
Beberapa tahun berlalu kini Lylia telah menyelesaikan Sekolah Menengah Atasnya. Lylia benar-benar menjadi seorang gadis yang sangat-sangat indah dan begitu cantik. Sedangkan Nala telah menyelesaikan perkuliahannya dan saat ini disibukan dengan Kegiatan kantor yang sangat memusingkan sembari menyambung pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Malam itu setelah semua selesai makan malam, Harzaqh membuka suara dan menyampaikan keinginan mereka dengan menyekolahkan Lylia ke luar negri. Lylia yang tidak keberatan hanya berdiam diri tanpa memberi komentar.
Namun Nala dengan jiwanya yang sudah menggebu dan menentang keinginan Keluarganya itu membuat Nala benar-benar terlihat sangat tidak suka.
“disini ada begitu banyak kampus pa, mengapa harus keluar negri?” Sela Nala saat ayahnya selesai berbicara.
“dia akan belajar dengan baik, biarkan dia mendapat suasana yang baru” ucap ayah Nala dengan yakin bahwa keputusan mereka sudah bulat.
“Tapi dia perempuan yang sangat manja pa, bagaimana mungkin dia bisa menjaga dirinya disana?” Sangkal Nala kembali.
“ini adalah keputusan yang sudah kami ambil, dan tidak ada yang boleh membantah keputusan ini” ucap ayahnya dengan yakin.
Nala hanya terdiam dan berhenti berkomentar.
Semua orang kembali ke kamar, dan Lya yang biasanya menonton Televisi di ruang tengah kini kembali ke kamarnya karena sangat canggung dengan kondisi yang baru saja terjadi.
“Nala, sayang. Bunda tau kamu khawatir dengan adikmu, tapi kamu tenang saja, kita sudah mengutus seseorang untuk menjaga Lya disana”. Ucap Dera bundanya berusaha meyakinkan Nala.
Nala yang memilih diam hanya membantu bundanya untuk membereskan piring-piring kotor itu, rasanya percuma berkomentar, keputusan orang tuanya selalu tidak bisa di ganggu gugat.
...****************...
Beberapa hari kemudian, semua orang bergegas ke bandara untuk mengantarkan Lylia, sedangkan Nala memilih berangkat ke kantor lebih cepat dengan alasan kerjaan menumpuk.
Basqara dan Harzaqh sudah paham dengan sikap Nala sehingga mereka membiarkan putra mereka bertindak sesukanya.
Di bandara semua orang menangis melepaskan kepergian putri semata wayang mereka.
Terlebih Lya yang sesenggukan karena tidak pernah berjauhan dari keluarganya.
Pesawat saat itu terbang dengan sangat baik mengantarkan Lylia ke negara seberang.
__ADS_1
Lylia yang masih saja menangis mulai memandangi ponselnya berharap ada pesan atau telpon dari sang kakak yang tidak ikut mengantarkannya ke bandara. Namun telpon itu tetap hening tanpa ada pembaritahuan penting sama sekali.
Lylia sangat kecewa dengan sikap Nala dan memilih untuk tertidur setelah lelah menangis cukup lama.
Setelah beberapa jam, tibalah Lya di tempat tujuannya. Lya merasakan suasana baru yang sangat menyenangkan. Berada di negara ini membuat suasana hatinya semakin membaik. Perlahan-lahan ia melupakan kejadian perpisahan dan sikap cuek kakaknya saat ia masih di negaranya.
Lylia membawa kopernya ke ruang tunggu, sesaat kemudian seorang laki-laki paru baya menghampiri dan menyapa Lylia.
“Dengan nona Lylia?” Tanya pria itu.
“Iyaa, benar. Maaf anda siapa?” Tanyanya balik.
“Saya Jordan nona, pengawal yang di tugaskan oleh tuan Basqara dan tuan Harzaqh untuk mengawal nona” sahut pria paru baya itu dengan sopan.
Lya yang sempat bingung dan tidak mudah percaya mulai menelpon orang tuanya dan menanyakan perihal pria yang mengaku sebagai pengawalnya.
“Hallo pa, apa benar papa mengutus seseorang bernama jordan untuk mengawal Lya?” Tanya gadis itu saat telpon terhubung.
