Rahasia Calon Istri Tuan Muda

Rahasia Calon Istri Tuan Muda
Bab.6 Selingkuh Part 1


__ADS_3

Monika sudah meninggalkan rumah Romi. Dia tampak kurang suka dengan perlakuan Rindu.


"Adikmu itu kenapa si sayang kayak nggak suka padaku. Wajar dong kalau aku waspada saat asisten baru itu datang."


Romi tak mau ikut campur urusan antara Monika dan Rindu. Makanya dia hanya mengingatkan supaya pacarnya itu jangan terlaku aktif jika berada dalam rumahnya.


"Gini ajah kamu tuh masa bodoh nggak usah repot repot kalau adikku nggak menghargai jerih kamu. Gitu ajah jangan nyiksa diri," ujar Romi.


"Aku tuh hanya ingin supaya asisten di rumahmu itu aman bukan perempuan yang menyusup,"


Romi tertawa mendengar ucapan Monika.


"Sudah nggak usah yang begitu diurusi ngapain, sih?"


"Ya namanya juga aku calon istrimu, ya aku sedikit banyak ingin keluargamu terlepas dari orang yang akan merugikan,"


"Itu bagus tapi kan kalau adikku nggak mau kamu ikut campur urusan di rumah, kan jadi ribut melulu," ujar Romi.


"Oh ya kok aku tadi kayaknya ngelihat itu pelayan baru yang bopengan itu ngeliatin kamu deh ..."


Romi tertawa, "Sampai ke prlayan kamu perhatikan juga. Biar saja dia ngeliatin aku terus, kan itu tandanya aku ganteng," tertawa Romi.


"Nggak lucu juga sih kalau sampai pelayan ikut memperhatikan kamu. Aku nggak suka itu, lagian perasaanku mengatakan kalau pelayan bopengan itu kalau mandang aku kayak nggak suka gitu, ih, ngeseli bikin aku pengen ngusir dia ajah!" Dumel Monika kesal.


Romi tertawa lepas.


"Apanya yang lucu?!" Sengit Monika.


"Cara kamu berpikir terlalu bawa perasaan negatif," ujar Romi.


"Huh kamu tuh hampir sama dengan adikmu Rindu, nggak pernah respek pada kecurigaanku.


"Apanya yang harus kamu curugajab, coba,"


"Si Erna bopeng itu, ih geli aku sama dia,"


"Ya sudah jangan kamu lihat lihat ke dia, toh nggak ada untung dan ruginya, sih,"


"Perasaan perempuan itu peka. Dia tuh kayaknya nggak sembarang mandang aku tapi matanya penuh selidik, gitu,"


Romi lagi lagi tertawa,"Kamu itu kelewatan, mana mungkin begitu. Dia kan hanya asisten rumah tangga mana mungkin mau nyelidiki kamu." Apa yang diucapkan Monika bagai lelucon bagi Romi.


Tapi bagi Monika apa yang kdluar dari mulutnya adalah sesuai dengan perasaan dan analysanya. Bahkan pandangan Erna atau Laila bagai tak wajar bagi seorang asisten. Siapa tahu dia mata matanya sih Rindu. Awas ajah nanti kalau terbukti!


*

__ADS_1


Laila baru saja bebennah ruang tamu sampai ruang tengah, saat ponsel jadul di kantong dasternya berdering. Dia punya dua nomer. Dan dua WA. Jadi WA dengan nomer berbeda ada pada ponsel satunya yang disimpan di lemari.


Segera Laila mengintip ke ponselnya siapa yang menghubunginya.


"Arya apa dia udah kelar bertanding?" Batin Laila sambil bergegas ke pojok dapur untuk membuka pesan dari kekasihnya.


(Laila sayang aku baru saja memenangkan balap mobil pertim. Tapi aku masih harus menghadiri berbagai acara di Malaysia, jadi tak bisa buru buru pulang. Padahal sudah pengen ketemu kamu di Jakarta, merayakan kembalinya bidadariku membawa gelar Master)


Laila tersenyum senang untuk dua hal.


Pertama atas kemenangan Arya bersama timnya. Kedua Jika Arya masih beberapa hari lagi di Malaysia dengan begitu dia tak perlu cari alasan minta ijin keluar rumah untuk kencan dengan sang kekasih.


Maka dibalasnya pesan kekasihnya.


(Selamat ya sayang atas kemenanganmu dan Tim. Sun dari jauh untukmu. Nggak apa apa jika kamu masih banyak yang harus dihadiri. Selesaikan dulu acaramu. )


Laila menambah gambar love sebanyak tiga love dikirimkan pada Arya.


Aman, pikirnya lalu memasukkan ponsel ke kantong dasternya kembali.


