RAGNALA

RAGNALA
Ragnala 10


__ADS_3

Nala membawa Lylia ke luar kampus dan menuju mobil.


Di dalam mobil Nala hanya diam, sedangkan Lylia yang awalnya sangat bahagia karena kehadiran kakaknya kini ikut diam melihat sikap dinging Nala.


Sampai di apartemen, Ragnala berjalan duluan dan diikuti Lylia dari belakang.


Lylia bingung mengapa Ragnala Mengetahui alamat apartemennya dan bahkan Nala mengetahui sandi apartemennya. Namun belum sempat ia menanyakan rasa penasarannya, Nala sudah membuka suara duluan.


“Apa kau sedang bemain-main denganku? Kau tau jarak negara ini dengan negara kita?” Dua kalimat yang Nala lontarkan dengan nada tinggi berhasil membuat Lylia terdiam.


Lylia tidak mengerti maksud Nala, namun ia mencoba mencerna semua ucapan kakaknya.


“Maaf kak tapi aku tidak mengerti maksud kakak” jawab Lylia dengan nada terbata.


“Kau bahkan kehilangan Ingatanmu, kau tidak sadar isi pesan yang kau kirim padaku? Kau bahkan mematikan ponselmu dan membuatku harus terbang kesini untuk memastikan kondisimu, apa ini seperti hal yang menyenangkan untukmu?” Ucap Nala lagi dengan suara yang semakin keras.


Lylia masih terdiam namun ia berusaha mengingat kembali isi pesannya. Lylia kini sudah mengingat pesan yang ia kirim pada Nala sebelum Ponsenya padam.


“Aku memang sakit, apa kau tidak bisa merasakan tubuhku yang panas saat memelukmu? Haaa? Kau bahkan datang hanya untuk memarahiku?


Ponselku mati setelah aku mengirim pesan padamu. Pengisi daya ponselku tertinggal di kampus kemarin dan aku lupa mengabari mu lagi karna saat sampai di kampus, dosen tiba-tiba masuk sehingga aku tidak sempat mengisi daya ponselku” jawab Lylia dengan suara terisak.


Lylia memang sangat mudah menangis jika berurusan dengan Ragnala, Ragnala sangat berubah ketika usia Lylia semakin bertambah. Ragnala sudah tidak memperlakukannya seperti saat dia masih Remaja. ia bahkan meninggikan suaranya saat ini, dan merasa Ragnala seperti orang tua yang selalu memarahinya.


Ragnala yang melihat Lylia menangis kini sadar bahwa ia sudah sangat keterlaluan, namun ia benar-benar khawatir jika sesuatu terjadi pada Lylia.


Ragnala menghela nafas kasar, ia mendekati Lylia yang masih mennagis dan memeluknya.


“Aku hanya khawatir, kau tau kan aku hanya memilikimu, jadi kau harus memberiku kabar yang detail agar aku tidak perlu datang kemari hanya untuk mengetahui kabarmu”. Ucap Nala saat Lyia sudah berada dalam dekapannya.

__ADS_1


(Hanya memilikiku?) batin Lylia penuh pertanyaan.


Namun ia kembali mendefinisikan perkataan Ragnala barusan sebagai bentuk pedulinya terhadap Lylia.


“Jadi kau merasa terbenani datang kesini?” Tanya Lylia lagi yang melonggarkan pelukannya dan menatap Nala dengan bulir bening yang masih tertinggal di wajahnya.


“Bukan begitu, Arhan kwalahan mengkondisikan kantor, kalau Papa tau aku datang kesini dengan alasan seperti ini dia pasti marah karena aku memberikan tanggung jawabku pada Arhan”. Jawab Nala sembari menghapus air bening di pipi Lylia.


Lylia yang mengerti dengan apa yang Nala maksud hanya mengangguk dan meminta maaf.


“Masuklah ke kamarmu dan bersihkan dirimu dulu” ucap Nala yang kemudian melepaskan pelukanya.


Lylia langsung masuk kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Nala masih menunggu Jordan yang datang untuk mengantarkan pakaian ganti untuknya.


Nala selalu demikian, ia tidak pernah membawa pakaian kemanapun ia beprgian, ia selalu mencari pakaian baru setelah ia tiba di suatu tempat.