Lylia mengangguk paham dengan apa yang disampaikan Ayahnya dan ia pun menjumpai Jordan dan meminta agar Jordan mengantarkannya ke apartemen yang sudah di sediakan oleh Ayahnya.
Tak berapa lama menyetir, kini Lya telah tiba di sebuah loby apartemen mewah dan dengan bantuan jordan Lya akhirnya masuk ke apartemennya.
Lya benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan tidur dikamar yang berbeda mulai sekarang dan tanpa sarapan pagi yang selalu di masakan oleh bundanya.
Lya membersihkan dirinya dan memilih untuk tertidur lebih awal. Lya akan menyusun semua barang-barangnya esok hari, karena Lylia merasa saat ini badannya seperti remuk akibat terlalu lama diperjalanan.
...****************...
Pagi menjelang Lya bangun dari tidurnya dan melihat sekeliling ruangan yang ia rasa sangat asing dengan kamar yang biasa ia tempati.
Lya mengerjapkan matanya beberapa kali dan mulai tersadar kembali bahwa ia kini sedang tidak di rumahnya.
Setelah semua nyawa Lylia terkumpul akhirnya ia bangun dari tempat tidurnya dan menuju dapur untuk mencari makanan.
__ADS_1
Lagi-lagi Lylia lupa bahwa ia sedang tidak berada di rumah. ia benar-benar frustasi karena merasa kelaparan saat ini. Namun Lya mengingat tentang jordan pengawal pribadinya. Lylia menelpon jordan dan memberitahukan bahwa ia sangat lapar saat ini. Tak berselang beberapa waktu akhirnya Jordan datang mangantarkan sarapan nonanya.
Setelah beberapa saat menahan lapar, akhirnya Lylia mengisi perutnya dengan makanan dari Jordan.
Lylia menyelesaikan makanannya dan bergegas merapikan barang bawaan yang sebelumnya ia biarkan berserakan di kamar.
Seharian ini Lylia benar-benar sangat kelelahan, ia selalu menelpon jordan untuk meminta hal-hal yang tidak ia temukan di Apartemennya.
Begitulah keseharian Lylia yang penuh dengan penyesuaian diri dengan lingkungan barunya yang tak lepas dari bantuan Jordan untuk segala kebutuhannya.
...****************...
Hari ini Lylia masuk kampus untuk pertama kalinya. Lylia benar-benar gugup menghadapi orang-orang disekelilingnya. Lylia adalah gadis baik walaupun ia terlahir dari keluarga yang sangat kaya dan memenuhi segala kebutuhannya, namun ia tidak pilih-pilih dalam hal pertemanan.
Hanya saja Lylia memilih untuk tidak memiliki teman yang sangat akrab, karena kata bundanya bahwa seseorang yang paling akrab pun bisa menjadi orang paling menyakitkan di waktu tertentu nanti.
Mengingat hal itu membuat lylia tetap berhati-hati dalam penyesuaian dirinya untuk tetap bersikap baik dan tidak menyakiti para teman-teman di libgkungannya.
“Hai?” Sapa 2 orang wanita yang sejak tadi memperhatikan Lylia.
Karena kecantikannya, dan postur tubuh yang sangat sempurna membuat Lylia sangat mudah untuk di ingat dan banyak orang-orang yang di buat penasaran olehnya. Hanya saja karena ia tidak banyak biacara, banyak juga di antara mereka enggan untuk menyapa duluan karena mereka berfikir bahwa Lylia adalah gadis yang sombong.
“Hai” jawab Lylia sambil menatap kedua orang di hadapannya.
“Kamu dari indonesia?” Tanya mereka lagi.
“Iya” jawab Lya singkat dengan senyum yang terukir di bibir ranumnya.
“Kenalin aku Rayyi dan ini temanku Baira” ucap Rayyi sambil mengulurkan tangannya.
“Lylia” jawabnya Lylia sambil membalas uluran tangan kedua wanita seumurannya itu”.
Ketiga orang itu berbincang ringan mengenai pengalaman pertama mereka saat masuk ke kampus dan di respon dengan baik oleh Lylia.
__ADS_1