"Na,"


Laila menoleh.


"Mbok Atun, wah wanginya sedap banget tuh ..." mulut Laila sedikit dimonyongkan ke depan saat hidungnya mengendus bau serai yang direbus dengan gula jawa yang baru saja dituang ke dya gelas oleh Atun.


Laila segera menerima segelas wedang jahe gula jawa dari tangan Atun dan langsung mengendusnya dengan hidungnya.


"Terima kasih, Mbok Atun," sesaat kemudian meniup niup sebentar dan lalu mulai mencicipi minuman tradisional buatan Atun.


"Wah seger ..." seru Laila kembali meneguk sedikit demi sedikit sambil meniup niup ke gelasnya untuk mengurangi panas.


Begitu pun dengan Mbok Atun sedikit demi sedikit meneguk wedang jahe segelas bagiannya.


Kedua asisten rumah tangga beda usia dan beda silsilah itu menikmati minumannya hingga tuntas.


"Wah sumpah enak banget nggak kalah dengan minuman modern masa kini ..." seru Laila yang langsung membawa dua gelas kosong bekas wedang jahe dirinya dan gelas bekas wedang jahe Atun.


Kembali ponsel di saku dasternya berdering. Laila mengeluarkan ponselnya.


"Oh dari Pt. Mitra Abadi."


(Tolong kirimkan biodata Anda, terima kasih.)


"Kalau pakai biodata nggak bisa pakai hape ini," batinnya karena ponsel di tangannya ini tak bisa mengangkat file. Hanya bisa kirim WA dan membalas saja. Banyak sperpart yang sudah tak berfungsi. namanya juga sengaja beli ponsel bekas di trotuar jalanan.

__ADS_1


Segera Laila masuk ke kamarnya untuk membalas pesan dari Pt. Mitra Abadi sekaligus mengirim data dirinya.


Rindu mencari Laila di kamarnya. Gadis itu mengetuk kamar Laila.


"Mbak Erna ..."


"Ya Non ..." untung saja Laila sudah selesai mengirim data ke perusahaan yang akan menjadi tempatnya bekerja. Dan segera menyimpan ponsel miliknya di bawah bantal, karena untuk mengembalikan ke tempat aman di lemari sudah tak sempat lagi.


Bergegas ke pintu dan membukanya.


"Mbak Erna temani aku ke sebuah tempat yuk," ajak Rindu.


"Sekarang, Non?"


"Ya sekarang,"


"Kalau gitu saya perlu ganti baju, ya?"


"Terserah," angguk Rindu, lalu berlari ke depan."Seperempat jam lagi aku tunggu di mobil, ya,"


"Ya Non,"


Sambil salin baju Laila menebak nebak mau diajak kemana. Tapi terserah saja namanya juga majikan tak harus ngasih tahu mau kemana. Padahal sudah jam delapan malam. Sebuah baju atasan lengan panjang dan melewati lutut, dipadu dengan celana panjang. Tak lupa hijab untuk melengkapi penampilannya.


Laila berkaca. Cukup tak memalukan penampilannya untuk menemani Rindu. Sederhana dan bajunya masih terkesan baru, karena memang semua baju yang dibawanya baru dibeli untuk melengkapi penyamarannya. Tak lupa ponsel jadul di masukkan ke kantong celana panjangnya, dan persiapan masker pun ada di saku bajunya.


Sebelum seperempat jam waktu yang diberikan Rindu, Laila sudah berdiri di sebelah mobil milik gadis itu.


Tak lama kemudian Rindu muncul. Gadis itu mengenakan celana jeans warna putih dipadu dengan kemeja lengan panjang warna coklat tua, yang lengannya digulung sebatas siku. Sebuah tas slempang warna putih bertengger di bahunya. Dengan sepatu tali warna coklat penampilan gadis yang rambutnya diikat seadanya itu terlihat menarik.


Tapi Laila menangkap sesuatu dari sepasang mata yang biasanya cerah itu. Ada semburat kabut di sana.


Tak lama kemudian Laila sudah berada di samping Rindu yang menyetir. Tebakan Laila benar. Rindu memang sedang suntuk. Dia terus menyetir hingga berhenti di sebuah bar.


Tanpa bertanya Laila mengikuti Rindu turun dari mobil. Gadis itu menoleh pada Laila.


"Mbak pegang hapeku dan tolong nanti langsung kamerain begitu aku melabrak seseorang."


"Ya Non," ternyata ponsel sudah pada star di on camera.


Laila mengikuti langkah Rindu.


Laila terkejut saat melihat pasangan yang sedang berpelukan karena yang lelaki adalah Arya.


"Bukankah Arya masih di Malaysia?!" Laila membatin.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2