Raja Pedang Sihir

Raja Pedang Sihir
Hari Yang mengesalkan


__ADS_3

Kazuta merasa seluruh badanya terasa lebih baik sekarang dari pada sebelumnya, ia berniat meninggalkan ruangan UKS.


"Kau mau pergi kemana?"


"Etto..., aku akan kembali ke halaman untuk melanjutkan hukuman ku yang tertunda tadi."


"Hah...." Guru Karin tiba-tiba menghela nafas.


"Kenapa, Guru Karin!" Tanya Kazuta menanggapi ekspresi yang dimunculkannya barusan.


"Sekarang Jam waktu sekolah sudah usai, jadi..."


"Apa.... " Aku seketika terkejut bukan main mendengarnya.


Kazuta keluar ruangan untuk sekedar mengecek apakah jam sekolah benar-benar telah usai. Kazuta menyadari bahwa dihalaman sekolah dan sekelilingnya ia sama sekali tidak melihat satupun murid berkeliaran atau bahkan guru yang berlalu lalang.


"Jadi ini sudah waktunya pulang?"


"Lalu untuk apa bu guru masih berada disini, bukannya bu guru juga harus pulang?" Aku bertanya dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.


"Ada beberapa dokumen penting yang masih harus ku kerjakan."


"Yang tidak aku ketahui kenapa mengerjakannya di ruang UKS."


"Aku sudah bilang kan ada seseorang yang menemuiku dan memintaku untuk berada disini?"


Lama kelamaan Kazuta semakin merasa curiga dengan orang yang menolongku sekaligus orang yang menyuruh Guru Karin untuk menjaganya.


"Lalu siapa nama orang itu, kenapa ibu menerima permintaanya begitu mudah?"


"Maaf saja? Tapi aku tidak bisa memberitahukan namanya, lagipula sudah jadi prinsip ku menjaga rahasia seseorang."


"Untuk Pertanyaanmu barusan! aku tidak menerima permintaanya begitu saja, orang itu sendiri yang memaksaku sambil memohon."


"Tentu saja aku tidak bisa menolak permintaanya, lagipula tidak ada masalah jika aku menyelesaikan tugasku diruangan manapun."


"Yah...! Justru Itu dia yang jadi masalahnya."


"Baiklah, Aku akan pulang dulu Guru."


"Ya... "


Setelah berpamitan dengan Guru Karin, ia segera melangkahkan kaki menuju depan gerbang sekolah.


"Yah...! Aku masih tidak percaya, bisa menyelesaikan hukumanku dengan sangat mudah?"


Kazuta kembali melangkahkan kakinya meninggalkan sekolah untuk pulang.Selama di jalan, ia melihat Guru Angga yang merupakan Guru yang memberikanku hukuman tadi di kelas.


Kazuta mencari tempat sembunyi agar dia tidak dapat melihatnya. Kazuta mencoba memperhatikan daerah di sekitarnya berharap ada tempat sembunyi yang cukup aman.


Guru Angga semakin mendekat kearahnya, sementara ia masih belum menemukan tempat sembunyi. Yang dilihat disekitaran hanyalah kedai-kedai serta toko atribut olahraga selain itu tidak ada lagi.


Kazuta erpaksa harus masuk kesebuah kedai kopi, meski dirinya sangat membenci kopi dan tidak menyukai rasanya yang pahit.


"Kedai kopi?! "


"Tidak, tidak, tidak! Aku sama sekali tidak menyukai kopi."


"Sial! Guru hampir sampai kemari."


"Tidak ada pilihan lain, terpaksa aku harus masuk."


Kazuta enerobos masuk dengan banyak pelanggan disekitarnya dan duduk salah satu kursi pelanggan, Kazuta melirik kearah jendela sambil menutup sebagian wajahnya agar tersamarkan.

__ADS_1


Kekhawatirannya seketika menghilang, ketika melihat dari jendela Guru Angga berjalan semakin menjauh meninggalkan tempat ia berada saat ini.


"Ah...! Akhirnya aman."


"Maaf! Anda mau pesan kopi jenis apa silahkan pilih saja yang Anda suka di daftar menu kami."


Tiba-tiba Kazuta dikejutkan dengan suara pelayan kedai itu yang tengah memberikan pelayanan padanya.


"Haa... ! Aku mengerti."


Didalam pikiranku berkata "Hmm...! Kira-kira sisa berapa banyak ya hari ini."


Tanpa mengecek dulu isi dompet, Kazuta langsung saja memilih menu pesanan kopi yang paling murah.


Lagipula ia berfikir bahwa tujuannya datang kesini tidak untuk minum kopi, melainkan hanya sekedar menyembunyikan keberadaannya saja dari Guru Angga. Pada buku menu tersebut, ia melihat beberapa daftar harga yang semuanya mengenai kopi dan juga jenisnya yang berbeda-beda.


Kazuta mencari harga kopi yang paling murah didalam daftar buku itu.


" Yang mana, ini... "


" Ini dia? "


Menunjuk salah satu jenis kopi dengan Harga paling murah didalam daftar dan untuk harganya sendiri.


"Hah...! 15 ribu, mahal banget. "


Kazuta sangat terkejut melihat harganya sambil berusaha mencari harga jenis kopi lain, yang mungkin saja masih ada kopi dengan harga yang relatif lebih murah daripada yang ditemui barusan.


Tapi setelah pencarian yang lumayan menyita banyak waktu, hingga membuat pelayan kedai berdiri sangat lama.


"Apa Anda benar-benar ingin beli atau tidak."


"Kalau anda tidak segera memilih pesanannya, saya akan bawakan security nih buat mengusir Anda dari sini."


