
Rindu menangis di pelukan Hana.
"Aku mau putus saja dari Mas Arya, Han," tangis Rindu antara sedih dan gusar.
Hati siapa yang tak panas dan cemburu jika melihat kekasih hati sedang berpelukan dengan gadis cantik. Mana tuh gadis mengenakan baju terbuka lagi, hingga kedua buah dadanya menonjol.
Ingat semua itu hati Rindu serasa diiris.
"Kamu yakin mau putus dari Arya?" Hana mencoba meyakinkan Rindu. "Katamu kedua orang tua Arya sudah main ke rumah orang tuamu?"
"Ya orang tua Arya ingin supaya aku dan Mas Arya serius, tapi Mas Romi nggak setuju karena Mas Romi pernah bacandi sebuah berita kalau Mas Arya sedang dekat dengan gadis bernama Laila,"
"Terus siapa si Laila itu?!" Rupanya Hana lebih tertarik pada nama Laila sebagai gadisnya Arya, daripada kasus yang diadukan Rindu sahabatnya tentang ketidak setiaan lelaki itu.
"Aku juga nggak tahu," geleng Rindu.
"Coba aku serching dulu ya," si Hana benar langsung meraih ponselnya dan langsung menghubungi mbahnya yang betnama google itu.
Berselancar mencari nama Arya si pembalap tak sulit. Langsung saja muncul gambar Arya dengan mobil balapnya. Aksi lelaki itu di berbagai sirkuit. Serta tak ketinggakan foto foto Arya dengsn penggemar yang kebanyakan berlawanan jenis.
Banyak gadis cantik termasuk selebriti yang berpose dengan pembalap tampan itu. Hingga pada berita tentang pasangan si Arya.
"Ini dia .." Hana menemukan foto Arya bersama seorang gadis cantik bernama Laila. Tuh aku baca mereka sudah punya hubungan hampir dya tahun lalu. Wah ceweknya lagi ambil Master di Jerman,"
Rupanya Rindu terpengaruh artikel tentang Arya dan kekasihnya. Seketika wajahnya semakin buram.
Aku nggak ada apa apanya dibanding si Laila ini, tapi kenapa Arya masih memacariku kalau sudah punya calon istri? Batin Rindu semakin gusar.
"Berarti Arya itu memang memang mata keranjang, ya?" Hana berkata apa adanya. "Udah deh Rin, buat apa kamu nangisi cowok nggak setia seperti dia,"
__ADS_1
Rindu sebenarnya mau mengikuti saran Hana, tapi kok perasaannya susah untuk melepas Arya. Aku tak bisa, aku cinta Mas Arya, batin Rindu semakin mengurai air mata.
"Yang Master ajah dikhianati, apalagi kayak kamu mending tinggalin ajah!" Hana nyerocos tak mengerti jika sahabatnya itu sulit untuk melepas nama Arya dari jantungnya.
"Duh Hana kamu kok gitu, sih?" Tapi hanya diucapkan oleh Rindu dalam hati saja.
"Gimana perasaan kamu sekarang sudah sadar jika Arya tak layak dipertahankan?"
Rindu menggeleng, "Aku sulit melepas dia,"
"Terus mau dimadu dua?!"
Rindu mendelik. Keterlaluan si Hana ini, kesalnya melebarkan bola matanya.
"Ya udah kalau kamu cinta berat pada Arya, atau jangan jangan kamu udah gituan, ya, sama tuh cowok ..."
"Ih amit amit ..." Rindu merengut.
Rindu terbelalak dengan bibir merengut. Elo belum kebentur cinta entar kalau udah ngerasain gimana perasaan mencintai seseorang itu!
\*
Arya masih bimbang untuk kembali ke apartemennya karena di sana ada Jenita. Aduh cewek itu mau ngapain malam malam gini ke apartemen. Huh jangan dikira aku ini cowok yang suka gituan. Gini gini aku ini tahu dosa. Kalau cuma peluk cium oke, tapi tidur bareng di luar nikah entah dulu, deh!
Apa boleh buat daripada gadis seksi itu menunggunya di apartemen jadi bahan pertanyaan orang, (walau semua penfhuni apartemen termasuk sekuriti tak ambil pusing dengan gadis itu) kan lebih baik segera pergi tuh gadis dari sana.
(Jenit aku tunggu di Bar yang tadi)
Pesan singkat itu segera dikirim.
