Rahasia Calon Istri Tuan Muda

Rahasia Calon Istri Tuan Muda
Bab.8 Tiga Gadis Tiga Karakter


__ADS_3

Dengan ekor matanya Laila melirik pada Arya yang menuju mobilnya. Barulah dia berani menengok ke belakang saat lelaki itu membuka pintu mobilnya. Bukan saja menoleh, tapi segera membalikksn badannya memandang pada mobil milik Arya yang mulai tancap gas.


Seandainya saja dirinya tak dalam penyamaran ingin beeteriak


Laila tak membawa kunci rumah. Sebaiknya mengetuk Mbok Atun saja lewat pintu samping, batinnya.


Baru saja membalikkan badan untuk melangkah ke arah halaman samping untuk menuju ke pintu di dapur, tiba tiba pintu ruang tamu terbuka.


Laila menghentikan langkahnya sekaligus menoleh ke ambang pintu yang terbuka.


Sosok Romi berdiri memandangnya.


"Lewat sini saja, Mbak,"


"Iyya ... Tuan ..." kenapa aku jadi gugup, ya?


Namun Laila menurut, segera berjalan menuju pintu rumah.


Romi mundur memberi jalan pada Laila.


"Terima kasih, Tuan,"


"Mbak," panggil Romi.


Laila menghentikan langkahnya, tapi tak berani memandang pada raut muka Romi. Dia menunggu dengan wajah menunduk.


"Mbak bisa minta waktunya sebentar, ya?"


Namanya diminta majikan masa ditolak. Mau tak mau Laila harus menurut kalau tak mau dipecat.


"Ya Tuan,"


"Hem duduklah," pinta Romi menunjuk sofa di ruang tamu.


Laila masih berdiri ragu sedangkan Romi sudah lebih dulu duduk."Ayo duduklah sebentar saja,"


"Tapi Tuan ..."


"Tak ada peraturan dan larangan di rumah ini asisten rumah tangga tak boleh duduk di kursi di mana pun, jadi duduklah ada yang ingin aku tanyakan padamu.


"Ya Tuan .." Laila duduk di depan Romi tapi tak lurus di hadapan lelaki itu, melainkan agak menyamping.


Romi memandang Laila.


Laila menunduk.


"Kamu tadi diajak kemana oleh Rindu, Mbak?"


Laila masih menunduk.


"Aku tadi melihat ada Arya di luar tapi Rindu justru pergi lagi."

__ADS_1


Laila bingung harus bicara apa. Kalau bicara jujur apa adanya khawatir Rindu marah, kan dia nggak nyuruh cerita kesemua orang di rumahnya?


"Bagaimana ini?" Batin Laila bingung, apalagi Rindu mengatakan jika Romi tak suka gadis itu punya hubungan dengan Arya.


Kok aku jadi harus melindungi gadis yang juga kekasih dari kekasihku?


Laila merasa dirinya sangat tertekan dengan keadaannya saat ini. Hatinya yang terluka oleh perselingkuhan Arya, justru kini harus pula bingung oleh hubungan kekasihnya itu dengan Rindu di depan Romi.


"Maaf Tuan saya hanya menunggu di luar saya tak tahu Non Rindu mencari siapa," akhirnya Laila memuskan demikian.


"Bukan pergi mengunjungi Arya?" Suara Romi mengintimidasinya.


Laila tertegun. Wajahnya yang masih mengenakan masker tegang. Hatinya semakin kesal karena harus terlibat perselingkuhan kekasihnya dengan gadis lain.


"Saya tidak tahu!" Laila bersuara kurang ramah tanpa disadarinya.


"Ya sudah kalau kamu nggak tahu, karena aku pasti turun tangan jika lelaki itu mempermainkan Rindu,"


Reflek Laila menatap Romi. Dilihatnya rahang lelaki itu mengeras dengan mulut terkatup rapat.


"Saya permisi Tuan,"


"Ya,"


Segera Laila meninggalkan Romi untuk membuang sesak dadanya sehubungan dengan apa yang dilihatnya hari ini.


Arya keterlakuan!


Di kamar Laila langsung membuka ponsel yang tadi dia kirimi beberapa adegan gambar Arya dari ponsel milik Rindu.


Hatinya geram melihat Arya dan gadis yang ada di pelukan kekasih tak setianya itu, serta beberapa adegan lelaki itu dengan Rindu. Ada foto lengan Arya merangkul pubdak Rindu, ada foto mereka saling tarik menarik.


Laila mengambil foto Arya dengan Rindu dimana lelaki itu merangkul pundak gadis yang jadi non majikannya. Kemudian segera gambar itu dia kirim pada ponsel Arya.


(Ada yang bilang kalau kamu sudah di Jakarta, ini tangkapan layar dirimu sedang santai di Cafe, atau kabar ini bohong? Lalu siapa gadis ini)


Pesan terkirim. Laila duduk menunggu balasan dari Arya.