Kazuta meminta pada pelayan itu untuk memberi waktu 15 menit lagi saja untuk memilih dengan harapan agar bisa menemukan harga termurah dari yang ada di buku menus pesanan.


"Yah, Syukur-syukur dapet harga yang 2 ribu rupiah." berbisik kembali dalam hati


"Anda telah membuat saya kesal karena telah menunggu lama, jadi saya hanya kasih Anda waktu 10 menit."


"Jika melebihi waktu yang ditentukan, Saya akan panggil security didepan untuk ngusir anda dari sini.


"Ya-Ya -Ya! Baiklah aku mengerti." Sambil memasang wajah tersenyum dengan harapan dapat mendinginkan suasana, meski pada akhirnya itu percuma saja.


Setelah melihat-lihat secara keseluruhan semua daftar menu yang ada, tidak ada yang paling murah selain kopi jenis hitam yang dihargai 15 ribu yang sebelumnya kulihat tadi.


"Apa... Ini pasti bercanda kan! Harga Kopi paling murah di kedai ini 15 ribu."


"Bagaimana apa anda sudah selesai memilih pesanannya?" Tanya si pelayan kepadaku.


"Ah...! "


"Sekedar mengingatkan ini sudah sampai 10 menit, yang berarti waktu anda telah habis."


"Mau tidak mau anda harus Menerimanya?"


Lagipula Guru Angga sudah tidak ada di sekitar sini, terpaksa Kazuta harus menyerah dan merelakan dirinya diusir dari kedai ini secara paksa oleh security. Namun tiba-tiba ketika hendak dibawa oleh security keluar dari kedai kopi, Ia melihat Guru Angga kembali.


Dia tengah berada di toko Pakaian yang letaknya bersebrangan dengan kedai kopi yang merupakan tempatku berada saat ini.


Kazuta berusaha berputar balik menuju masuk kedalam kedai kembali, namun security dan juga pelayan tadi menolaknya dan mengusir ku keluar.


"Baiklah-Baiklah! Aku jadi pesan kopinya."

__ADS_1


"Tentu saja aku akan membayarnya."


"Jadi, perbolehkan aku masuk sekarang?"


Scurity yang ada didepannya bersiap maju untuk segara mengusir ku jauh dari kedai kopi, tapi tiba-tiba sebuah harapan muncul.


"Tunggu!"


"Ahh...! Baiklah aku akan membolehkanmu masuk, asalkan dengan satu syarat?"


"Apa itu!?" Tanyaku penasaran.


"Kau benar-benar akan membayar semua pesananmu termasuk juga kompensasinya nanti." Jawab si pelayan dengan tegas.


"Ya baiklah! Kalau begitu, aku bersedia."


Dalam benaknya berfikir "Kompensasi! Kompensasi soal apa ya, kira-kira?"


"Baiklah! security lepaskan dia, biarkan dia masuk?"


"Baik... "


Security itu pun segera melepaskan cengkramannya dari tangan Kazuta. Tapi Tidak kusangka cengkraman security itu benar-benar kuat hingga membuat bekas ditangannya.


Kazuta segera kembali masuk sambil melirik kearah Toko pakaian di seberang jalan tempat Guru Angga berada. ia melihat dia tengah memperhatikan beberapa jenis pakaian. Kelihatannya dia sedang ingin membeli baju baru.


Setelah kembali masuk kedalam kedai, Kazuta duduk di kursi yang sebelumnya aku duduki. ia pada akhirnya memesan Kopi hitam yang seharga 15 ribu.


"Aku pesan Kopi hitam ini?" Ucap diriku kepada pelayan Tadi.


"Baiklah, akan segera disiapkan?"


Setelah pelayan itu pergi untuk menerima pesanan pelanggan yang lain.


Kazuta mencoba meraba-raba isi dompetnya sebelum membukanya, Saat setelah kubuka isinya hanya ada uang 2 ribu dan juga Lotion anti nyamuk yang sering dibawa.


"Ampas! Kenapa hanya tersisa segini uang dompetku."


"Bukankah seingatku, aku menyimpan uang 50 ribu didompetku."


"Kemana hilangnya semua uang di dompetku?"


Kazuta berusaha mengingat-ingat kembali mengenai uangku yang tiba-tiba saja menghilang secara misterius.


"Seingatku sebelumnya! aku benar-benar menyelipnya di dalam dompet." sambil menatap kearah atas langit-langit atap kedai.


Lalu Kazuta teringat akan penyiksaan yang dilakukan oleh Iqbal dan lainnya saat berada didalam kelas.


"Benar juga, sebelumnya iqbal sempat memeras uangku saat didalam kelas tadi."


Dengan raut wajah yang sangat pucat, Kazuta gemetar tanpa henti. Khawatir akan pembayaran pesanan nantinya.


"I-ini...! Bagaimana aku membayar kopinya nanti." Bingung harus berbuat bagaiman.


"Apakah aku kabur saja ya dari sini."


Terbayang-bayang tentang bagaimana nasibnya nanti jika sampai tertangkap oleh security untuk kedua kalinya. Disisi lain jika saja Kazuta berfikir untuk kabur saja dari sini, maka Guru Angga akan melihat dan itu sama saja dengan bunuh diri.


Setelah dipikir-pikir opsi kedua menurutku lebih memiliki tingkat keberuntungan lebih baik.


Rencananya ialah untuk mengelabui Guru Angga dengan menempatkan ia sendiri diantara banyaknya kerumunan orang.


"Ya...! Itu pasti dapat dengan mudah kulakuakan daripada opsi yang pertama."

__ADS_1


__ADS_2