RAGNALA

RAGNALA
Ragnala 13


__ADS_3

Malam menjelang hingga tengah malam tiba. Kabar dari orang tua Lylia juga masih belum ada.


Lylia tidak bisa tidur menunggu kabar. Lylia juga mencoba menelpon Nala beberapa kali namun tidak diangkat.


Lylia berfikir positif mengenai hal ini. Mungkin mereka sudah berada di pesawat dan ponsel mereka dimatikan.


Lylia mondar mandir dari kamar ke ruang tengah, hingga lelah berjalan Lylia tertidur di Sofa sepanjang malam hingga pagi menjelang.


Lylia bangun pukul 08.30wib, Lylia melihat ponselnya namun tidak ada juga pesan dari keluarganya. Sementara Lylia menelpon Jordan dan menanyakan hal memgenai orang tuanya, namun jawaban Jordan juga tidak mengetauhui kabar mereka. Lylia semakin dibuat bergetar, ia menelpon Nala berkali-kali namun tidak ada jawaban.


Kak nala uda berangkat belum? Bunda sama ayah kenapa belum sampai?


Pesan Terkirim ke ponsel Nala.


Namun tetap saja, tidak ada jawaban dari sana.


Drrrttttt drrrtttt


Panggilan masuk dari Bahira.


Lya, segera bersiap-siap, nanti kita terlambat.


Lylia hanya diam mendengar temannya berbicara.


Lylia dengan malas dengan pikiran kacaunya dan kembali ke kamar untuk memebersihkan diri, membawa beberapa keperluan dan menghubungi jordan, mereka menuju Apartemen Bahira. Mereka sudah menyewa penata rias untuk mereka bertiga dan mereka akan bersiap di apartemen Bahira.


Setibanya disana, sudah ada Rayyi yang membukakan pintu apartemen, sedangkan Jordan menunggu di parkiran.


“Belum ada kabar dari keluargaku, dimana mereka sekarang?” Apa mereka sibuk jadi tidak bisa datang?” Ucap Lylia pada kedua temannya.


“Tidak mungkin tidak datang, kau sendiri yang bilang bahwa mereka akan datang karena kau satu-satunya anak perempuan mereka dan mereka sangat menyayangimu.” Jawab Rayyi menenangkan Lylia.


“Mungkin mereka akan terlambat, tidak apa-apa, sampai sore kita masih bisa berfoto bersama” tambah Bahira lagi.


Lylia hanya diam mendengar penuturan kedua temannya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kini giliran Lylia untuk di rias. Wajah cantiknya, hanya dengan sedikit polesan sudah membuat ia bertambah Cantik dan anggun. Diusianya yang cukup dewasa membuat bentuk wajahnya semakin menakjubkan. Bahkan perias dan teman-temannya yang sudah bertahun-tahun melihat Lylia masih saja takjub dengan bentuk wajah sempurna ini.


Sudah pukul 10.20wib. Mereka semua bergegas ke kampus karena sebentar lagi acara akan di mulai.


Setibanya di kampus, kedua orang tua dari Rayyi dan Bahira bahkan beberapa teman-teman Mereka menghampiri mereka dan bersama-sama ikut ke Aula dimana tempat acara itu diselenggarakan. Hanya Ibu dan Ayah dari satu mahasiswa yang boleh masuk ke dalam.


Lylia mulai dilingkupi kesedihan di hari bahagianya.


ia melihat semua orang tua dari teman-temannya hadir, hanya orang tuanya yang tidak datang.


Lylia tidak pernah merasa sesedih ini selama hampir 24 tahun di hidupnya. ia bertahan dan berusaha agar tidak menangis agar semua orang tidak teralihkan perhatia mereka pada nasib buruknya hari ini.


Acara di mulai dan kini semua orang fokus pada pembawa acara wisuda. Beberapa mars kampus dan kedokteran di nyanyikan bersama di Aula.


Dan kini tiba pada pengumuman Penerima Nilai cumlaude di angkatan ini.


“Lylia Calistya Basqara” Lylia yang tidak fokus tubuhnya di guncang oleh Bahira di sampingnya.


“Lylia maju kedepan, kamu Cumlaude, kamu disuruh kasih beberapa kata motivasi” ucap Bahira.


