Rambu Hitam.

Rambu Hitam.
1 - Wajah dibalik Jendela


__ADS_3

Kakiku bergerak lincah dalam kegelapan ,karena jalan ini sudah terbiasa ku lewati sehari harinya.tak butuh waktu lama,sudah terlihat tembok rumahnya berdiri angkuh di remang cahaya lampu Bohlam Lima Watt.


Dengan berjingkat,kususuri pinggiran tembok,dan mendekam di bawah pohon mangga tak jauh dari jendela sebuah kamar.


"Prak!"


sebuah kerikil kulempar tepat di jendela.


Dadaku berdegup kencang,entah karena takut,atau senang akan bertemu dengan seseorang yang selalu terbayang dalam pikiranku.


Tak ada reaksi apa apa...


Kembali aku meraba tanah mencari batu-batu kecil.sementara mataku tetap mengawasi jendela.


"Ah,kenapa batu kerikil saja susah dicari?"keluhku dalam hati.


Setelah meraba kian kemari,jariku menyentuh sebuah batu bulat kecil,yang ternyata kelereng.tanpa pikir panjang kembali kusambit jendela kamar itu.


"PRANG!!!"


ternyata dalam kegugupanku,tanpa sadar telah melempar dengan keras,jendelapun pecah menimbulkan suara gaduh di keheningan malam.


Aku terlonjak kaget,sebuah suara berat nan garang terdengar menyayat nyaliku.


"Siapa itu,dasar setan alas!!"....


"waduh,bapaknya tuh !!!".


Seketika nyali ini terbang,seiring dengan terdengarnya suara derit pintu yang dibuka tergesa gesa,akupun segera balik badan,


kabuuur...


Tapi,saat itu juga aku sempat melihat seraut wajah melongok dari jendela yang sudah pecah berantakan.


"Huh,dari tadi kemana kau?"pikirku sewot.


"DUK!!"


"Aduh!!" teriakku kaget,

__ADS_1


aku malah menabrak pohon mangga.kepala terasa pening,pandangan berkunang kunang.


"Mau lari kemana kau,maling bangsat!!"


"Mati aku" pikirku


Yang Segera saja bangkit dan lari lagi sekuat tenaga.dalam ketakutan,aku lari tanpa perduli arah,melewati ladang jagung,melompati onak dan semak semak.


setelah dirasa jauh,barulah aku mengambil jalan yang menuju rumah.


Tak terasa,karena ketakutan,aku berlari sangat jauh.dengan dongkol kembali kususuri jalanan,pulang.


Kepala masih berdenyut,kuraba dahi yang sudah membenjut sebesar ibu jari.peci hitam hilang,entah terjatuh dimana,sekujur kaki perih kena duri.


tapi dalam kekesalan,aku masih ingat,saat seraut wajah indah melongok keluar di Jendela yang kacanya telah pecah berantakan.


"Haaaiii..."aku menarik nafas dalam dalam sebelum kemudian tersenyum senyum sendiri.


Ketika tengah asik melangkah sambil membayangkan hal yang indah,tetes air mulai berjatuhan.aku melihat dikegelapan langit,sambil menadahkan tangan.memastikan.


"Ah,hujan...pantesan dari tadi gelap gulita"pikirku,yang segera berlari lari lagi.tak jauh di depan terlihat pos ronda,tempat aku biasa menghabiskan waktu bersama teman teman,sambil menunggu waktu saur.


Sayup sayup masih terdengar suara orang tadarus dari masjid,diantara gemuruhnya hujan.


Dari kejauhan terlihat seseorang berlari lari menembus hujan,


Aku beringsut ketengah,memberi tempat kepada orang tadi.


tapi,betapa kaget setengah mati aku,saat mengetahui bahwa orang itu adalah pak Nario,bapaknya Laila,gadis yang baru saja kusatroni,bahkan telah memecahkan jendelanya.


Dadaku bergoncang keras,tanpa sadar aku menyeka keringat dingin yang mulai meleleh didahi.rasa perih kembali berdenyut saat tangan menggosok bagian yang benjol.otakku berhitung,lari atau tetap tinggal...akhirnya dengan lapang dada aku pasrah,menunggu nasib.


"Wah,kamu mam? kamu tidak ikut tadarus? kok malah sudah nongkrong disini? " Kata pak Nario sambil membuka jaketnya yang basah dan menggantungnya di dinding posko.


aku terhenyak,merasa tak percaya pak Nario malah bertanya begitu.


"Eh .. anu pak,tadi aku ambil giliran pertama,lalu langsung izin pulang.badanku lagi meriang.tapi malah kehujanan"jawabku sedikit terbata bata.


"Owh,begitu...."katanya tawar,sambil menyalakan sebatang rokok.

__ADS_1


Aku terdiam dipojokan.sesekali kulirik pak Nario,yang terlihat sedang asik menikmati rokoknya.


"Kalau dia disini,terus yang tadi mengejarku siapa ya?"pikiran itu melayang layang dikepala.tak tahan akhirnya dengan hati hati aku bertanya.


"Pak Nario habis dari mana? "


Tiba tiba dia berpaling menatapku.yang karuan saja kembali membuat panik.


"Huh..tadi aku mengejar pencuri,dia coba membobol jendela!"katanya gusar.


"Untung aku masih belum tidur..heran, pencuri sekarang tak kenal waktu.kalau sampai kena tuh maling,aku patahkan kedua tangannya!"pak Nario mendengus kesal sambil membanting puntung rokoknya.


Aku terpana,tak tau harus menyambung bagaimana ucapannya.


***


Berita tentang maling menyatroni rumah pak Nario keesokan harinya telah menghebohkan warga kampung.bagaimana jendela yang dicongkel sampai pecah berantakan,perawakannya yang konon tinggi besar,dan membawa samurai.


Bahkan keberanian sang tuan rumah yang begitu heroik,berkelahi dengan si maling,mengalahkannya,hingga pengejarannya sampai ujung kampung menjadi kisah tersendiri.


begitulah kalau ibu ibu sedang bergosib,ceritanya satu bisa menjadi dua bahkan jadi tiga.


Aku tersenyum kecut mendengar ibu dan beberapa orang tetangga mengobrol di teras depan.sebelum kemudian melanjutkan tidur kembali.


"Imam!!"


"Sudah jam setengah tiga,kamu masih saja molor..bangun!!" teriak Ibu. Aku diam saja pura pura masih tertidur.


"Mentang mentang bulan puasa kamu malah tidur seharian,giliran malam kamu keluyuran" kembali ibuku mengomel.


Aku gelagapan terbangun,dengan malas beranjak,menyeret kaki ke kamar mandi.


Sore hari adalah waktu yang paling menyenangkan di bulan Ramadhan,duduk santai bersama teman teman dipinggir jalan,melihat lalu lalang orang orang.sambil menunggu adzan magrib menjelang sebagai tanda berbuka puasa.


tapi,sore ini aku hanya uring uringan sendiri dikamar.dahiku masih benjol,dan sedikit memar.tentu akan jadi pertanyaan bagi mereka.kakikupun juga terasa pegal.


Kembali kuterawang kisah semalam,huuu...Aku bergidik sendiri membayangkan seandainya ketahuan bapaknya Laila.


..

__ADS_1


__ADS_2