RAGNALA

RAGNALA
Ragnala 14


__ADS_3

“Lyaaaaa” teriak Sania ibu Arhan.


Mendengar nama Lylia di sebut Nala melihat kebelakang dan menemukan Lylia yang sudah tergeletak di lantai. Nala bangun dan langsung menghampiri Lylia. ia membawa gadis yang tidak sadarkan diri itu ke kamarnya.


Nala melihat Lylia dengan tatapan Ibanya, mengingat banyaknya panggilan yang tidak ia jawab, begitu banyak pesan yang ia abaikan, bahkan sampai hari ini, Lylia terus menghubunginya untuk menanyakan Kehadiran Mereka di hari wisudanya.


Malam itu, Nala sedang berada di rumah dan mendengar kabar dari Arhan mengenai pesawat yang di tumpangi orang tuanya menabrak pagar pembatas lapangan penerbangan karena hilang kendali, Naasnya Pesawat itu meledak dan tidak satupun diatara penumpang yang selamat, bersyukur tubuh Orang tuanya tidak terbakar karena pemadam api langsung tiba saat itu. Namun tetap saja, karena benturan itu membuat nyawa ketiganya tidak terselamatkan. Sejak malam saat di rumah sakit dan pagi menjelang Nala tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya menunduk, menangis hingga Lylia datang. Ia sadar bahwa tinggal ia dan Lylia yang tersisa dari keuarga Manaf.


Nala tidak pernah berfikir hal ini akan terjadi, ia semakin yakin saat memandangi wajah Lylia bahwa ia memang di takdirkan untuk menjaga Lylia sebagai seorang sadara. Nala kembali menitikan air matanya di kamarnya dan di depan Lylia yang tidak sadarkan diri.


Hampir setengah Jam Lylia tidak sadarkan diri, dan saat ia terbangun, Lylia histeris bangun dari tempat tidurnya dan kembali ke ruang tengah.


Saat berada disana, ia kembali bergetar, jantungnya berdegup kencang, ia kembali menangis.


“Harusnya aku tidak menyuruh kalian datang, harusnya aku wisudah sendiri dan pulang, maka hal ini tidak akan terjadi. Bunda, papa?” Lylia menghapiri peti itu satu persatu kemudian terduduk dilantai dan menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan. Lylia kehilangan Segalanya, Hidupnya, keluarganya, kini hanya tersisa ia dan Kakaknya didunia ini.


Semua orang ke pemakaman untuk mengantarkan alm ke peristirahatan terakhir mereka.


Nala yang memegangi Lylia disampingnya melihat adiknya yang penuh air mata dan takut jika Lylia akan pingsan kembali


Betapa ia merindukan Lylia yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, namun saat Lylia kembali, ia malah kehilangan Orang tuanya.


Nala juga memngingat betapa terpukulnya Lylia dihari bagianya ia dan keluarganya tidak hadir, malah hal mengenaskan ini terjadi.


Stefi yang juga hadir di tempat itu mendekati Nala dan menghibur nala dengan mengelus punggung Nala. Nala yang tidak nyaman ingin pergi dari samping Stefi namun mengingat waktu yang tidak tepat membuat Nala membiarkan semua tindakan Stefi terhadap dirinya.


Acara pemakaman selesai, Semua orang satu persatu meninggalkan area pemakaman sambil satu persatu dari mereka juga menyampaikan rasa prihatinnya terhadap Nala dan Lylia.


Safina yang masih berada di sana saat itu memeluk Lylia dan ikut menangis. Arhan dan yang lainnya Juga menguatkan Nala.


Kini, tinggal lah Lylia dan Nala di pemakanan itu.


Lylia bangun dari posisinya duduknya dan berjalan menuju mobil dan diikuti Nala dari belakang.


...****************...

__ADS_1


Malam menjelang, dirumah besar kediaman Manaf hanya tersisa dua orang anak yang masih berada dalam kesedihannya.


Lylia keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang masih sembab karena menangis, ia bahkan masih menggunakan pakaiannya sejak dari bandara.


Lylia menuju ruang tengah dan melihat Nala tengah duduk melamun di Sofa.


