
Chapter 2
"Laila begitu kamu sudah di Jakarta kita bersilaturahmi dengan keluarga Winata. Mereka dudah berkunjung dua kali ke rumah kita. Irang tua Romi sangat ingin bertemu denganmu, Nak," terngiang lagi ucapan mamanya.
Laila tersenyum. "Aku bukan lagi bersilaturahmi, Ma, tapi justru langsung jadi ART mereka,"
Laila harus memberutahu mamanya nanti jika Romi sudah punya calon istri . Ceweknya jutek sudah bebas sepertinya tuh cewek di rumah keluarga Winata.
Tunggu Ma aku akan menyelidiki cowok pilihan Mama itu. Enak saja dia punya calon kok masih saja ngarep tinangan denganku!
Tapi Laila tersadar juga kalay dirinya pun memiliki kekasih, tapi bedanya sang kekasih tak disetujui mamanya karena dinilai gaya hidupnya terlalu bebas. Makanya sang mama condong pada Romi yang sudah dua kali ikut irang tuanya berkunjung.
Ih bisa bisanya si Romi itu ikut main ke rumahku kenalan sama Mama, kan sudah punya calon istri?!
Laila tak suka dengan sikap Romi. Punya calon istri tapi masih saja tak menolak dijodohkan. Huh cowok nggak punya pendirian. Plinplan!
Untung dia punya waktu untuk menyelidiki calon tunangan yang diinginkan mamanya. Makanya sambil menunggu penempatannya bekerja di sebuah perusahaan joint antara pihak asing dan lokal, dia menyusup dulu masuk ke dalam keluarga Laras Candrawinata ini.
Rupanya gayung berssmbut. Mamanya Romi meminta tolong pada Risma mamanya Laila, untuk dicarikan ART dari kampung yang bisa menginap. Paling tidak hanya cuti tiap tahun pas hari lebaran. Kecuali keadaan darurat ya boleh cuti. Tugasnya untuk membantu asisten lama yang sudah mulai berumur.
Maka Erna ditunjuk oleh bi Nah asisten rumah tangga di rumah keluarga Risma . Bik Nah sudah cukup lama bekerja pada keluarga Laila. Makanya Laila sudah mengenal Erna keponakan bik Nah. Gadis yang lebih muda beberapa tahun dari dirinya itu sudah beberapa kali datang dari kampung ke Jakarta dan tinggal di rumah Laila.
Terjadilah sabotase. Diam diam Laila membujuk Erna untuk memberikan job asisten rumah tangga di rumah keluarga Candrawinata pada dirinya.
Tentu saja awalnya Erna ragu dengan keinginan Laila. Tapi setelah dibujuk dan berterus terang tujuannya untuk menyelidiki lelaki yang dijodohkan itu, barulah Erna setuju.
"Paling cepat satu bulan dan paling lama dua bulan aku pinjam pekerjaanmu," ujar Laila, tentu saja dia memberi ganti tiga kali lipat ganti rugi dsri nominal gaji yang akan diterima Erna. Dibayar dimuka pula.
"Non Laila apa apaan ngasih uang banyak amat?" Erna terbelalak melihat uang di dalam amplop yang diberikan Laila.
"Kamu nunggu ajah di kampung. Anggap ino bonus, nanti kukabari kalau misiku sudah rampung," tersenyum Laila.
__ADS_1
"Ya, Mbak Laila,"
"Nggak usah khawatir soal pekerjaanmu. Jika nanti ada apa apa yang buruk misalnya dalam misiku dan kamu kena imbasnya, biar aku yang tanggung jawab mencarikanmu job pekerjaan di tempat lain," paling tidak Laila harus memberikan garansi keamanan masalah pekerjaan untuk Erna supaya gadis itu tenang saat masa penantiaan di kampung halaman.
"Ya Mbak Laila terima kasih," angguk Erna yang pulang ke kampung halamannya membawa uang dari Laila setara tiga kali lipat upah yang akan diterimanya selama dua bulan. Tanpa harus bekerja. Hanya memberikan pekerjaannya untuk sementara pada nona majikan bibinya, plus meminjamkan kartu tanda penduduk supaya Laila bisa membuktikan sebagai dirinya si asisten rumah tangga pesanan dari kampung.
