu Den Bagus Wonoboyo, sangat tampan dan berwibawa. Gumam Anggoro dalam hati.
"Ada apa Den ?" setelah Darmo mensejajari langkah junjungannya.
"Malam ini, berapa jumlah prajurit yang tidur di pemondokan kita?" tanya Bagus Wonoboyo.
"Sekitar seribu lebih Den, yang lainnya masih di hutan untuk mencari kayu untuk membangun bangsal prajuritan, biasanya mereka tidur di hutan untuk beberapa hari, yang lainnya ada yang tiap hari pulang ke rumah keluarganya yang memang dekat dekat sini Den" terang Darmo.
"Baiklah, kalian harus berjaga bergantian sepanjang malam, dan aturlah secara bergiliran" perintah Bagus Wonoboyo.
"Baik Den" Darmo
"Kau bisa kembali, dan sepertinya kita akan kedatangan tamu tak diundang malam ini Darmo"
"Apa maksud Den Bagus" Darmo terkejut setengah mati, bulu kuduknya sudah merinding.
__ADS_1
"Tenanglah Darmo, kau hanya perlu menjaga anak buahmu, jangan kau bicarakan hal ini kepada yang lainnya, kau laksanakan saja tugasmu, sisanya biarlah menjadi urusan kami, aku akan menemui romo di Ndalem utama" Bagus Wonoboyo berkata sambil berlalu meninggalkan Darmo yang masih termangu mangu.
"Nggih Den" jawab Darmo
Sebenarnya tamu seperti apa yang dimaksud Den Bagus.
***
Dan tak jauh dari hutan Mangir, di seberang kali Progo, tampak sesosok bayangan hitam berkelebat di tengah kegelapan malam. Langkahnya yang begitu cepat dan ringan menandakan betapa tinggi ilmu kanuragan yang dimilikinya. Sesampainya di jalan setapak menuju penyebrangan sesosok bayangan itu berhenti di sisi sungai besar itu.
"Hm..., aku sudah sejauh ini, tak mungkin aku mundur lagi, hufht...!!"
Sambil menghentakkan kaki kanannya tiga kali, bayangan yang adalah seorang lelaki bercadar hitam itu pun berjalan dengan setengah berlari, membelah Kali Progo yang sangat deras arusnya itu. Tubuhnya begitu ringan, jangankan tenggelam, tersentuh air pun tidak.
Dan tak sampai sepeminuman teh, lelaki itu telah sampai di seberang Kali Progo. Gerakannya hampir tak terdengar.
Dan baru berjalan beberapa saat berjalan, melewati jalan setapak dan rumpun bambu, si lelaki bercadar menghentikan langkahnya saat di depannya, tampak sesosok lelaki bersedekap menghadang jalannya.
Huhhh, rupanya ada yang cari mati. Gumam Si lelaki bercadar hitam.
"Hm, pergilah selagi kau bisa pergi dari hadapanku, aku tidak punya urusan denganmu"
"Apa kau yakin tidak punya urusan denganku Dhimas? Bukankah kau jauh jauh datang kesini untuk menemuiku" jawab lelaki yang menghadang di tengah jalan itu dengan tenangnya.
Seketika lelaki bercadar hitam itu terhenyak. Secepatnya dia berusaha mengembalikan ketenangannya yang sempat hilang sesaat.
"Kau baik sekali Kakang, puluhan tahun tidak bertemu, kau masih mengenaliku dengan baik ha ha ha...bagaimana kabarmu Kakang? Dan juga kabar kekasihku yang kutitipkan padamu? Apa dia baik baik saja Kakang?" jawab lelaki bercadar itu.
"Hm...haahhh...kau masih sama saja Dhimas, kita sudah sama sama tua, jadi tabu kalau kita berbicara masalah seperti itu. Apa kau sudah hilang urat malu mu Dhimas" Lelaki yang adalah Ki Ageng Mangir Sepuh itu pun menghela nafas dan berkata dengan nada tenang.
