
Suara takbir berkumandang, membahana, menyelimuti langit. suara petasan tak berhenti setelah adzan maghrib lantang terdengar dari sebuah toa masjid Al amien, satu satunya masjid yang ada di kampungku.
bedug bertalu talu dipukul dengan penuh semangat. Semua bersuka cita.menyambut hari kemenangan.
Dikamar, aku sendiri dengan selembar kertas. yang sedari tadi tak kuasa untuk melepasnya..kubaca lagi, lagi...dan lagi.
Satu hal yang tak pernah kuduga. sore tadi mita, ponakanku menaruh bungkusan dikamar. katanya dari pak samsul, guru ngajiku.
dengan heran kubuka bungkusan itu, isinya adalah sebuah peci yang masih terbungkus plastik. dengan selembar kertas didalamnya.
"Kubelikan peci baru untukmu. bukankah pecimu ketinggalan diwaktu malam itu?
Aku"
Dengan penasaran aku tarik Mita yang sudah keluar,
"Siapa yang memberi bungkusan ini padamu?" tanyaku
"Kak Laila, om..katanya dari bapak Samsul buat om." kata Mita polos. yang membuatku langsung mengerti.
"Nih buat kamu, jangan bilang siapa siapa ya!" kataku lagi sambil merogoh kantong baju. kuberikan tiga lembar uang duaribuan ke tangannya. matanya sontak melebar dan tersenyum riang.
"Terima kasih,om" katanya sambil berlari lari keluar.
Sejuta perasaan berguling guling memenuhi ruang di kepala. kembali ku ingat ingat peristiwa di malam itu.
ah..ternyata peci hitamku terjatuh, saat aku menabrak pohon mangga disamping rumahnya. entah bagaimana dia bisa mengetahuinya.
Kutimang timang peci hitam pemberiannya.
kucium..
"Hmm......!"
"Alhamdulillah ya Allah, malam ini benar benar hari kemenangan bagi hamba.."
Dadaku bergemuruh,pun suasana sekitar. takbir dan tahmid terus berkumandang.
Dengan langkah ringan aku bergabung dengan teman teman yang telah lebih dulu berkumpul di masjid.bersama sama mengumandangkan takbir.
Malam oh malam, beranjak perlahan.
menyelubungi perasaanku dengan bunga bunga beraneka warna dan aroma.
*___*
__ADS_1
Satu persatu kami saling bersalaman dan tersenyum bahagia selesai shalat id.
"Mohon maaf lahir batin,kawan!" kataku tersenyum lebar.
Fendi, holil, dan hasib sebagian dari temanku bergadang. merekapun tertawa.
"Sama sama kawan,nol-nol" kata hasib.
"Eh,mana Hori?" sambil mengedarkan pandanganku ke segala arah, termasuk ke arah bagian kaum perempuan. semua terlihat sama, serba putih karena memakai mukena.
sekian lama jelalatan aku tak berhasil menemukan Laila diantaranya.
"Dia pulang duluan tadi,katanya sakit perut" kata Fendi sambil ketawa.
"Sebenarnya kamu mencari siapa sih"?tanya hasib ikut ikutan memandang ke arah pandanganku.
Aku tertawa.
"Melihat orang di hari lebaran bawaannya beda ya, semua tiba tiba berubah jadi cantik cantik!" kataku sambil tertawa.
"Ayo, kamu mau ikut ziarah ke kuburan kampung?" kata holil.
"Aku belakangan saja,mau pulang dulu.lapar bro." kataku sambil cengengesan.
"Ah dasar kau, makan Mulu tapi tetap saja kurus kering!" kata hasib.
Malam menjelang, Angin semilir pegunungan mengusap lembut rambut. setengah harian tadi semua kakak kakak berkunjung ke rumah. aku adalah anak bontot, dari lima bersaudara. dan saat ini masih tinggal bersama kedua orang tuaku.
ahmat kakakku yang paling tua, menyusul Latif, Jailani dan seorang kakak perempuan Atun. sedangkan mita anak dari kakak atun.
