
"Rencananya akan kumulai ketika pelayan tadi, telah menyediakan kopi untukku."
"Disaat itulah pengawasan mereka akan sedikit longgar."
Untuk masalah ini aku harus dapat berpacu dengan waktu. Karena kunci dari keberhasilan rencana ini adalah timing yang tepat dan dapat memilih waktu yang tepat.
Jadi singkatnya timing serta waktu yang tepat adalah hal yang sangat berpengaruh besar dalam rencanaku ini.
"Hah... " Aku berpura-pura minum agar dapat mengelabui si pelayan tadi.
Saat aku melihat pelayan tadi itu tengah menuju kedapaur untuk mengantarkan pesanan.
Aku dengan cepat langsung menuju pintu keluar, agar sekiranya dapat kabur dari dalam kedai.
Disaat yang bersamaan, aku melihat security tadi yang menangkapku tengah berjaga di pintu masuk.
Aku tentu bersikap santai dan bejalan dengan normal melewati pintu keluar agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Disaat aku berjalan melewati security tadi, Tiba-tiba aku disuruh berhenti olehnya.
"Tunggu dulu! Berhenti." Security tadi melihat-lihat kearahku.
"Kamu kan orang tadi, yang sebelumnya saya usir kan? " Tanya security kepadaku.
"I-Iya pak! Memangnya ada apa ya?" Jawabku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Security itu berjalan mendekatiku dan melihat-lihat kearah dalam kedai kopi.
"Kau tidak melukakan hal yang buruk lagi kan?" Ujar Security itu bertanya kepadaku.
" Yah... Tentu saja tidak, pak?"
"Hmm...! Baguslah kalau begitu?" Kata security itu sambil tersenyum kepadaku dan mengizinkan ku untuk pergi meninggalkan kedai kopi.
Sebelumnya aku melihat kearah toko pakain dimana lokasi Guru Angga tadi. Namun kali ini aku sama sekali tidak melihat keberadaannya.
"Huh...! Syukurlah kalau dia sudah pergi?" Aku pun lalu berjalan dengan santainya pergi meninggalkan kedai kopi itu.
Namun belum sampai separuh jalan dari lokasi kedai itu, aku melihat Si pelayan tadi rupanya telah berada di tempat parkir kendaraan dan tengah duduk disalah satu kendaraan sepeda motor.
Aku tidak mengerti kalau Ternyata selama ini telah menungguku di parkiran kendaraan untuk me
"begitu rupanya, Jadi inilah niatanmu sejak awal tadi?"
"Menjadi pembeli yang tidan mau membayar. "
"T-Tunggu dulu! aku bisa jelaskan dari awal, ini tidak seperti yang...?"
Pelayan itu yang terlihat marah langsung memanggil security yang berjaga untuk segera menangkapku.
"Security...! Security....! " Teriak si pelayan wanita.
Security yang sama yang menangkapku sebelumnya, berlari dari area pintu masuk menuju kearah tempat kami berdua.
"Ada apa, mbak?" Tanya security tadi berbicara kepada si pelayan.
"Ini pak! Ada pembeli yang tidak membayar, cepat tangkap dia pak."
"Iya mbak! siap laksanakan."
__ADS_1
Saat security itu hendak menangkapku, aku pun berusaha kabur dengan mendorong sj pelayan wanita kearah security itu sehingga membuat keduanya terjatuh.
Aku pun kabur secepat mungkin meninggalkan mereka.
Setelah berlari cukup jauh dari tempat mereka berdua tadi.
Disaat aku tengah berlari ditengah kerumunan banyak orang, aku secara tidak disengaja menabrak seorang pejalan kaki yang ada didepanku.
"A-aduh... " suara aku berbenturan dengan seseorang yang tampa seperti pria dewasa.
"M-Maafkan aku, aku sedang terburu-buru."
Disaat aku perlahan berdiri kembali, aku mendongak dan melihat kearah dari wajah orang tersebut.
Saat melihat wajahnya Aku sangat terkejut, karena rupanya orang yang sedang ketabrak adalah Guru Angga.
Orang yang ingin sekali kuhindari sejak tadi, tapi ujung-ujungnya malah ketemu juga sama dia.
"Apes banget hidupku." Kataku meringis dalam benakku.
Guru Angga yang sadar kalau itu aku, langsung menanyaiku beberapa hal.
"Sedang apa kau disini, bukankah ini sudah untukmu pulang?" Tanya Guru Angga mencoba menasehatiku.
"I-Iya pak... Ini aku lagu perjalanan pulang, hanya saja aku ada masalah tadi dijalan."
"Jadi telat deh pulangnya?" Jawabku kepada Guru Angga.
"Hmm... Okelah! Bapak bisa mengerti."
Mendengar perkataan Guru Angga, setidaknya aku dapat bernafas lega.
Namun tiba-tiba nada bicara Guru Angga seketika berubah.
Dengan cepat ekspresi wajahku berubah menjadi suram bahkan membuatku menelan ludahku sendiri dengan kata-kata Guru Angga yang seketika terkesan Ambigu.