Beberapa saat kemudian, terdengar bel berbunyi, itu adalah Jordan yang mengantarkan kebutuhan tuan mudanya.


Apartemen Lylia memang hanya memiliki satu kamar, karena Lylia takut tinggal sendiri di ruangan yang sangat Luas.


Malam menyapa dan kedua bersaudara ini sedang berada di ruang tamu untuk menonton TV.


Nala yang sudah mengantuk merubah posisinya dan tidur di sofa dengan kepala ia jatuhkan ke pangkuan Lylia.


Awalnya Lylia merasa aneh dengan tindakan Nala, namun karena ia tidak paham dengan hal seperti ini dan menganggap tidak masalah karena itu kakaknya, jadi Lyia hanya diam dan meletakkan tangannya di wajah Nala agar Nala bisa tertidur dan tidak terkena cahaya Lampu diruangan itu.


Berbeda dengan Lylia, Nala yang saat ini merasakan jantungnya hampir melompat keluar membuatnya menjadi salah tingkah. ia berusaha menutup perasaannya agar Lylia tidak takut akan sikapnya.


Lylia mulai mengantuk dan ia tidak tega membangunkan Nala yang sudah terlelap di pangkuannya memilih menyandarkan kepala di sofa untuk beristirahat.

__ADS_1


Malam itu berlalu dengan cepat, pagi menyapa kedua insan yang masih tertidur dan membuat Nala tebangun lebih awal.


Nala menyadari bahwa semalaman ia tidur di pangkuan Lylia sedangkan Lylia tertidur dengan posisi duduk sepanjang malam. Nala merasa bersalah karena telah membuat Lylia tidak nyaman dengan tidurnya.


Nala menggendong Lylia kekamar dan meletakan tubuh adiknya perlahan di tempat tidur. Lylia yang tidak terganggu tidurnya hanya menggeliat kecil tanpa terbangun.


Nala memandang wajah itu dengan seksama.


(Apa semua orang setuju jika kau miliku?)


batin Nala yang berkecamuk melihat Lylia.


Lylia semakin dewasa, tentu saja dengan wajah dan sikap sebaik Lylia membuat banyak pria yang menggandrunginya, Nala takut Lylia jatuh hati terhadap pria lain. Namun Nala juga bingung bagaimana cara memberi tahu Lylia dan keluarga mereka.


Terlebih Lya tidak pernah mengetahui bahwa mereka hanya sepupuan, dan pasti sangat sulit bagi Lya untuk menerima kenyataan ini, Lylia pasti mengaggap Nala adalah benar saudara kandungnya.


Satu hal yang Nala percaya, Lylia tidak mungkin mau menganggap Nala sebagai Lelaki, melainkan seorang Kakak. Namun Nala juga harus memiliki Lylia sebagai Wanitanya, bukan sebagai seorang adik.


Lama Nala menatap wajah polos yang tertidur itu. Nala mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Lylia, saat bibir Nala hampir mengenai kening Lylia, tiba-tiba Nala berhenti dan turun ke bibir Lylia, ia memandangi sejenak bibir Ranum itu, sesaat kemudian ia mengecup bibir itu dengan lembut.


Darah Nala berdesir dengan cepat saat melakukan hal yang tidak senonoh itu, Lylia pasti akan menamparnya jika mengetaui hal ini.


Namun berbeda dengan yang ia bayangkan, Lylia malah memajukan bibirnya seperti mebalas ciuman Nala, namun Nala melihat Lylia masih tertidur. Bak emas jatuh dari langit, kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Ragnala, ia menggapai bibir itu lagi untuk kedua kalinya, bahkan kali ini ciuman itu terasa lebih bermakna dan sesuatu yang aneh dirasakan Nala saat ini.


Nala segera meninggalakn kamar Lylia dan kembali ke ruang tamu.


Ragnala mengusap wajahnya kasar, ia hampir saja membuat Lylia bangun dan ketakutan.


Ia harus menahannya dan ntah sampai kapan, hal ini membuat Nala semakin tidak karuan.

__ADS_1


Nala mencari ponselnya untuk menelpon Jordan dan memerintahkan Jordan agar mengantarkan Sarapan untuknya dan Lylia.


__ADS_2