
Dengan banyaknya pejalan kaki yang berlalu lalang dijalanan trotoar yang cukup sempit. Aku berjalan sambil berdesakan dengan pejalan kaki yang lain. Lagipula hari merupakan hari Weekend yang dimana tentu saja banyak orang yang ingin menghabiskan malam mereka untuk bersenang-senang.
Akibat Kerumunan itu membuatku terjepit tubuh dari orang-orang disekelilingku sehingga beberapa kali kaki terinjak oleh perjalanan kaki lain. Aku berusaha untuk segara keluar dari dalam Kerumunan itu tapi setelah berjalan cukup jauh, aku merasakan bahwa kerumunan ini benar-benar sangat panjang.
Rasa sesak, pengap hingga perih karena terhimpit tubuh orang luan sudah menjadi makanan bagiku. Meski berulang kali ku katakan agar setidaknya memberiku ruang sedikit untuk berjalan, namun kata-kataku selalu tidak digubris oleh mereka.
Sampailah dititik dimana aku tidak sanggup meneruskannya perjalan ini lagi, merasa energiku telah terkuras habis sejak pengejaran tadi.
Lalu tiba-tiba aku melihat sebuah taxi yang tengah parkir di bahu jalan. aku pun segara menuju taxi itu, yang memaksaku harus menerobos puluhan pejalan kaki yang berkerumun disekitarku.
Tapi setidaknya itu tidak mengubah niatku untuk pergi menuju taxi itu, paling tidak sampai beberapa pejalan kaki lain mendorongku hingga terjatuh.
"A-Aduhh.... " Terjatuh akibat banyaknya orang yang berdasarkan.
Sial bagiku, setelah terjatuh aku malah harus mendapat sebuah tendangan hingga injakan pada kaki dan tanganku dari pejalan kaki lain karena mengira menghalangi jalan mereka.
Meraka semua terlihat disibukkan dengan perayaan yang akan segera dimulai pukul 7, Perayaan itu diadakan seremapak dan dipadati oleh banyaknya orang.
Namun bukan hal itu yang menjadi tujuanku kemari bahkan dari awal aku benar-benar tidak memiliki niat untuk datang ketempat ini. Yang kuinginkan hanya ingin sesegera pulang, mengingat hari telah larut malam dan ibu pasti sangat marah dirumah saat ini.
Aku yang kini ditengah-tengah banyaknya kerumunan orang dan terduduk menyilang diatas trotoar. Tak memiliki tenaga lagi untuk sekiranya berdiri.
Disaat aku tengah merenungi nasib sial yang terus saja menghampiriku hari ini. Tiba-tiba datang gadis berpakaian putih dengan Rambut emas yang menjuntai kebawah hingga sampai ke pinggang, dan juga matanya memiliki warna mata merah seperti warna bara api.
Aku sangat kaget dengan kedatangan gadis itu secara tiba-tiba. Gadis itu lalu menjulurkan tangannya seraya membantuku untuk bisa berdiri kembali.
Saat menyentuh tangan gadis itu, tangannya terasa sangatlah lembut juga halus. Kulit nya juga memiliki warna putih halus seperti layaknya sutra, dilihat dari penampilan gadis itu dan juga seragam yang dikenakannya aku dapat mengira-ngira jika dia merupakan murid SMP.
Karena memiliki corak yang sama persis dengan seragam murid SMP kebanyakan.
Gadis itu mengulurkan tanganya dan aku dengan senang hati meraih tangan dari gadis itu. Anehnya Gadis itu sama sekali tidak berbicara apapun.
__ADS_1
"Ehh.... Terima Kasih! " Ujar Kazuta menerima uluran tangannya.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sedikit, dengan matanya yang terlihat tertutup oleh rambut depannya yang panjang.
Disaat Aku lengah gadis itu menarik tanganku melewati puluhan orang yang ada berada didepanku. Namun anehnya orang-orang yang ada disana tampak terlihat memberikan jalan kepada kami berdua.
"Giliranku gak satupun orang yang peduli. Giliran gadis cantik yang melewati mereka, semua pada memberikan jalan."
"Ahh....Mereka semua benar-benar bajingan!" Ujar Kazuta dalam berbicara sendiri dalam hatinya.
