Raja Pedang Sihir

Raja Pedang Sihir
Berhasil Lolos


__ADS_3

Aku berlarian tanpa batas untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya merasa tenang karena merasa telah lolos dari kejaran mereka.


"Hei....! Berhenti." Teriak pelayan yang mengejarku dari belakang.


Setelah berlarian cukup lama, sampailah aku di sebuah Gang yang sangat sepi.


"Hah-hah..., Aku udah gak kuat lagi berlari!"


Aku kebingungan melihat jalanan sepi yang berada disekitaku, menuntutku untuk memilih jalanku sendiri.


Rasanya saat itu aku seperti tengah diterpa badai yang amat besar sehingga mendapat dua masalah sekaligus dalam satu hari, yah meski tidak hanya ini saja masalahku untuk hari ini karena jujur saja dari pagi tadi masalahku sudah menumpuk.


Mulai dari masalahku dengan iqbal dan rekan-rekannya hingga mendapatkan skorsing dari guru, dan terakhir ini dikejar oleh Pelayan kedai serta securitynya dan jangan lupa juga dengan Guru Angga yang belum diketahui apakah dia tengah mengejarku atau tidak. Orang-orang abstrak seperti Guru anggalah yang menurutku paling mengerikan, karena tidak terlihat jelas apa tujuan dibalik tindakan selanjutnya.


"Benar-benar sial banget hariku kali ini."


"Jalanan sepi! mereka berdua tidak lama lagi pasti akan sampai kesini, mungkin sekitaran 15 menitan mereka pastinya menyusul."


"Aku harus segera menemukan tempat persembunyian sampai mereka benar-benar kehilangan jejakku."


Aku terus-menerus mencari tepat sembunyi yang aman di sekitarnya tempat itu, namun setelah mencarinya hingga kesana kemari aku belum menemukan lokasi yang cocok untuk persembunyian.


Aku pun kembali berlari mengira mungkin saja mereka telah sampai ketempat ini lebih cepat diluar dari perkiraan ku.


Namun bagai diterpa ombak, lagi-lagi aku mendapatkan nasib sial. Hal itu karena saat aku ingin berlari lebih jauh lagi, aku menemukan diriku berada disuatu gang buntu yang tepat didepanku.


"Cih....! Sial... "


"Lagi-lagi masalah hadir padaku, serasa tak ada habisnya?"


"Aku tidak mungkin juga harus putar balik sekarang, mereka pasti

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki datang dari arah belakangku.


"Siapa itu...!"


Suara itu tampak perlahan demi perlahan mendekat, semakin mendekat lagi dan lagi. Dalam situasi yang menegangkan itu, aku hanya dapat bisa berjalan mundur menuju tembok buntu yang ada didepanku.


Hingga sampailah aku diujung tembok buntu itu dan tak bisa berjalan mundur lagi.


Ditengah situasi itu aku hanya dapat pasrah, meskipun ketika tertangkap nanti mungkin saja aku pada akhirnya akan mengganti rugi biayanya dengan cara apapun yang mereka inginkan.


Disaat suara langkah kaki itu mulai semakin mendekat kearahku, Aku dengan telah pasrah langsung saja menutup kedua mataku yang sama sekali tidak ingin melihat situasi hal ini.


Disaat situasi dimana Mataku tengah tertutup, ada seseorang yang tiba-tiba saja manarikku yang tidak diketahui entah dari mana asalnya.


Saat aku membuka mataku kemabali, aku melihat diriku berada dibalik tembok yang butuh tadi. Aku yang mengetahuinya sontak kebingungan, dengan caraku yang tiba-tiba yang sudah berada dibalik tembok yang berukuran sangat tebal seperti ini.


"Ctik-ctiikk.... " Mengetes ketebalan dari tembok yang baru saja kulewati tanpa aku mengetahui caranya aku dapat melewatinya tadi.


Lalu aku mencoba mendengarkan suara dari orang-orang itu dengan menempelkan salah satu telingaku pada tembok yang tengah kusentuh agar suaranya dapat terdengar lebih jelas.


