RAGNALA

RAGNALA
Ragnala 11


__ADS_3

Bel berbunyi, Jordan sudah tiba dengan mambawa beberapa macam makanan untuk sarapan Nala dan Lylia.


“Kak?” Lylia muncul di balik pintu kamar dengan wajah khas orang bangun tidur. Bahkan tanpa polesan Lylia benar-benar sangat mengagumkan.


“Hm” hanya satu kata tanpa arti itu yang keluar dari mulut Nala.


Lylia datang duduk disamping Nala dan ingin bergabung untuk makan.


“Cuci wajah dan tanganmu” ucap Nala melihat Lylia yang hampir menyentuh makanan tanpa mencuci tangannya.


Dengan wajah malas Lylia bangun dari duduknya menuju kamar untuk membasuh wajah dan tangannya.


Sesaat kemudian ia kembali ke ruang tamu dengan rambut yg di kuncir dan langsung mengambil makanan untuknya.


“Aku akan kembali siang ini” ucap Nala ditengah-tengah kegiatan sarapan mereka.


“Kenapa sangat cepat?” Jawab Lylia dengan wajah cemberutnya.


“Hanya satu hari? Lalu kapan kakak akan datang kesini lagi?” Tambahnya lagi.


“Banyak kerjaan yang harus di selesaikan, jika ada waktu aku akan kesini lagi” jawabnya.


“Baiklah” ucap Lylia pasrah.


Baru saja kakaknya datang kemarin, tapi hari ini sudah mau pulang, mereka bahkan belum sempat pergi bersama.


Drrrtttt drrrtttt


Panggilan masuk dari Louke.


Nala melihat layar ponsel Lylia dan tentu saja dia tidak mengenal siapa yang menelpon Lylia pagi-pagi begini.


Lylia hanya melihat ponselnya namun tidak mengangkat ponselnya.


“Siapa? Mengapa tidak mengangkatnya?” Tanya Nala pada adiknya yang mengabaikan panggilan itu.


“Senior di kampus, dia mahaiswa kedokteran tingkat tengah”. Jawabnya singkat.


“Lalu mengapa tidak mengangkatnya?” Tanya Nala lagi.


“Aku sedang makan, lagi pula aku tidak suka mengangkat telpon. Jika ada yg penting dia akan mengirim pesan”. Jawab Lylia asal.

__ADS_1


“Kau akrab dengannya?” Tanya Nala untuk kesekian kalinya seperti sedang mengintrogasi.


“Tidak kak, aku sempat menabraknya dan ponselnya terjatuh. Aku mengganti ponsel baru untuknya, dan dia ingin berteman, aku terima karena merasa bersalah”. Jelasnya


“Baiklah, hati-hati dengan laki-laki”. Ucap Nala yang sebenarnya tidak memperbolehkan Lylia dekat dengan Laki-laki manapun, namun ia tidak mungkin mengungkapkan hal itu, itu akan terdengar aneh bagi siapa saja yang mendengarnya.


“Hmm” jawabnya singkat


...****************...


Jam berputar berkeliling mengitari angkat-angka yang tersusun rapi, tidak terasa sekarang sudah pukul 13.00wib saatnya Nala kembali dan harus meninggalkan Lylia sendiri lagi di Negara ini.


Nala selalu kesal dengan saat-saat seperti ini, saat dimana ia harus meninggalkan Lylia lagi.


Diperjalanan Nala tenggelam jauh dalam Lamunannya. Memikirkan tentang statusnya dan Lylia.


Bagaimana tidak, ia sudah jatuh hati kepada gadis yang baru saja beranjak dewasa itu tidak tau sejak kapan. Namun disisi lain, ini akan menyakiti hati bunda dan kedua ayahnya. Mereka membesarkan Nala dengan baik, Nala tidak pernah kekurangan kasih sayang walaupun ia di lahirkan kedunia dan kehilangan ibunya. Bundanya, Dera, telah memberikan banyak cinta. Bahkan setelah Lylia lahir, Dera tidak pernah mengurangi kasih sayangnya pada Nala.


Bagaimana bisa mereka menerima semua kenyataan jika ia menginginkan adiknya sebagai wanitanya? Bagaimana tanggapan keluarganya, kerabatnya, para sepupunya, dan alm kakeknya?. Semua pasti akan mengutuknya, ia sangat egois, ia bahkan tenggelam dalam harapannya. Ragnala Rafadra Harzaqh yang ada dalam fikirannya saat ini bagaimana untuk tetap menjalani hidup dan melupakan perasaannya pada Lylia Calistya Basqara.