Dan selama ini mitalah yang paling betah dirumah, hingga dimanja oleh kakek neneknya.
Semua kakak kakakku telah berumah tangga. mereka tinggal bersama keluarganya. meski tidak begitu jauh, namun karena kesibukan masing masing menjadikannya jarang pulang untuk sekedar menjenguk orang tua mereka.
malamnya aku dan teman teman mengunjungi satu demi satu rumah dikampungku. sekedar beramah tamah, bersalam salaman. dan itu adalah kebiasaan yang biasa kami lakukan kala lebaran tiba.
Hingga tibalah giliran rumah pak Nario.dadaku berdegup kencang.ku pegang peci hitam dikepalaku. sambil menarik nafas dalam dalam.
Sebuah mobil terparkir dihalaman rumah pak Nario, siapa gerangan tamunya, pikirku.
"Assalamualaikum!" kata Hori yang paling depan sambil merapikan bajunya. kulirik temanku yang lainnya, semua terlihat begitu bersemangat. maklumlah..anak gadis pak Nario adalah yang tercantik dikampung batu sari ini.
"Wa alaikum salam" terdengar sahutan dari dalam.
"Wah.. kalian rupanya.."kata pak Nario setelah keluar, dan melihat kami berlima. kemudian dengan berbisik dia berkata
__ADS_1
"masuklah tapi habis salaman kalian langsung pulang dulu ya, soalnya saya ada tamu dari jauh. nanti kapan kapan kesini lagi"
Kami mengangguk tanda mengerti. setelah bersalam salaman dengan keluarga pak Nario dan tamunya kamipun pamit.
"Huh,dari siang aku ingin bersalaman sama si Laila,disamperin malah ga nongol orangnya!" kata Hori kesal.
"Iya benar..akupun sudah senang mau ketemu si Laila, eeh ga jadi ketemu" gerutu Hasib menimpali.
Aku diam saja. tentu saja akupun kecewa seperti mereka. karena kesal kami sepakat main gaple di pos ronda tempat biasa nongkrong yang disana sudah ada Hasan, Hayat dan Kus. jadilah posko itu semakin ramai dengan kedatangan kami berlima.
Berhari hari aku mabuk terlena, dikamar sambil tersenyum senyum sendiri. sampai ibuku heran.
"Imam,tumben kamu sekarang betah dirumah?"
"Ga kenapa napa,bu..kan kalo dirumah imam bisa bantu bantu ibu" kataku datar.
"Yaelah, ..mending kalau bantu..lha orang kamu kerjanya bertapa dikamar setiap hari!!" ibu mulai ngomel ngomel lagi.
"Kan tiap pagi dan sore imam sudah menyapu lantai rumah,bu" kataku lagi sambil bergegas mengambil sapu, dan mulai menyapu.
"dasar..!!" kata ibuku sambil berlalu.
lebaran sudah tiga hari berlalu.namun suasananya masih terasa.menghirup udara disore hari adalah keindahan tersendiri yang jarang sekali kurasakan.
"hmmmm...Laila sedang apa sekarang,ya?" aku tersenyum senyum sendiri mengingatnya.
"huh..lama lama bisa gila beneran aku ini!" keluhku.
.......
....
"Iya bu,saya juga sudah mendengar tadi pagi di pasar, katanya sih orang kota besannya." kudengar lamat lamat ibu mengobrol entah dengan siapa.
"Ya begitu katanya. memang Laila cantik sih. pantaslah kalau dapet orang kota!" kata yang satunya sambil tertawa .
"DEG"
Tanpa sengaja kepalaku melongok keluar jendela, melihat siapa yang berbicara. ternyata bu Rita, istri pak sardi ketua RT di tempatku. banyak yang mereka perbincangkan. intinya Laila sudah bertunangan.kok bisa???
Laila...kamu bertunangan???
kepalaku pening..
"Ah.. tidak mungkin!" bantahku sengit, tapi dalam hati.
__ADS_1
"Laila....!"