
Laila masuk ke kamarnya. Hari ini Arya sedang mengikuti pertandingan balap mobil di Malaysia bersama group balap dari Jakarta atas nama group balap dimana mereka bernaung. Mereka berjumlah empat orang, dan dua mobil balap. Masing masing pasangan harus menyelesaikan setengah putaran yang berjarak sekitar lima puluh kilometer. Otomatis Kerjasama tim yang terdiri dua mobil itu harus menyelesaikan lima puluh kilometer.
Untuk menonton secara langsung jelas tak bisa. Tapi dia bisa menonton siaran tunda di you tube. Sekarang kirim pesan saja untuk memberi semangat.
(Selamat bertanding sayang, hati hati pulang bawa kemenangan, ya ...)
Pesan terkirim.
Satu menit kemudian pesan balasan datang.
(Oke sayang kamu juga semoga cepat ngantor, ya. Bye kecup dari jauh gambar hati berjejer tiga)
Laila tersenyum.
Hubungan dirinya dengan Arya tak mulus. Karena orang tuanya kurang suka dengan pergaulan Arya yang dinilai bebas. Banyak berita yang simpang siur tentang hubungan pembalap itu dengan beberapa gadis, ternasuk dari kalangan selebriti. Tapi Laila sangat memaklumi tentang pertemanan Arya dengan beberapa gadis dari berbagai kalangan. Walau terkadang tak dipungkirinya dirinta juga cemburu pada gadis gadis yang megidolakan Arya, dan bersikap bebas menurutnya demi mengambil hati Arya.
Pernah seorang gadis bernama Sonya selalu saja cipika cipiki dan peluk ketat jika bertemu Arya. Baik di lapangan, mau pun di berbagai acara.
"Nggak perlu cemburu darling itu kan fans berat," bela Arya saat Laila protes akan sikap berani Sonya.
Dan banyak lagi atraksi gadis lainnya yang tak ditampik oleh Arya. Akibatnya media menyorotinya sebagai pembalap playboy.
"Kamu akan makan hati punya calon seperti Arya, bagaimana sikap bebasnya jika tak berubah sampai kalian menikah nanti?!" Nasehat Risma ibunya Laila.
Laila menepis suara suara yang tak mengenakkan telingah tentang kekasihnya. Masih tahap penjajajakan, pikirnya.
(Assalamu'alaikum, Ma, sehat ya. Aku di sini sudah memasuki masa training, kalau sudah lolos nanti dikirim ke kantor yang di Jakarta)
Pesan untuk Risma terkirim.
Tak lama kemudian datang balasan dari mamanya.
(Wa' alaikum salam sayang, baik baik di Surabaya jaga kesehatanmu, ya, dapat salam dari keluarga Ibu Candrawinata. Mereka ingin bertemu denganmu setelah trainingmu selesai, Nak)
(InsyaAllah secepatnya selesai)
Laila membalas
"Maafkan saya, Ma, saya sudah berada di tengah calon besan Mama, hanya calon suamiku itu brengsek juga. Menerima perjodohan tapi mesra sama gadisnya, huh, memuakkan!" Batin Laila, nantilah Mama akan tahu sendiri
Setelah itu memasukkan ponselnya ke lemari dan sekaligus menguncinya. Lalu menyembunyikan kunci di bawah kasur.
__ADS_1
Setelah selesai dengan acara pesan singkat Laila keluar kamar.
"Oh," seru Laila menghentikan langkahnya karena hampir tabrakan dengan Monika. Huh nih orang di mana mana ada, dumel hati Laila.
"Heh kamu ini asisten macam apaan, majikan udah kelar makan malah ngumpet di kamar!" Tahu tahu Monika menghardiknya.
"Lho nih cewek darah tinggi, huh cari pacar emosian si Romi itu ..." batin Laila merasa kesal dan lucu menghadapi kecerewetan Monika.
"Saya hanya melihat ponsel saya kalau kalau ada pesan dari emak saya di kampung, maaf," sebisa mungkin Laila berlagak gadis lemah di hadapan Monika.
Muncul Rindu menatap pada Monika yang sok nyonya besar.
"Yaudah sana bersihkan mejanya!"
"Mbak Monika ini apa apaan, sih, semuanya dirumah ini kudu diawasin!" Tak mau kalah Rindu pun ketus pada Monika.
"Kalau sama ART jangan lemah. Iih aku nggak telaten punya Art kayak dia, tuh ..."