“Selamat pagi untuk semua yang berada di ruangan ini. Sebelumnya terimakasih kepada Dosen yang selalu memberikan banyak ilmu kepada saya dan selalu membimbing saya serta mahasiswa dan siswi lain untuk terus bekerja keras dalam belajar.


Sejak SMP, saya sudah menyukai kedokteran, Paman saya Dartama Presetya adalah seorang dokter Bedah yang sangat pintar. Saya sangat senang dengan beliau karena memberi banyak cerita-cerita menarik di dunia kedokteran. Saat itu saya berfikir bahwa saya harus bekerja sama dengan paman saya suatu saat nanti.


Saya memiliki 2 Ayah yang mana salah seorang ayah saya adalah paman yang sudah saya anggap seperti seorang ayah, seorang ibu dan seorang kakak laki-laki. Mereka harusnya berada disini hari ini namun karena suatu kendala sehingga mereka mungkin terlambat. Mungkin saja mereka sedang berada di luar ruangan saat ini.


Oleh karena itu saya ingin berterimakasih yang sangat banyak kepada keluarga saya. Dari kecil saya tidak pernah kekurangan banyak cinta. Mereka semua bekerja keras untuk membuat saya tidak kekurangan.” Lylia meneteskan air matanya dan berhenti sejenak berbicara.


“Hanya ini yang bisa saya sampaikan, semoga banyak generasi yang semakin menyukai bidang kedokteran supaya bisa lebih banyak orang yang bisa mengobati orang-orang yang sakit”. Lylia menutup pidatonya dan di hadiahi tepuk tangan dari seluruh penghuni Aula saat ini.


Acara Wisuda selesai dan suluruh wisudawan meninggalkan Aula dan keluar bersama untuk berfoto.


Lylia sibuk dengan ponselnya dan melakukan panggilan beberapa kali ke ponsel kedua ayahnya dan juga bundanya, namun tidak satupun dari ponsel mereka yang aktif.


Lylia memilih meninggalkan acara foto bersama itu dan pulang ke apartemennya.

__ADS_1


Jordan yang saat itu berada di parkiran menunggu Lylia dan mengemudikan mobil dengan cepat.


“Nona, bereskan barang-barangmu dan kita akan kembali ke tanah air sore ini” ucap Jordan pada Lylia saat dalam perjalanan menuju apartemen.


“Memangnya ada apa pak?” Tanya Lylia heran.


“Nona akan tau saat nona tiba disana. Ini adalah perintah tuan muda”. Ucap Jordan menambahkan.


“Kak Nala menghubungi bapak?” Tanya Lyia lagi


“Benar nona”


(Dia bahkan tidak mengangkat telponku, ada apa dengan orang itu.) batin Lylia


Setiba mereka di apartemen, Lylia menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa kembali ke negaranya. Tidak menunggu lama, Jordan sudah kembali dan menjemput Lylia untuk ke bandara.


Lylia yang merasa aneh karena terlalu tergesa-gesah hanya menyimpan banyak pertanyaan di benaknya, mengingat kata Jordan bahwa semua akan terjawab saat mereka sudah sampai, lylia memilih diam dan tidak bertanya.


...****************...


Udara panas Indonesia terasa membakar kulit cantik Lylia. Hiruk pikuk di jalan menandakan Lylia sudah berada di Tanah kelahirannya.


Lylia sudah tidak sabar sampai di kediamannya.


Beberapa jam kemudian Lylia tiba di loby rumahnya.


Lylia disambut dengan karangan bunga yang sangat banyak sejak memasuki Area gerbang rumahnya.


Lylia gemetar, ia hampir tidak bisa berjalan dan lulutnya menjadi lemas. Ia melangkah dengan pelan menuju rumahnya untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Lylia, melihat semua keluarganya sedang berada dalam rumahnya saat ini, Safina yang melihat Lylia langsung menghampiri Lylia dan memeluknya.


Lylia yang masih bingung melerai pelukan Safina dan kembali berjalan kedapan ke ruang tengah, seketika ia tidak mampun menahan tubuhnya, ia terkulai lemas di lantai saat melihat tiga peti di depan seorang laki-laki yang tengah duduk menunduk menghadap peti itu, dan tiga foto dimana terdapat wajah kedua Ayahnya dan ibunya yang sudah di lingkari bunga.


Dunianya hancur, Lylia gadis malang itu jatuh pingsan di lantai.

__ADS_1


__ADS_2