Rahasia Calon Istri Tuan Muda

Rahasia Calon Istri Tuan Muda
Bab. 4 Cemburu Pada ART


__ADS_3

Melihat Laila dan Romi saling tatap membuat Monika mencubit Romi.


"Apa apaan sih sayang lirik lirik pembantu," bisik Monika kesal.


"Bukan gitu aku kaget ajah ada asisten baru," balas Romi menarik pandangannya.


"Ya Tuan muda saya asisten rumah tangga baru di sini," sengaja Laila memberitahu pada Romi.


"Oh ya namamu siapa?" Romi menanggapi.


"Erna Tuan Muda," huh ternyata tuan mudaku ini tampan juga tapi kelihatannya genit. Lihat saja dia masih mencuri curi pandang padaku, dumel hati Laila.


"He Erna ngapain masih berdiri di situ!" Monika tak sabar mengusir Laila.


"oh ya, Non," bergegas Laila meninggalkan pasangan romantis itu.


"Kok aneh, ya tatap mata Erna seperti mencurigaiku," bisik hati Romi, "Ah nggak juga mungkin hanya penglihatanku saja ..."


Laila melewati Laras Candrawinata yang masih santai bersama Rindu di ruang tengah.


"Erna,"


"Ya Nyonya," segera Laras menghentikan langkah menunggu perintah dari pemilik rumah.


"Yang betah di sini, ya," ujar Laras Candrawinata dengan suara lembutnya.


"Ya Mbak Erna," sambung Rindu tersenyum.


"Ya Non," angguk Erna. "Ada yang mau dipesan, Non?"


Rindu menggeleng, "Nggak ada,"


"Kalau begitu saya permisi, Non, Nyonya,"


Anak dan ibu itu mengangguk. Segera Erna berlalu ke dapur.


"Erna kalau mau buat teh atau kopi barangkali buat saja. Nyonya memberi kebebasan pada semua asisten di sini kalau masalah makan dan minum," ujar Atun


"Ya Bik kelihatannya Nyonya orang baik dan penyabar,"


"Ya begitulah keluarga di rumah ini baik, cuma non Monika yang agak rewel,"


"Nah ini dia bisa tanya tanya si Monika pada bik Atun," batin Laila.

__ADS_1


"Bagaimana mau ngopi apa ngeteh saja,"


"Teh saja, Bik, biar aku buat sendiri deh," segera Laila membubuhkan gula pada gelas dan mengambil satu kantong teh kemudian menyiram air panas pada gelas tehnya.


"Ayo duduklah ..."


"Ya, Bik,"


Laila duduk di kursi yang ada di dekat dapur. Sedangkan Atun memotong sawi putih untuk persiapan sayur untuk makan malam.


"Non Monika cantik juga ya, Bik," mulai penyelidikan pertama tentang kekasih calon suaminya.


"Oh ya tapi sayangnya jutek,"


"Oh ya?"


"Memangnya kamu nggak dijutekin?" Atun menatap Laila. Pekerjaannya memotong sawi putih sudah rampung. Tinggal meracik bumbunya.


"Ya begitulah," nyengir Laila.


Atun mulai mengupas bawang putih dan bawang bombay. "Padahal tuan muda sudah dijodohkan sama anak sahabat lamamya,"


"Masa si, Bik, tapi kok ada pacarnya?!" Laila antusias bertanya.


"Nyonya dan Non Rindu gimana, Bik?"


"Nyonya itu orangnya sabar dan lembut, walau kurang suka pada Non Monika beliau tak mau langsung menunjukkan, tapi beda dengan Non Rindu dia sih orangnya kadang ceplas ceplos. Non Rindu nggak suka Non Monika lama lama di sini,".


"Ya walau mereka tak suka pada Non Monik tapi mau dikata apa, Bik, kan Tuan muda cinta pada gadis itu,"


O ...oh Erna merasa sudah banyak bicara. Sebagai asisten baru tak seharusnya dia banyak cakap.