Itulah awal mula tekat Laila untuk menyamar sebagai Erna. Awal misi berjalan sukses.
Kini dirinya sudah berada di dalam rumah keluarga Laras Candrawinata. Sudah diterima dengan baik.
Kesan pertama yang ada dibenaknya adalah bahwa mamanya Romi itu perempuan sabar. Adik Romi yang bernama Rindu dan umurnya jelas berada beberapa tahun dibawah usianya. Ramah tapi terlihat sangat tanggap dan terkesan cerdas. Sepertinya gadis itu kurang ramah pada Monika.
Nah si Monika yang katanya akan menikah dengan Romi memiliki sikap angkuh dan arogan. Gadis itu memandang dirinya sebelah mata. Sikapnya meremehkan orang dari golongan rendah.
Bik Atun senior asisten rumah tangga cukup bak menyambutnya. dan yang belum dilihat langsung sikapnya adalah si Romi entah seperti apa. Laila akan membongkar habis tabiat lelaki yang dicalonkan sebagai jodohnya.
Baik sikap dan sifatnya, dan sejauh mana hubungannya dengan Monika. Melihat dengan mata kepala sendiri kalau Monika itu calon istri Romi, sudah ada penilaian tersendiri. Ternyata Romi itu tak jujur. Bisa dikatakan lelaki peselingkuh.
Kok peselingkuh?
Ah pokoknya lelaki itu tak tegas. Tak berani menolak perjodohan dengan dirinya, tapi punya calon istri yang sudah begitu bebas bersuara di dalam rumah orang tuanya.
Penilaian pertama Laila pada Romi adalah minus, alias kurang bagus untuk dipilih sebagai pemimpin rumah tangga.
Laila bagaimana dengan dirinya sendiri?
Laila terhenyak.
Bukankah dirinya juga punya kekasih?
Punya kekasih seorang pembalap. Tapi tak berani pula menolak keinginan orang tuanya untuk dijodohkan dengan Romi. Kan sama dengan si Romi. Cuma bedanya Arya tak setulusnya diterima orang tuanya. Lelaki yang banyak dipuja gadis muda itu tak seperti Monika yang sudah bebas di rumah Romi.
__ADS_1
Kalau masalah hati sih mungkin sama dengan Romi. Sama sama pada kekasih masing masing.
Berarti dirinya dan Romi sama saja dong ...
Laila nyengir sendiri.
Berarti bukan hanya Romi peselingkuh. Tapi Laila juga. Namun gadis itu tak mau disamakan dengan Romi yang hubungannya dengan Monika tampaknya bebas dan gencar, jika melihat gaya gadis itu yang berani dan ikut campur urusan dalam rumah tangga keluarga Laras Candrawinata. Buktinya tadi gadis itu meminta dirinya menunjukkan tanda pengenal.
Melihat nyonya rumah yang terlihat sabar dengan gaya sok menantu Monika, membuat Laila merasa jika perempuan jelang enam puluh tahun itu setuju pada pilihan anak lelakinya.
Berarti yang menginginkan aku jadi menantu keluarga ini hanya Pak Cadrawinata almarhum, ibunya tidak.
Ini harus pulah diselidiki.
Laila memindahkan pakaian baru yang dibelinya di pasar itu ke lemari. Termasuk menyembunyikan ponsel pribadinya. Cukup hanya ponsel sederhana yang dibelinya di toko penjual ponsel seken untuk kesehariannya.
Sore hari tiba waktunya untuk memulai tugas bagi Laila.
"Neng Erna kalau tuan muda datang segera suguhkan teh panas. Jangan terlalu manis. Diantar ke teras di depan kamarnya di lantai atas. Kamarnya berhadapan dengan kamar Non Rindu.
"Ya, Bik," sahut Laila cepat.
"Sebentar lagi tuan muda datang,"
"Ya," angguk Laila. "Kalau nyonya?" Maksudnya Laras Candrawinata.
"Oh beliau jika mau sesuatu akan minta dibuatkan. Tunggu perintah," ujar bibik.
Terdengar deru mobil memasuki halaman rumah.
"Itu tuan muda datang,"
__ADS_1
Tiba tiba dada Laila berdebar. Tak lama lagi dia akan berhadapan dengan lelaki yang dijodohkan dengan dirinya.
bersambung