
Dengan waktu yang cukup lama, Huan Gan terus berlatih dengan tekad yang tinggi.
*****
Di suatu tempat yang tak terjamah, lokasi nya tidak diketahui.
Berdiri sebuah istana besar yang sangat megah, karpet merah terpampang di sepanjang pintu keluar dan masuk istana tersebut.
Dua patung seekor Naga dengan ukuran yang tida terlalu besar terpajang di kedua sisi pintu masuk istana, seluruh istana tersebut memiliki ukiran kumpulan seekor naga.
Di dalam istana tersebut, terdapat singgasana yang sangat megah dan di sisi kanan dan kirinya terdapat tempat duduk yang cukup indah dengan jumlah masing-masing tiga.
Dan disana terlihat bahwa ada sepuluh pria dengan dua pasang tanduk di kepala mereka masing-masing, mereka duduk di kursi yang tersedia, pria kekar dengan luka sayatan yang sudah membekas di dadanya duduk di atas singgasana megah tersebut.
"Yang mulia raja, apakah itu benar? kalau yang mulia melihat kalau patung leluhur bersinar?" tanya salah seorang yang duduk di sisi kiri singgasana.
__ADS_1
Pernyataan itu juga diangguki dengan pria yang lain-nya dan pria yang di sebut sebagai raja itu pun menghela nafas panjang, setelah-nya dia menjawab.
"Benar! saat aku sedang bermeditasi, aku merasa-kan patung leluhur bersinar terang dan bergetar. Itu menandakan kalau leluhur telah kembali!" jawab raja tersebut.
"Tapi, yang mulia. Apakah itu memang benar leluhur? bisa saja it.." kalimat seorang pria yang duduk paling belakang di sisi kanan di potong oleh raja tersebut.
"Lancang! berani sekali kau berkata seperti itu! apa kau meremehkan pertanda dari patung leluhur?! jangan lupa, leluhur sendiri-lah yang mencipta-kan patung diri-nya..."
"...dan patung leluhur-lah yang telah melindungi kita dari ancaman iblis! dan patung leluhur-lah yang juga telah menyembunyi-kan kita dari dewa yang ingin memusnah-kan kita semua!" ujar raja itu dengan menaik-kan nada bicara-nya.
"B-baik yang mulia!" jawab pria itu dengan tubuh yang bergetar.
"Kami sepenuh-nya percaya yang mulia, dan apa rencana kita selanjut-nya?" tanya pria yang duduk di sisi kiri.
"Sekarang aku ingin mengirim pesan jiwa kepada leluhur, agar setelah dia menerima pesan-ku tersebut maka secara otomatis kami akan saling terhubung dan bisa melakukan telepati." jawab sang raja.
__ADS_1
"Dan untuk sekarang kita belum bisa keluar dari wilayah yang sudah di tentukan, karena bangsa iblis masih mengawasi kita. Kita akan menunggu waktu yang pas untuk pergi!" lanjut-nya.
"Baiklah, yang mulia." balas mereka semua serempak.
Pertemuan itu pun berakhir, pria yang di sebut sebagai raja itu pun pergi ke sebuah ruangan yang penuh dengan lukisan-lukisan naga yang sama, naga yang sangat besar dengan sisik berwarna merah keputihan.
Bahkan, lukisan-nya saja mengeluarkan aura yang sangat agung, bahkan melebihi keagungan bangsa Dewa.
Ruangan itu tidak terlalu besar. Lalu, di tengah-tengah ruangan tersebut terdapat sebuah patung yang ukuran-nya kecil tapi juga mengeluarkan Aura yang sangat agung, patung tersebut sangat mirip dengan naga yang ada di lukisan-lukisan di ruangan tersebut.
"Yang mulia! terimalah penghormatan hamba! maaf karena hamba sangat jarang mengunjungi yang mulia!" ujar raja itu sambil berlutut dengan satu kaki.
"Setelah penantian yang panjang, akhir-nya yang mulia memilih untuk kembali! hamba beserta bangsa naga lain-nya sangat senang, yang mulia! masa kejayaan ras bangsa naga akan kembali! terimakasih yang mulia, dengan ada-nya kehadiran yang mulia."
Bersambung...
__ADS_1