
Chapter 1 Menyamar Jadi ART
Laila sengaja berdandan sebagai gadis kampung saat masuk dalam keluarga calon suaminya. Rambutnya yang biasa digerai dia sembunyikan dibalik jilbab. Dengsn begitu keher jenjangnya pun tak tampak terlihat. Lalu wajah cantiknya dibiarkan polos. Bahkan sengaja dia beri sentuhan bedak khusus untuk menciptakan beberapa titik, seakan bekas cacar. Beruntung dirinya sedikit menguasai mike up karakter, sehingga bisa memules bedak yang bisa menimbulkan wajahnya agak kecoklatan. Sehingga kulit aslinya yang putih bersih tak nampak lagi.
Baju panjang sederhana menutup tubuh langsingnya. Lengan panjang yang dikenakan menyembunyikan lengannya yang putih mulus. Kalau masalah kedua tangan dia tak perduli, tak mungkin mereka akan mempersoalkan kedua tangannya yang bersih dan terawat.
Penampilannya yang sederhana itu tentu saja jauh dari bayangan Laila si master bisnis lulusan Jerman. Mungkin saja dianggap sebagai gadis kampung yang bodoh oleh penghuni rumah calon mertuanya.
"Oh ini pembantu kita yang baru, Tante?" Sambut Monika gadis cantik yang tampil angkuh menatap Laila dari ujung kaki ke ujung rambut. Tatapannya merendahkan.
"Asisten rumah tangga sebutannya sekarang adalah ART," ujar Rindu adik dari Romi lelaki yang sudah dijodohkan dengan Laila.
"Sama sajalah intinya ya kerja beres beres rumah!" Ketus Monika.
"Satu lagi Mbak Laila ini adalah ART kita, bukan ART Mbak Monika."
"Tak lama lagi juga jadi pembantu kalau aku sudah menikah dengan Romi!" Tak mau kalah Monika melawan pada Rindu.
Laila terkejut reflek menatap Monika. Jadi dia sudah punya calon istri?
"Sudah jangan ribut ..." Laras melerai, lalu memandang pada Laila. "Namamu?"
"Erna, Nyonya," Lalila sangat sopan saat menyebut nama samarannya.
"Erna,"
"Ya Nyonya,"
"Bawa KTP, nggak?!" Monika mengingatkan.
"Ini ada Non ..." segera Laila mengeluarkan kartu tanda penduduk atas nana Ernawati.
Monika mengambil kartu tanda penduduk dari tangan Laila dengan kasar. Hal itu membuat Rindu cemberut.
__ADS_1
"Kok jadi dia sih yang berkuasa?!" Batin Rindu.
Monika memperhatikan kartu penduduk di tangannya. Sedangkan Laila menunduk seakan menyembunyikan wajahnya.
"Kok kain sih dengan kamu?!" Monika bersungut.
Dag dig dug dada Laila, bagaimana kalau penyamarannya ketahuan?
"Maaf Non itu foto saya masih agak mudaan, pakai kerudung lagi," sebisa mungkin Laila memberi alasan pada Monika.
Rindu segera mengambil kartu tanda penduduk dari tangan Monika. Memperhatikan wajah Laila.di pojok kartu. "Orang kalau nambah umur kadang memang berubah. Tapi cantikan yang sekarang, Mbak Erna,"
Laila menunduk khawatir Rindu dapat melihat perbedaan antara wajahnya dan wajah Erna.
"Ya sudah lagipula yang ngirim Erna kemari bukan orang lain masih sahabat Tante, kok," ujar Laras tak mempermasalahkan.
"Ayo Mbak Erna aku antar ke kamarmu di belakang sudah disiapi dengan Bik Tun," ajak Rindu.
Laila menurut mengikuti Rindu ke ruang belakang. Dimana di seberang gudang penyimpanan barang barang tak terpakai ada dua kamar. Satu kamarnya Atun pembantu yang sudah hampir lima belas tahun mengabdi pada keluarga Laras Candrawinata. Karena sudah umur maka nyonya rumah mencari satu lagi untuk bersih bersih.
"Bik ini Mbak Erna mau bantu bantu di sini, terserah saja mau bantuin apa," setelah berkata segera Rindu meninggalkan Laila dan Atun.