"Ya juga, sih,"


Laila sudah menghabiskan secangkir teh lalu dia berdiri. "Saya masih kosong pekerjaan sebaiknya bantu Bik Atun saja, ya di dapur,"


Atun menoleh pada Laila. "Boleh, tapi mendingan beresi ruang makan dulu. Menyiapkan piring fi meja. Ada empat orang. Jangan lupa dua piring diletakkan di kanan kiri ujung meja untuk Tuan muda dan Nyonya,"


Laila mengerti apa yang dimaksud oleh Atun. Segera dia menuju ke ruang makan yang cukup luas. Meja makan juga cukup besar memiliki enam kursi. Dua kursi saling berhadapan di posisi meja yang memiliki ukuran lebih lebar. Dua kursi berhadapan di posisi kedua ujung meja.


Selesai sudah merapikan meja makan sekaligus menata piring dan gelas kosong.


Laila tertarik untuk mengganti bunga di vas yang diletakkan di sudut ruang makan di sebuah meja. Bunga yang ada di vas sudah tsk segar lagi. Mungkin sudah dua atau tiga hari tak diganti.

__ADS_1


"Bik ini bunganya sudah harus diganti. Apa di rumah ini memiliki tanaman bunga?"


"Oh itu ada di samping di dekat kolam renang,"


"Boleh saya memetik bunga di sana, Bik?"


"Boleh," angguk Atun."Namanya Bibik sudah tua jadi sering lupa mengganti bunga di ruang makan,"


Laila melangkah ke halaman samping. Di sana terhampar kolam renang ukuran sedang untuk sebuah keluarga, dan di sebelah kolam renang terdapat kebun bunga mungil.


Bibir Laila berdecak saat melihat beberapa tanaman bunga yang tumbuh subur. Ada mawar merah dan mawar putih. Sedap malam, Anyelir, dan Anggrek berderet digantung.


Karena bunga mawar putih sedang berbunga maka segera dipetiknya tiga tangkai mawar putih dan diisikan ke vas. Kemudian mengisi air pada Vas, lalu diketakkan kembali vas berisi bunga di tempat semula di ruang makan.


Ruang makan yang memiliki akses jendela ke ruang baca itu kini tercium lamat lamat wangi bunga mawar.


*


Tiba saatnya makan malam keluarga. Seperti yang selalu dilakukan asisten di rumah keluarga Laras Candrawinata, bahwa saat permulaan makan keluarga majikan asisten harus berada di sekitar meja makan.


Maka untuk pertamakalinya Laila bertugas melayani keperluan makan keluarga itu. Selama persiapan makan malam Laila berdiri menunggu aba aba perintah dari majikan.


Laras dan Romi duduk masing masing di ujung kanan dan kiri meja. Sedangkan Rindu dan Monika duduk berseberangan.


Hidangan cah sawi putih dan goreng ayam mentega serta dadar telur dan empal daging basah, serta goreng tempe yang setiap hari menurut Atun selalu ada di meja.


Monika merasa risih melihat Laila masih berdiri diantara mereka. Gadis yang sangat memperhatikan isi piring Romi langsung menyindir Laila.


"Kayaknya kita udah nggak butuh asisten deh, yuk mulai makan," ujar Monika mengusir secara halus supaya Laila tak lagi berada di ruang makan.


"Terima kasih untuk penataan meja dan bunga indah itu ya, Mbak Erna," lain Monika, lain pula Rindu.


"Sama sama, Non," tersenyum Laila, "Saya permisi dulu," pamitnya setelah merasa tak ada yang perlu diperhatikan dan tambahan pada acara makan majikannya.


Monika cemberut.


"Mbak Monik nggak perlu gitu juga pada Mbak Erna, dia di sini kan khawatir kita ini kurang sesuatu," celetuk Rindu merasa kesal pada tingkah Monika yang sok nyonya muda di rumahnya.


"Sudah jangan ribut ayo makan saja," ujar Romi memandang Monika dan Rindu.


Kedua gadis itu tak bersuara.


"Ma ayo kita makan?" Romi menatap Laras Candrawinata dengan tatapan teduh sebagai seorang anak pada ibunya.

__ADS_1


"Ya sudah jangan berdebat saat menghadapi rejeki yang diberikan Allah di meja makan." Laras Candrawinata memulai makan malam diikuti oleh kedua anaknya dan disusul oleh Monika si calon menantu yang kurang berkenan di hatinya


__ADS_2