
Chapter 3. Pandangan Pertama.
Romi keluar dari mobil. Seorang gadis berlari lari dengan senyum lebar menyambutnya. Gayanya bagai seorang istri menyambut suaminya.
"Hai sayang ..." seru Monika menggelayut di lengan Romi, lalu dengan gemas melayangkan ciiman kilat di pipi lelaki tercintanya.
"Kamu belum pulang sayang ...."
Monika cemberut sekaligus melayangkan protes? "Memamgnya aku tak boleh main ke rumah calon suamiku, ya, kan biar semakin akrab sama calon mertua dan adik ipar,"
"Ya kalau kamu suka sih tak apa, tapi seharian tak bosan hanya di rumah, bagaimana butik dan cafemu?" Romi menoleh sesaat pada perempuan pengusaha butik dan cafe itu.
"Kan ada Hari sama Nina orang kepercayaanku,"
"Oke,"
Seperti tak ingin berjauhan dari Romi bila sudah bertemu lelaki itu, tangan Monika merangkul lengan Romi sepanjang mereka masuk ke dalam rumah, bahkan ikut menemani kekasihnya menuju ke lantai atas.
Rindu yang kebetulan mau turun ke lantai bawah menahan langkahnya. Sengaja ingin melihat apakah kekasih kakaknya itu mau ikut masuk ke kamar pribadi sang kakak juga.
Supaya tak terlihat pasangan yang mulai menaiki tangga itu, segera gadis dua puluh tahun itu menyembunyikan tubuh rampingnya ke balik pilar. Maka dari balik pilar bisa leluasa melihat kelakuan Monika.
Rindu menunggu pasangan Romi dan Monika yang berjalan bersamaan kearah kamar Romi.
Rindu menahan napas saat melihat Monika masih tak mau melepas rangkulannya di lengan kakaknya.
"Awas ajah kalau sampai masuk ke kamar Kak Romi ...!" Sungut Rindu marah tapi dalam hati.
Tepat di depan pintu kamar Romi menghentikan langkahnya. Menoleh pada Monika.
"Belum muhrimnya ..." suara Romi lirih setengah berbisik. Tapi cukup ditangkap oleh Rindu yang senyum senyum bangga pada kakaknya.
"Kakakku memang the best ..." Rindu tersenyum simpul.
Setelah yakin Romi masuk ke kamarnya sendiri, dan Monika berjalan ke sofa lalu duduk dengan bibir sedikit ditekuk barulah diam diam Rindu menyelinap ke kamarnya sendiri.
Laila di dapur sedang menyiapkan teh untuk Romi. Dadanya berdebar saat kakinya melangkah meninggalkan dapur. Inilah pertamakalinya akan melihat langsung lelaki yang telah diterima lamarannya oleh mamanya di kuburan papanya tahun lalu.
Di tangga bawah Laila berpapasan dengan Rindu.
"Non Rindu mau dibuatkan teh juga?" Laila menawari gadis ceriah yang masih menatapnya.
"Nggak usah mbak,"
__ADS_1
"Oke ...eh baiklah saya mau mengantarkan teh tuan dulu ..." seperti melakukan kesalahan Laila agak kikuk.
"Oke deh," ujar Rindu langsung meninggalkan Laila. Setelah beberapa melangkah Rindu merasa ada yang aneh. Dia melihat bekas cacar di kedua pipi Laila yang berupa beberapa bercak itu agak memudar warnanya tak sejelas tadi waktu asisten baru rumah tangganya itu datang.
Laila rupanya tak menyadari jika saat dirinya cuci muka sebelum melangkah ke dapur rupanya mike up karakter bercak yang menggambarkan bekas cacar di kedua pipinya sedikit buyar, karena kena tekanan tangan dan siraman air warnanya sedikit pudar.
Laila sudah meletakkan cangkir teh di atas meja di teras depan kamar Romi. Saat dia mau meninggalkan teras muncul Monika.
"Buatkan aku juga secangkir teh dan bawa ke mari!"
Laila mengangguk mendengar perintah Monika."Baik, Non,"
"Siapa nama kamu tadi?" Monika menatap jijil pada bekas cacar di muka Laila.
"Erna, Non,"
"Ya nggak penting namamu," sungut Monika, "Yang penting kamu cuci tangan yang bersih saat membuat teh untuk aku. Jangan coba coba pegang muka kamu, jijik aku!"