__ADS_1
Jenita si gadis yang tergila gila pada Arya langsung menuju Bar dimana tadi dirinya dituding oleh Rindu sebagai gadis murahan.
Jenita tadi cuek tak melawan, dia tak mau melayani kecemburuan gadis yang membabi buta tadi. Baginya yang penting dia happy dengan pembalap yang memang digandrungi banyak gadis itu.
Jenita tak mau tahu berapa banyak kekasih Arya, yang penting hasratnya untuk bersama Arya terkabul.. Dan cowok itu kini memintanya kembali ke Bar.
Jenita tersenyum penuh kemenangan. Ternyata Arya akan berada dalam pelukannya malam ini. Huh rasanya tak sabar untuk segera dicumbu cowok yang diangan angan berada dalam pelukannya.
Arya tahu kalau Jenita tak dituntaskan malam ini dengannya, pasti besok gadis itu merepotkannya. Harus diselesaikan satu satu. Si Jenita ini tak seruwet Rindu atau Laila cara menghadapinya. Jenita hanya butuh happy dengan dirinya, lain itu.
Tapi Rindu butuh hubungan kasih sayang dan tanggung jawab. Baru sebulan jalan dengan Rindu kedua orang tuanya langsung ingin berkenalan dengan orang tua gadis itu. Inilah yang membuatnya berat, karena kedua orang tuanya ingin dia serius. Padahal masih ada Laila yang masih memiliki hubungan dengan dirinya. Hanya hubungannya dengan Laila dilanjut dengan hubungan jarak jauh. Satu tahun pertemuannya dengan Laila terjadi di Jerman karena Laila sedang menyelesaikan masternya di sana.
Dan tahu tahu Laila mengirim foto perselingkuhannya. Huh membuat kepalanya pusing. Maka Arya yang malam ini merasa sulit lepas dari dua pengadilan masing masing dari Rindu dan dari Laila memacu mobilnya ke Bar dimana tadi dia ribut dengan Rindu.
Huh kalau sudah begini Arya pusing sendiri. Dan saat datang ke Bar disambut dengan peluk cium oleh Jenita. Sikap gadis itu seakan tak pernah terjadi sesuatu.
"Darling pasti kamu suntuk kan setelah ribut dengan cewek norak itu!" Sungut Jenita tapi dengan senyumnya. Dan sun pipi kiri dan kanan. Lalu menarik Arya duduk di sofa, lalu dirinya sendiri duduk merapatkan tubuhnya ke badan Arya, hingga kedua buah dadanya yang menonjol itu merapat ke dada lelaki pembalsp ifu, sehingga Arya dengan susah payah menahan desakan nafsu yang mulai merangsang dirinya.
Jenita yang sudah berniat untuk menghabiskan malam dengan sang pembalap pujaan itu, mulai mencumbu sang pujaan dalam suasana remang dan tak perdulj pada pasangan yang lalu lalang.
Sekuat kuatnya Arya bertahan akhirnya terbawa suasana sahdu yang sengaja diciptakan Jenita.
"Sayang lupakan gadis norak itu ada aku yang akan selalu membuatmu happy, oke?" Jenita berbisik di telingah Arya sambil terus melancarkan aksinya mencumbu diberbagai tempat di tubuh lelaki pujaannya, hingga Arya kerepotan menahan birahinya yang diusik gadis yang tak malu aksinya jadi pandangan mereka yang kebetulan melewatinya.
"Cukup sampai di sini dulu sayang tuh banyak yang lewat ..." Arya mengunci gerakan liar tubuh Jenita. Sehingga gadis itu berada dalam rangkulab ketatnya, dan tak berdaya.
Jenita yang sudah tak sabar ingin diajak Arya ke kamar itu, terpaksa menurut maunya lelaki itu dan berharap Arya membuka kunci kamar untuk dirinya.
Tapi beberapa menit menunggu yang dilakukan Arya hanya mencium kedua pipinya, selebihnya hanya berbisik."Lain waktu, oke?" Lalu mengecup bibir merahnya sekilas.
__ADS_1
Arya si pembalap yang digandrungi gadis itu tak mau sampai kelewat batas. Bisa bahaya, pikirnya.
Dan Jenita hanya manyun karena hasratnya ingin menghabiskan malam dengan sang pembalap idolanya gagal. Tapi masih ada waktu esok, pikirnya.