"Ha ha ha...Kakang, cinta itu tak mengenal tua Kakang. Kasihan sekali dinda Ratna Ningrum, tak mendapatkan cintaku yang lebih besar dari cintamu. Lalu sekarang, Kakang menghadangku di sini, karena tak ingin aku bertemu dengannya kan??" tegas si lelaki bercadar yang adalah Ki Kundholo Yekti itu.
"Kau salah Dhimas, aku menemuimu di sini, karena aku tak ingin kau kerepotan jika masuk ke Ndalem Mangiran hanya untuk membuat keributan. Aku ingin menjaga nama besar padepokanmu Dhimas." tenang Ki Ageng sepuh menjawab sambil tetap bersedekap tanpa bergeser sedikit pun.
"Cih...Kau merendahkanku Kakang." sambil berkata begitu, sebuah benda berkilau keemasan tampak melesat cepat ke arah Ki Ageng Sepuh
Dengan gerakan cepat, tangan kanan Ki Ageng menangkap benda itu dan langsung melemparkannya kembali ke arah Ki Kundholo Yekti yang juga sudah siap dengan serangan keduanya.
__ADS_1
Demikianlah, satu demi satu jurus tenaga dalam beradu dari kedua lelaki yang sudah tidak muda lagi itu. Keduanya masih berdiri di tempatnya masing masing, hanya pukulan pukulan tenaga dalamlah yang beradu. Sesekali terjadi ledakan hebat disertai cahaya yang berkilauan dari keduanya.
Sementara itu, jauh di Ndalem Mangiran, Bagus Wonoboyo yang gagal menemukan romonya pun tersentak saat melihat kilatan cahaya yang keluar dari hutan di tepi wilayah Mangiran.
"Ahh..., cahaya itu, siapa yang beradu ilmu tenaga dalam tingkat tinggi di sekitar Kali Progo? Apa mungkin ...." Bagus Wonoboyo tersentak untuk kedua kalinya, mengingat romonya tidak di rumah saat ini.
Secepat kilat Bagus Wonoboyo masuk ke Ndalem utama, langsung menuju kamar ibundanya.
Tok...tok...tok...
"Kanjeng Ibu..." lirih dipanggilnya sang Ibu
"Tunggu sebentar Gus" sahut sang ibu dari dalam kamarnya.
"Ngger Bagus anakku, kenapa kau kembali kesini lagi? Apa kau sudah bertemu Kanjeng Romo?" tanya sang ibu yang memang belum tidur
"Itulah Kanjeng ibu, Bagus ingin minta ijin pergi sebentar ke hutan, ada yang ingin Bagus periksa di sana Kanjeng Ibu" jawab Bagus Wonoboyo sambil menjura hormat pada ibundanya itu.
"Hm...pergilah Ngger anakku, ibu mengijinkanmu, berhati hatilah, ibu akan terjaga hingga kau kembali anakku" jawab sang ibu dengan senyum penuh kasihnya mengelus kepala putranya itu.
Setelah kembali membungkuk hormat, dengan langkah ringan, Bagus Wonoboyo pun bergegas pergi dari rumah utama itu.
"Terima kasih Kanjeng Ibu"
***
Adu kesaktian tingkat tinggi itu masih berlangsung. Keduanya bahkan sudah bergeser tidak lagi berada di dekat penyebrangan Kali Progo lagi, melainkan sudah berada di tempat yang lebih lapang, di sisi jalan desa yang telah ditata dengan batu batu gunung.
"Hiaattt..." Ki Kundholo Yekti melompat ke atas rumpun bambu, tubuhnya yang menjadi seringan kapas pun hanya bertumpu pada selembar daun bambu.
Wushhh...
Sejurus kemudian Ki Ageng Mangir pun sudah bertengger di atas dedaunan bambu, di depan Ki Kundholo Yekti.
Angin malam masih semilir, saat kedua lelaki pilih tanding itu saling tatap dan berdiri di atas rerumpunan bambu. Tak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya. Mata elang mereka masih saling menyorot satu sama lain di tengah gelapnya malam.
Sementara itu di bawah sana, bersembunyi di rerimbunan pohon, tampak terkesima melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
*Hm...baru kali ini aku melihat pertarungan sehebat ini. Aku pun belum pernah melakukannya. Hm...
**Bersambung*** ....