Disaat itu Aku dapat mendengar suara mereka, aku bisa mendengarnya suara mereka dengan sangat jelas. Sesuai dugaanku suara langkah kaki yang kudengar sebelumnya memanglah suara langkah kaki dari dua orang yang mengejarku dari tadi yakni Si pelayan termasuk security nya. Hal itu dapat dibuktikan dengan suara yang kudengar sangat jelas dan juga tidak asing ditelingaku.


Dari suara yang kudengar meraka berdua tampaknya tengah kebingungan mencariku.


"Sial! Kita lagi-lagi kehilangan jejaknya." Ujar suara yang tampaknya itu adalah suara dari Si Pelayan.


"Eh... ! bukannya ini jalan buntu, ya?" Tanya suara yang kedengarannya kali ini itu suara dari sang Security.


"Oh iya! Dia tadi beneran lewat sini kan?" Tanya dari suara Si Pelayan.


"Iya benar kok! Orang saya lihat sendiri barusan dia lari lewat jalan ini, lagipula nggak ada jalan lain lagi selain jalan ini."

__ADS_1


"Tapi ini kan jalan buntu, mustahil bagi dia bisa kabur setelah melewati jalan ini?"


Si pelayan terus saja memerhatikan celah-celah yang ada di tembok yang menjadi jalan buntu.


Memang mustahil ada seseorang yang bisa lewat, aku bahkan melihat kebagian terkecil dari tembok ini tapi sama sekali tidak dapat menemukan satupun ruang yang bisa dilalui oleh manusia manapun untuk dapat melewatinya.


"Aku juga bingung, bagaimana mungkin bisa ya." Kata sang Security sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau dilihat dari situasi manapun nggak akan bisa, pak?" Kata Si Pelayan telah selesai memerhatikan setiap sisi dari tembok yang menjadi jalan buntu yang tadi dilewati Kazuta.


Hal ini membuat mereka berdua sangat bingung serta heran, Si pelayan juga tak bisa menebak secara logis tentang Kazuta yang tiba-tiba saja menghilang setelah melewati jalanan buntu.


Si Pelayan yang merasa masih punya banyak kerjaan yang harus ia selesaikan di kedai, berfikir untuk kembali kedai untuk menyelesaikan pekerjaannya itu. Si Pelayan juga bersumpah pada dirinya sendiri bakal menuntut ganti rugi jika ia dipertemukan kembali dengan Kazuta. Meski dirinya sendiri tidak tahu kapan datangnya hari yang ditunggu-tunggunya itu.


Namun hal yang berbeda diungkapkan oleh Sang Security yang nampaknya punya pemikiran lain akan hal itu. Ia ingin terus mengejar bocah dengan seragam sekolah itu hingga dapat karena Sang Security punya anggapan bahwa ia selama ini merasa telah dipermainkan serta dibodohi olehnya.


Si Pelayan itu pergi meninggalkan Sang Security yang masih berkeinginan untuk mengejar Kazuta.


Dari perbincangan tadi, tampaknya hanya Sang Security itu yang perlu dikhawatirkan. Karena Ia yang masih ngotot ingin mengejarku.


Tapi karena saat ini aku telah berada dibalik tembok, akan sangat sulit bagi security itu untuk menemui jalan penghubung untuk menuju kesini.


Begitu tahu aku memiliki peluang yang lebih besar untuk lolos dari security itu. Aku langsung tancap gas meninggalkan tempat itu sebelum Sang security dapat menemukan jalan penghubung melewati tembok pembatas.


Dengan begitu aku dapat bernafas lega karena bisa lolos dari pengejaran mereka berdua, meski aku sendiri belum tahu bagaimana nasib dari Guru Angga sendiri.


"Semoga saja Guru Angga tidak ikut mengejarku, Akan lebih merepotkan. Jika dia juga ikutan!"


seketika sadar suasana di sekitar sudah mulai terasa sangat gelap, aku pun melihat jam yang ada ditanganku. Setelah melihatnya sontak aku terkejut mengetahui bahwa sekarang telah pukul 6 sore.


Aku pun langsung bergegas lari menuju kerumah, dengan fikiran dan perasaan khawatir akan omelan Ibu yang menantiku nanti setibanya dirumah.

__ADS_1


Meski telah berlari cukup kencang, namun jalanan di trotoar terlihat begitu dipadati dengan banyaknya pejalan kaki yang melintas.


__ADS_2