Setelah berhasil keluar dari kerumunan berkat bantuan dari gadis yang baru kutemui itu. Aku berusaha berterima kasih kembali kepada gadis itu, namun entah bagaimana tiba-tiba gadis itu lenyap begitu saja dari pandanganku. Setelah sebelumnya perhatianku teralihkan terhadap gadis itu karena melihat adanya keributan yang tengah terjadi di area kerumunan tadi.
"Hei.... Kau.....!!!" Teriak Kazuta memanggil gadis yang baru dia temui itu.
Meski telah ku teriaki berkali-kalipun gadis itu tidak muncul kembali, gadis yang sangat misterius sekali menurutku. Karena sejak kedatangannya saja aku sama sekali tidak melihat pergerakannya.
Ditengah kebingungan yang hening, Aku memutuskan untuk pulang saja menuju kerumah dengan menaiki taxi yang sebelumnya kulihat tadi.
Dia terlihat tengah menungguku dari tadi, karena hal inilah yang menyebabkanku takut akan sosok ibuku.
Ketika aku menapakkan kaki ku untuk keluar dari dalam mobil Taxi, itulah hal yang paling menegangkan dari semua yang kulalaui dihari ini.Perang besar akan dimulai dan kedatangankulah yang akan memulai itu semua
Aku berjalan masuk lewat pintu depan yang dimana ibuku telah menungguku disana.
"Anu..... " Aku bingung berkata apapun didepan ibukku.
Ibuku dengan kacamata yang ia kenakan memerhatikanku dengan tatapan marah dan juga kesal, dijuga lantas mengerak-gerakkan kacamatanya untuk menutupi kemarannya itu.
"Apa kau tahu sekarang sudah jam berapa Kazuta." Ibukku berkata sambil menggerakkan kacamata yang ia kenakan keatas dan kebawah.
"Ya, Aku mengerti!" Kazuta sambil menganggukkan kepalanya didepan ibunya.
__ADS_1
"Lalu kalau kau sudah mengerti, kenapa kau pulang telat sampai larut malam, begini?"
"Aku tadi ada masa..... "
"Jangan banyak beralasan!!!" Ibukku langsung memotong pembicaraanku dengan suara gertakan, hingga membuatku benar-benar sangat terkejut sekali.
Aku seketika menundukkan kepalaku kebawah dan tak mengatakan kata apapun didepan ibukku.
"Ha.... Kau tidak melakukan pembelaan apapun ya, kau sepertinya sudah mengakui kesalahanmu hari ini."
"Pokoknya sebagai hukumannya kau tidak akan dapat jatah makan malam hari ini!" Kemudian setelah mengatakan itu ibu Kazuta masuk kembali kedalam rumah.
"Tunggu..... Ibu...... " Teriak Kazuta mendengar dia takkan mendapatkan jatah makan, malam ini.
Dengan penuh kekecewaan aku juga ikut masuk kedalam rumah bersama dengan ibuku mengingat diluar sudah sangat dingin dan juga gelap.
Aku langsung masuk kedalam kamarku dan duduk di atas kasurku, disana aku berfikir bagaimana caraku untuk mengganjal perutku yang mulai dari pulang sekolah belum makan.
Lagipula Tadi aku hanya mengisi perutku dengan secangkir Kopi yang dari pelayan kerai kopi yang mengejarku tadi. Tapi itu masihlah belum cukup untuk mengisi perutku yang lapar.
Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam pikiranku.
"Hmm.... Apa aku harus mengganjal rasa lapar ini dengan meminum air putih sebanyak-banyaknya, agar rasa laparnya sedikit berkurang."
"Ya, sepertinya terpaksa harus kulakukan!" Kata Kazuta Sembari membuka pintu kamarnya dan pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air terlebih dahulu.
Meski tak bisa mengganjal rasa lapar secara keseluruhan, tapi paling tidak rasa kembung akibat minum air dengan jumlah yang banyak bisa membuatku dapat tidur hingga esok hari dengan lelap.
Saat tengah berasa didapur, aku melihat ibukku yang masih belum juga tidur hanya untuk mengawasi ku. Nampaknya ia sangat bersungguh-sungguh dengan perkataannya tadi.
Tanpa berlama-lama, aku pun kembali kekamarku untuk segera tidur.
__ADS_1