Berpura-pura bodoh dan tidak mengetahui apapun adalah satu-satunya jalan yang menurutku bisa lepas dari situsi ini
"Memangnya hal Apa, pak?"
"Apa kau sudah lupa." Nanda bicara Guru Angga semakin intens hingga membuta tubuhku gemetaran.
"Ya...Aku sama sekali tidak ingat pernah melakukan sesuatu yang buruk." Kataku dengan gugup.
"Kau baru saja mengucapkannya, Lho?"
"Maksud Bapak?" Dengan merasa bingungnya.
"Kau baru saja mengatakan kalimat yang seharusnya, ingin kuucapakan."
Merasa situasi mulai tidak membaik dan kedokku sedikit demi sedikit mulai terbongkar, aku pun segera berpamitan pada Guru Angga untuk bersiap pergi.
"Ah...! Ibukku pasti sedang menungguku dirimu, bakal gawat kalau tidak segera pulang."
"Maaf, Aku pergi dulu! Selamat tinggal Guru."
" Tunggu dulu..., Aku belum selesai bicara!" Teriak Guru Agung dengan sangat tegas.
Hingga hal itu membuatku sangat kaget, namun aku tetap berjalan meninggalkan Guru Angga.
__ADS_1
"Hei...! Tunggu...!" Teriak Guru Angga kepadaku.
Disaat aku tengah berjalan meninggalkannya, Guru Angga terus saja mengomel dan meski hal itu sangat sekali mengganggu secara mental. Namun hal itu tidak menggoyahkan tekadku untuk terus berjalan.
Hingga pada akhirnya Aku dapat benar-benar kabur dari dua permasalahan sekaligus.
"Hah-hah.... " kelelahan karena harus lari dari, Guru Angga dan juga si pelayan tadi.
Aku merasa sedikit lebih aman sekarang, meskipun seharusnya aku tak berfikir demikian karena kita tidak tahu kapan mereka dapat muncul dan mengejarku kembali.
"Setidaknya untuk kali ini aku dapat sedikit beristirahat dan juga dapat sedikit mengatur nafasku."
Akibat berlari tadi aku sulit mengatur nafasku dengan baik, Hal itu membuat nafasku terengah-engah dengan sangat parah, hingga membuat diriku sulit bernafas.
"Hah-Hah...! Parah sekali, mereka sampai membuatku harus berlari seperti ini?" Kataku dengan nafas yang terengah-engah.
Tanpa sadar Aku melihat sebuah taman yang dimana disana terdapat sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu yang menurutku tampaknya cukup nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat.
"Ahh....! Inilah yang kucari." Kataku sambil tersenyum kegirangan.
Aku pun berjalan menuju tempat duduk panjang itu, sambil menenteng punggungku yang terasa mulain nyeri.
"Karena kejar-kejaran tadi punggungku jadi terasa sakit."
"Padahal aku sendiri masih belum cukup tua untuk hal ini?"
"Haa... " perbedaan terasa sangar jelas sekali saat telah menyadarkan tubuhku di sandaran yang ada pada kursi tersebut.
Bisa bersantai sejenak disini tanpa harus main harus dikejar lagi seperti seekor tikus.
...----------------...
"Dimana dia... "
"Cari dia terus sampai ketemu? "
Karena mendengar adanya suara-suara bising disekitarku aku pun tersadar dan terbangun dari atas kursi itu. Tak kusangka saking nikmatnya bersandar dan menikmati hembusan angin di sore hari di sekitaran taman hingga sampai membuatku tak menyadari bahwa aku telah tertidur diatas kursi panjang tersebut.
Nampaknya aku pernah mendengar suara yang sama seperti ini sebelumnya. setelah kutelusuri sumber suaranya benar saja suaranya berasal dari dua orang yang mencariku tadi yakni si pelayan dan si security tadi.
Mengetahui hal tersebut, aku langsung bersembunyi dibawah kursi panjang ini.
Mereka berdua terlihat semakin mendekat kearah kursi panjang yang menjadi lokasi persembunyianku.
"Aku tadi melihat di tadi berlari melewati area ini?"
"Cepet banget ya, dia ngilangnya?
"Iya mbak, saya juga tadi liat dia lari kearah sini?"
Sial bagiku, disaat aku bersembunyi ada seekor anak anjing tengah melihatku yang tengah bersembunyi. Anak anjing itu tiba-tiba saja mengencingi ku dengan air seninya.
"Wahhhh.... "
"Dasar anak anjing, sialan! "
Anak anjing itu terus saja menggonggong didepanku sehingga pemilik dan juga dua orang yang mengejarku, dapat melihat diriku yang tengah bersembunyi.
"Ahh.... Itu dia orangnya? Ayo kita kejar dia!"
__ADS_1
"Siap, Mbak!"
Mereka berdua berlari kearahku seperti orang yang tengah kegirangan mendapatkan mangsa buruannya.