Lylia memandangi Nala dari kejauhan dan mengingat pesannya yang memaksa Nala untuk datang. Lylia bersyukur Nala tidak berangkat bersama orang tuanya karena paksaannya, Jika Nala pergi bersama mereka, mungkin di dunia ini hanya tersisa Lylia seorang.


Lylya kembali menangis dan berjalan perlahan menghampiri Nala.


“Kak” ucap Lylia pelan namun masih di dengar oleh Nala.


Mendengar hal itu Nala hanya diam tanpa melihat ke arah sumber suara.


Lylia semakin merasa bersalah dan kembali menangis, ia berfikir Nala marah karena ia menjadi penyebab semua kecelakaan ini.


Mendengar isak tangis Lylia di belakangnya, Nala bangun dari duduknya dan menghampiri Lylia, membawa Lylia ke dalam pelukannya sehingga tangisan Lylia semakin pecah dalam pelukan Nala.


...****************...


Pagi menjelang, Nala terbangun dari tidurnya, ternyata ia tengah berbanring di Sofa dengan Lylia yang masih tertidur dalam pelukannya.


Nala bangun dengan perlahan dan memposisikan Lylia dengan baik agar tidak terjatuh.


Nala mencoba mengingat yang terjadi tadi malam, mengapa ia bisa tertidur bersama adiknya di sofa, namun tetap saja ia tidak ingat dan semakin membuatnya pusing.


Nala menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Nala tidak pergi ke kantor hari ini dan pekerjaan di serahkan kepada Arhan.


Suara Bel berbunyi, Nala membuka pintu dan menemukan Stefi di depan pintu.


“Nala, kenapa kamu yang buka pintu? Pembantumu semua dimana?” Ucap Stefi yang heran melihat Nala membukakan pintu.


“Mereka semua ku suruh pulang, aku dan adikku ingin menenangkan diri”. Jawab Nala.

__ADS_1


“Ini, aku fikir kamu belum makan, jadi aku membawanya untukmu”. Ucap Stefi sambil menyodorkan plastik berisi makanan untuk sarapan Nala.


Nala menerimanya dan mempersilahkan Stefi masuk.


Stefi terseyum dan berjalan di belakang Nala menuju ruang tamu.


Saat berada di ruang tamu, Nala lupa bahwa ada Lylia yang masih tertidur disana.


Nala berjalan dengan cepat dan membangunkan Lylia dengan pelan, namun yang di bangunkan sama sekali tidak terganggu tidurnya, sehingga membuat Nala mengangkat tubuh Lylia yang tertidur dan memindahkan Lylia ke kamarnya.


Menyaksikan hal itu membuat Stefi sedikit kesal.


(Sudah besar masih saja di gendong) batin Stefi.


Ntah mengapa walaupun Stefi tau bahwa Lylia adalah adik Nala, namun Stefi merasa aneh dan tidak suka dengan Lylia. Namun di depan Nala, Stefi tetap bersikap baik.


...****************...


Nala kembali dari kamar dan menemui Stefi, hingga setelah beberapa saat berbincang Nala mengatakan akan Masuk untuk beristirahat. Stefi mengerti maksud Nala yang masih bersedih, ia pamit pulang dan memberikan waktu untuk Nala istirahat.


Lylia menggeliat di tempat tidur dan melihat sekelilingnya.


(Kamar kak Nala) batin Lylia.


(kenapa aku disini?) batinnya lagi


Lylia bangun dan berjalan keluar, melihat Nala yang berada di ruang makan menyiapkan makan membuat Lylia mengingat bundanya dan Lylia kembali menangis.


Tangisan Lylia pecah di depan tangga, Nala mendengar Lylia yang menangis seperti anak kecil membuatnya berjalan menghampiri Lylia dan membawanya ke meja makan untuk sarapan.


“Kak, ayo pindah dari sini, ayo kita tinggal disebuah apartemen.” Ucap Lylia yang masih belum memakan Sarapannya.


“Kenapa?” Tanya Nala heran dan menjeda makanya sejenak.


“Aku rindu Papa dan bunda setiap melihat apapun di rumah ini” air mata Lylia kembali mengalir.

__ADS_1


Nala mengusap pipi mulus adiknya dan kembali memeluk Lylia yang masih menangis.


“Akan ku fikirkan” ucap Nala yang masih memeluk untuk menenangkan Lylia.


__ADS_2