Laila terkejut mendengar ucapan Monika yang sinis. Tentu saja menyinggung soal bekas cacar di kedua pipinya. Walau tersinggung soal penghinaan Monika pada dirinya, tapi Laila cukup bahagia. Artinya dirinya cukup berhasil menyamar sebagai gadis kampung lugu dan muka bopeng bekas cacar.
"Saya mengerti, Non," santun suara dan sikap Laila.
Namun rupanya hal itu tak cukup bagi Monika, "Hei bukan itu jawabannya sok amat lu!" Entah kenapa selain jijik dirinya tak suka melihat kedatangan Laila ke rumah calon suaminya.
Rupanya akhting Laila berhasil, hingga Monika merasa senang bisa menekan Laila. Huh kalau aku sudah jadi istri Romi pasti aku pecat pembantu penyakitan kayak gadis kampung ini! Batinnya.
"Ya sudah sana!"
'Baik, Non," segera Laila meninggalkan Monika.
"Ada apa kamu kok ketus sih ngomong sama siapa.
Tapi saat kaki Laila baru meniti tiga tangga kebawa terdengar suara lelaki. Spontan dia menghentikan langkahnya. Tiba tiba dadanya berdebar.
"Apa itu Romi?" Batin Laila. Kenapa aku jadi gugup ya?
"Itu pembantu di sini. Udah kampungan, ih mukanya bekas cacar lagi. Kalau aku sudah resmi jadi istrimu aku pecat dia!"
Romi tertawa, "Segitunya?"
"Aku yang akan nendang kamu keluar dari rumah ini gadis murahan!" Gerutu Laila spontan tapi hanya dalam hati.
Setelah itu Laila bergegas menuruni anak tangga khawatir kelamaan menyajikan teh permintaan pacar dari lelaki yang dijodohkan dengan dirinya. Tapi langkahnya terhenti saat Laras Candrawinata.menyebut namanya.
__ADS_1
Laila menepi ke balik lemarin pajangan untuk dapat mendengarkan kelanjutan obrolan anak dan ibu itu.
"Ya tahun lalu Papamu melamar anak sahabat kami namanya Laila. Sayangnya gadis itu masih menyelesaikan masternya di Jerman. Sampai Papamu meninggal perjodohan itu belum sempat dilanjutkan. Tapi lamaran papamu tetap diingat oleh Risma mamanya si Laila. Kabarnya bulan ini dia sudah menyelesailan kuliahnya dan pulang ke Jakarta."
"Coba lihat fotonya Ma?" Rindu sangat merespon.
"Ini," diberikannya ponsel pada Rindu yanh dilayarnya terdapat foto Laila
"Wah cantik auranya positif ..." gumam Rindu.
Laila hampir saja tertawa mendengar Rindu memuji dirinya.
"Huh Monika putus walau dua juga cantik. Soknya itu, Ma, aku nggak tahan, kenapa Kak Romi lebih milih Monika, sih!"
"Pertama dia sudah pacaran dengan Monika, kedua antara Laila dan Romi belum pernah bertemu. Ketiga papa kalian meninggal jadi perjodohan itu belum dibicarakan lebih lanjut lagi."
"Tapi sekarang si Laila sudah pulang katanya yaudah dilanjut saja sama Mama mamanya Laila, kan sudah ada pesannya Papa. Huh stres aku kalau punya ipar kayak ceweknya kak Romi itu. Sok ngatur, sok kuasa di rumah ini!"
Laila terkejut menyadari sudah kelamaan menguping.
Pembicaraan terhenti saat Laila melintas. Dengan sedikit membungkukkan badan Laila menatap Laras Candrawinata.
"Apakah Nyonya mau dibuatkan minum, tdh atau ..."
"Sore dingin dingin begini buatkan aku air jahe tapi gulanya gula merah aren,"
"Baik Nyonya," mengangguk Laila.
"Kamu tanya sama bik Atun dia yang menyimpan gula arennya,"
"Ya Nyonya, permisi,".segera Laila berlalu ke belakang.
Dibantu Atun selesai sudah dua cangkir minuman hangat untuk sore yang sejuk. Secangkir air jahe gula aren dan secangkir teh manis.
Entah kenapa dada Laila berdebar saat melihat Romi dan Monika duduk bersisian. Tangan mereka saling bertaut.
"Maaf Tehnya Non," seru Laila dengan suara lirih karenan kikuk.
Romi dan Monika serempak menoleh pada Laila yang masih berdiri memegang nampan berisi cangkir teh.
Tapi tatapan Laila reflek pada Romi dan seakan terkunci di manik mata lelaki yang juga menatapnya itu.
bersambung.
__ADS_1