Lama waktu berlalu, akhirnya Nala tiba juga di Negara yang tidak asing ini, ya, Negara kelahirannya dan di Negara inilah ia di besarkan.


Pagi ini Nala kembali ke kantor dengan perasaannya yang baru. Seperti yang telah ia janjikan pada pikiran dan dirinya, bahwa ia akan memulai hidup dengan menghilangkan keinginan-keinginan konyolnya. Ia harus menganggap Lylia sebagai adik kandungnya. Lylia harus mendapatkan seorang laki-laki baik dan Lylia harus menikah dengan cepat agar ia bisa menjalanai hidupnya dengan menerima kenyataan.


Nala berjalan dengan gagah seperti biasanya. Ragnala memang sangat memukau dimanapun dia berjalan. Saat ia melewati suatu tempat, semua orang pasti akan memujinya.


Di depan Lift khusus keluarga Manaf sudah berdiri dengan gagah seorang Arhan Dito yang menunggu kedatangan kakak serta atasannya itu.


Pintu lift terbuka, dan kedua bersaudara itu menaiki lift menuju Lantai 12 Ruangan khusus CEO Perusahaan Manaf.


“Stefi sudah berada di ruanganmu, ia menunggu setengah jam yang lalu, aku menyuruhnya menunggu di ruanganmu.” Ucap Arhan sembari melewati lorong-lorong pendek menuju ruangan Nala.


Setiba di ruangnya, mereka langsung di hadapkan dengan Stefi yang tengah duduk di Sofa dengan anggun.


Dengan senyum manisnya Stefi langsung berdiri dan menyambut kedatangan Nala.


Nala menghampiri Stefi dan menyambut kedatangan stefi dengan baik.


“Kau berubah sangat banyak” ucap nala sambil mengulurkan tangannya.


“Seperti?” Ucap Stefi kemudian.

__ADS_1


“Semakin anggun dan dewasa” Jawab Nala asal.


Mendengar hal itu membuat wajah Stefi menjadi merah dan merona. Hal itu tak luput dari pandangan Arhan.


Mereka berbincang dengan santai di sofa, membicarakan pekerjaan dan ya, Nala langsung menerima Stefi untuk bekerja sebagai Sekretarisnya.


Disini, stefi hanya akan duduk di depan ruangan Nala, mencatat beberapa jadwal Nala di dalam Negri, sedangkan Jadwal pribadi Nala akan di lakukan oleh Arhan. Dan Arhan sendiri tetap menjadi orang yang akan terus bersama Nala.


Awalnya Stefi menginginkan posisi seperti Arhan agar ia bisa terus bersama Nala, namun ia tidak mengungkapkan hal itu, posisi ini juga bagus, ia bisa dengan leluasa mendekatkan diri dengan Nala.


“Baiklah Stefi, mulai hari ini kau sudah bisa bekerja, Arhan akan mengajarimu” ucap Nala kemudian kembali ke mejanya.


Arhan yang sudah mengerti dengan gerak gerik Nala langsung mempersilahkan Stefi untuk keluar ruangan dan mulai mengajari Stefi tentang apa-apa saja yang harus Stefi lakukan saat sedang bekerja.


...****************...


“Safina” ucap Arhan saat berada di depan pintu ruangan Safina.


“Kakak” jawab Safina antusias. Safina langsung berlari menghampiri Arhan.


“Sudah mau makan siang?” Ucap Safina kemudian.


Arhan hanya menyunggingkan seyum dibibirnya.


“Ajak Felix dulu”. Kata Safina.


“Tidak usah, dia akan makan bersama teman-temannya” jawab Arhan yang kemudian menggandeng tangan Safina keluar dari ruangan itu.


Safina, gadis manis ini hanya menuruti sepupunya.


...****************...


Drrrrttttt ddrrrrttt


Pesan masuk di ponsel Nala.


Sebuah foto dari Lylia, dimana gadis itu sedang berjalan-jalan mengitari kota paris dengan ditemani Jordan


Harusnya kakak masih disini sebentar saja supaya kita bisa pergi bersama.


Nala hanya membuka pesan itu sambil tersenyum melihat begitu banyak foto Lylia yang di kirim padanya. namun seperti biasa, Nala hanya membuka pesan-pesan Lylia tanpa memberikan respon.

__ADS_1


“Lylia Calistya, apa kau pernah Jatuh Cinta? Kau terlalu polos untuk gadis seusiamu.” Ucap Nala yang hanya di dengar oleh telinganya sendiri sambil terus memandangi foto-foto yang masih terus dikirim Lylia dengan tempat yang berbeda.


__ADS_2