Laila bergegas ke ruang makan. Menyusun piring kotor bekas makan untuk dibawa ke dapur.
"Mbak Erna,"
"Ya, Non," sahut Laila yang pura pura sibuk dengan piring piring kotor. Sebisa mungkin dirinya jangan terlalu sering interaksi dengan adik si Romi ini. Bukan apa apa, dirinya tak ingin gadis yang masih berdiri di sampingnya itu terlalu mengenali garis wajahnya. Kan dalam penyamaran.
"Nggak apa apa, Non namanya juga mengingatkan," segera Laila lebur dengan cucian piring di wastafel.
"Syukur deh udah mau pulang dia, muda mudahan besok jangan balik lagi nggak enak aku kalau ada mak lampir terus terusan di sini,"
"Memangnya Non Monika menginap di sini, Non?"
"Oh manamungkin boleh sama Mama. Dia tuh datang pagi pagi terus gentayangan di rumah ini sambil nungguin Kak Romi pulang kantor untuk nganterin dia pulang," suara Rindu tampak tak suka saat menceritakan tentang Monika.
"Calon istrinya Tuan Muda, opo?" Laila berdebar dengan kekepoannya.
"Pacarnya Mas Romi,"
"Oh pacarnya,"
"Ya," setelah itu Rindu tanpa berkata lagi berjalan meninggalkan Laila.
"Non Monika itu nggak disetujui sama Tuan, sekarang Tuan sudah nggak ada ya mumpung mumpung dia ke sini terus," Atun menceritakan tentang riwayat Monika di rumah majikannya.
__ADS_1
"Nyonya setuju, ya, Mbok?" Laila tak bisa mengerim keingitahuannya.
"Sebenarnya, sih nggak setuju, kan Tuan Muda sudah dijodohkan dengan kerabatnya.
"Dijodohin?" Laila pura pura kaget.
"Ya sama anak sahabat lamanya"
"Terus Tuan muda mau tidak, Bik, sama cewek yang dijodohkan?" Berdebar dada Laila menunggu jawaban Atun.
"Kayaknya sih nggak suka Tuan muda dijodohkan,"
"Huh aku juga nggak mau kok Bik Tun sama lelaki yang sudah punya pacar." Dumel Laila tapi hanya dalam hati saja.
"Ma mau nganterin Monik dulu," pamit Romi pada Laras Candrawinata.
"Romi coba dipikirkan ke depannya hubunganmu sama Monika. Papa almarhum khawatir Monika hanya mengaturmu dengan egois jika sudah menikah nanti .. "
"Nanti sajalah kita bahas soal itu,"
Muncul Monika mendekat pada Laras ysng duduk di depan tekevisi.
"Tante saya pulang dulu, ya," dengan gaya yang sok sudah jadi menantu Monika menarik tangan Laras dan menciumnya.
Laras hanya tersenyum.
Kebetulan Laila akan ke ruang tengah untuk menawari majikannya jika butuh sesuatu jangan ragu untuk menyuruhnya. Gadis itu melihat dengan jelas adegan cium tangan dari Monika pada Laras Candrawinata.
Segera Laras sembunyi di balik bufet. Tapi jelas melihat ekpressi dari mamanya Romi. Walau tak kasar, tapi jelas kurang berkenan.
Setelah Romi dan Monika berlalu, segera Laila keluar dari persembunyiannya.
"Nyonya jika perlu untuk dibuatkan minuman atau apa gitu, saya ada di belakang, ya,"
"Sudah cukup Erna, jangan kamu bikin saya makin gemuk," tersenyum Laras Candrawinata.
Laila membalikkan badan. Tempatnya di belakang. Bisa dekat dapur, atau di sudut dekat gudang.. Kalau sudah tak ada pekerjaan bisa langsung masuk ke kamar.
"Ma lagian Kak Romi nggak bisa membiarkan Monika tiap hari ke sini mulu. "
"Kakakmu itu termakan rayuan Monika, Mama juga harus bicara serius pada kakakmu, kalau dia masih beetahan dengan Monika Mama tak bisa menggantung Laila yang sudah dilamar oleh papa kalian."
__ADS_1
"Padahal Mbak Laila kan master, ya, Ma?"
"Ya mata kakakmu sudah dipenuhi bayangan Monika ..." Laras Candrawinata jelas menginginkan Romi memilih Laila daripada Monika yang menurutnya kurang mengerri adap,"