"Bik saya Erna pembantu baru di sini," Laila memperkenalkan dirinya.
"Ya Nyonya sudah memberitahu, " angguk Atun, "Nyonya tidak rewel bekerja di sini tidak usah diburu buru pelan pelan asal selesai,"
"Ya Bik,"
"Mbak ..."
"Panggil Erna saja, Bik," tersenyum Laila.
"Ya Erna bertugas membersihkan ruangan di dalam rumah, karena untuk di lusr rumah dan halaman sudah ada petugasnya. Si Karim bagiannya."
__ADS_1
"Ya Bik tugas apa saja saya lakukan," ujar Laila.
"Ya sudah istirahat dulu," ujar Atun pada Laila.
"Ya Bik terima kasih,"
*
Laila memasuki kamar khusus asisten rumah.tangga yang berukuran tiga kali dua meter. Sempit memang hanya bisa diisi satu tempat tidur ukuran satu orang dan sebuah lemari kecil. Hanya itu isinya.
Laila meletakkan tas berisi baju di lantai dekat tempat tidur. Di dalam tas pakaian itu sudah tersedia beberapa baju panjang dan jilbab yang dia beli di pasar. Lalu duduk di pinggir tempat tidur yang untuk beberapa lama tergantung misinya selesai, akan menjadi tempat tidurnya.
Lumayan capek juga perjalanan dengan busway dari Sebuah perumahan di Bagian selatan Jakarta, ke rumah keluarga Laras Candrawinata yang berada di sebuah perumahan di Jakarta Utara.
Teringat tadi pada gadis yang dipanggil Monika. Cantik sih, tapi kok terkesan sombong. Dan yang membuatnya terkejut dan tak nyaman adalah ucapan gadis itu.
"Tak lama juga menjadi pembantu aku kalau sudah menikah dengan Romi,"
Jadi Romi yang katanya akan dijodohkan denganku itu sudah punya calon?
Laila membuka tas berisi pakaian. Di dalam tas itu ada dua ponsel yang memiliki perbedaan begitu jauh.
Bak langit dan bumi perbedaannya. Yang satu ponsel jadul walau masih ada aplikasi cameranya. Yang satunya lagi ponsel bermerek yang jika dihitung nominalnya bisa dibelikan sebuah motor besar yang sedang tren dipakai anak muda. Bahkan Ibu ibu muda menggandrunginya.
Nah sekarang Laila membuka ponsel yang harus disembunyikan nantinya. Membuka galeri foto lalu mencari foto Romi yang dikirimkan mamanya minggu lalu jelang dirinya kembali ke Jakarta setelah wisuda gelar masternya.
Laila memandang sosok Romi yang gagah dan cukup tampan. Teringat ucapan mamanya tentang lamaran Candrawinata papanya Romi.
"Suami istri Candrawinata itu orang baik. Kami berteman sejak sama sama di bangku sekolah lanjutan atas. Tanpa sengaja kami bertemu tahun lalu. Dia menangis di kuburan papamu. Dia sedih karena tak sempat melihat papamu terakhir kali. Dikuburan papamu dia melamarmu untuk Romi. Dan sayang sebelum bertemu kamu penyakit jantung menyerang. Enam bulan lalu beliau meninggal.
Orang tua itu seenaknya buat janji dan melamar. Tapi anak anak mereka kan belum siap untuk ditunangkan. Coba lihat itu cewek yang ngeselin barusan ngakunya mau nikah sana Romi. Huh payah!
Laila ngedumel dalam hati.
__ADS_1
Untuk menolak takut khwallat sama orang tua, padahal dirinya juga sudah punya kekasih. Arya memang kurang disetujui oleh mama dan papanya. Lelaki muda berprofesi pembalap itu menurut orang tuanya tak layak karena pergaulannya yang bebas. Sebagai pembalap Arya Sanjaya kerap dikerubungi penggenar perempuan. Cipika cipiki diumbar di media. Menurut orang tuanya itu haram. Dan Laila juga setuju, karena sejak dua tahun menjalin kasih dengan lelaki itu dirinya menjaga untuk tidak terlihat bebas. Dia bisa menjaga dirinya.
bersambung ya