Lama tak ada balasan. Pasti lelaki itu masih mengejar mobil Rindu, atau justru saat ini sedang cekcik mulut dengan Rindu?


Biar saja aku mau mengirim pesan lagi supaya dia kebingungan saat ini, batin Laila yang gusar dan kecewa pada kelakuan Arya.


(Hai sayang jawab ini di Cafe atau di Bar?)


(Tapi yang jelas kalian di Jakarta, kan?)


(Aku masih punya gambar yang lainnya)


Semua pesan terkirim.


Laila membuang mike up bopengnya dengan sudu pembersih. Seperti biasa menutup kepalanya dan sebagian wajahnya dengsn handuk, dia celingak celinguk berjalan ke luar dari kamar menuju kamar mandi khusus pembantu di ujung gudang penyimpanan barang tak terpakai.

__ADS_1


Setelah membilas wajahnya dengan air dia lanjutkan dengan mencuci kedua kakinya. Setelah itu barulah keluar dari kamar mandi dan melangkah ke kamarnya.


Saat melewati depan kamar Atun mendadak pintunya terbuka dari dalam. Segera Laila menutup semua wajahnya kecuali sepasang matanya dengan handuk.


"Malam malam keramas, Na?" Atun menatap Laila yang tergesa.


"Ya gerah," jawab Laila asal.


Kenapa juga nih anak mukanya ditutup kayak Ninja, tapi Atun tak mau usil langsung saja melangkah ke kamar mandi sudah kebelet ingin pipis


Laila masuk ke kamarnya melempar handuk ke kursi lalu duduk di tepi tempat tidur. Hampir saja mbok Atun mergoki wajah asliku kalau tak kututupi handuk!


*


Di jalan Arya kehilangan jejak Rindu. Dia kesal sudah dua puluh menit menyusuri jalan tapi gadis itu tak terlihat jejaknya.


"Sial kemana tuh anak," gumam Arya khawatir juga terjadi sesuatu dengan gadis yang baru tujuh bulan dipacarinya itu.


Arya paham jika Rindu cemburu melihatnya berdua Jenita di bar tadi. Habis Jenita mengejar ngejarnya, sayang kan dilewatkan. Gadis seksi itu sangat menggodanya. Agresif dan terlihat sangat menantang.


Berbeda dengan Rindu serta Laila. Kedua gadis itu memiliki pembawaan yang lembut dan kalem. Namun masih bervariasi.


Jika Laila tampak dewasa dan tampaknya penuh kewaspadaan. Bersama Laila dirinya serasa lelaki yang sudah harus mempersiapkan sebuah pernikahan, Bahkan harus pula berjiwa calon bspak muda.


Tapi Rindu yang lebih muda dari Laila itu masih manja dan dirinya adalah cinta pertamanya bagi gadis itu. Sehingga bersama gadis yang masih dua puluh tahun itu Arya serasa memiliki jiwa remaja.


Pacaran dengan Rindu beda jika dengan Laila. Dengan Laila dirinya tampil dewasa mengimbangi Laila yang memang sudah pada usia matang dua puluh lima tahun.


Sebenarnya sih umur Arya juga sudah tak muda muda amat. Dua puluh tujuh tahun. Dan jika bersama Rindu serasa masih seumur gadis itu.


Sangat beda jika berhadapan dengsn Jenita. Umur gadis itu dua puluh tiga tahun, tapi pembawaannya yang berani membuat jiwa lelakinya tertantang. Tapi sayang baru kencan sebatas peluk sudah dipergoki Rindu.


Sebaiknya Rindu di telpon saja.


Baru membuka ponsel untuk menghubungi Rindu rupanya Arya baru menyadari jika Laila mengirimi beberapa pesan dan sebuah foto.


Kedua mata Arya terbelalak membaca pesan Laila.


"Wah gawat!"


"Aku tak mau mencari pacar, Arya, aku siap mundur jika benar kamu masih banyak pilihan," teringat ucapan Laila beberapa bulan lalu saat mereka bertemu di Jerman. Walau Laila setahun kuliah di Jerman, tapi mereka dua bulan sekali bertemu. Sebagai pembalap yang kerab balapan di berbagai negara tak sulit bagi Arya untuk mengunjungi Laila.


"Aku memang bukan kekasih yang menghangatkan pelukanmu, karena dalam prinsipku pacaran itu bukan untuk mengumbar mesra, tapi mencari kesetaraan kita. Mencari keseimbangan dan kebersamaan pola pikir kita menuju ke jenjang yang lebih serius," ujar Laila dulu dengan tenang dan mantap.


"Aku juga udah malas pacaran, kok, tunggu ajah kontrakku selesai bawa nama bendera group Berkibar ini, aku akan segera melamarmu," itu jawaban Arya atas pernyataan Laila.


Masuk pesan singkat dari Jenita.


(Aku tak perduli pada gadis norak yang cengeng menyerangmu tadi. Sekarang aku di apartemenmu)


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2