
Dari jauh sudah terdengar sorak sorai penonton yang memenuhi satu satunya lapangan yang terletak dipinggiran kampung. pertandingan persahabatan tim sepak bola ini rutin dilakukan minimal dua kali dalam sebulan.
Lawannya dari mana saja,dengan tujuan menambah jam terbang bermain bagi para anggotanya.dan ini juga merupakan salah satu hiburan tersendiri bagi warga .
Kami duduk di pojok lapangan,berbaur dengan warga yang tiba lebih dulu.
Ketika tengah asik menikmati jalannya pertandingan,Hori berbisik ditelingaku.
"Mam,coba kau lihat barisan penonton disamping gawang itu!"
Akupun menoleh kearah yang disebutkan temanku itu.tampak beberapa orang juga sedang menatap ke arahku.
"Memangnya kenapa?" tanyaku heran.
"Coba kamu lihat yang memakai kaos merah!" ujarnya lagi.
Seseorang yang berkaos merah terlihat sedang mengawasiku juga,matanya tajam menatap lekat. dia menoleh sepertinya tak senang saat mengetahui aku sedang memandangnya juga.
"Siapa dia?" tanyaku masih heran.
Fendi dan Hori tertawa cekikikan.
"Dia lakinya si Laila,mam..hati hati saja kau" kata Fendi.
"Nah..memangnya kenapa dengan lakinya Laila?" tanyaku pura pura acuh.
"Hei mam,kamu kira orang orang disini tidak ada yang tau,ada hubungan apa antara kamu dan Laila?" kata Fendi lagi,yang disambut ketawa terkekeh disebelahnya.
"Lho..hubungan apa?" tanyaku semakin kaget.
"Mam,semua orang dikampung juga sudah tau hubungan kamu dengan Laila,sudahlah jangan berpura pura bodoh,nanti bodoh beneran baru tau rasa kamu!" kata hori
Kulirik lagi orang berkaos merah itu,dia masih mengawasiku dengan tajam.sebelum akhirnya hilang dibelakang penonton lainnya.
Tapi aku masih penasaran bagaimana mereka bisa mengetahuinya.
"Tunggu dulu,apa yang kalian ketahui tentang aku dan Laila?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
Mereka saling pandang.
"Kamu kan pacaran sama Laila dulunya" kata Fendi.
"Nah,itu kan dulu?" tanyaku bingung.
"Iya.mungkin saja suaminya cemburu dengan kembalinya kamu kekampung ini lagi" kata Hori sambil terkekeh.
Pertandingan masih berlangsung seru,serang menyerang silih berganti dari kedua tim. beberapa saat kemudian seseorang memanggil Fendi,entah apa yang mereka bicarakan.
"Mam,tunggu dulu ya..kita dipanggil pak RT,tau ada apa..paling cuma sebentar !" kata Fendi yang langsung menarik Hori pergi mengikuti orang tadi.
Adzan Maghrib berkumandang,acara telah berakhir.tapi mereka tak kunjung kembali,aku mendengus kesal. setelah agak lama menunggu aku memutuskan pulang sendiri. menyusuri jalanan yang mulai sepi.
"Ah,gara gara mereka berdua aku kemalaman. sialan kalian!" rutukku dalam hati.
Di tengah perjalanan,ketika tengah asik mengumpat kedua sahabatku yang tak jelas juntrungannya, saat itu pulalah Dua buah sepeda motor menderu dari arah belakang. yang dengan tiba tiba memepet.
aku menggertakkan rahangku,memandang mereka dengan sikap menantang.satu persatu turun,terlihat suami Laila ada diantara mereka.
Tuduhan yang dilontarkannya membuatku terdiam untuk beberapa kejap. betapa tidak,sama sekali aku tak pernah selingkuh,apalagi sama Laila istrinya. dan tak pernah menyangka pula bahwa ia akan langsung menuduhkannya padaku.
"Jawab tolol!"teriaknya lagi.
"Aku tak pernah selingkuh,aku masih waras!" Kataku berusaha tenang.
"Dasar pecundang,mana berani dia mengaku!" kata temannya.
"Kalian menuduhku selingkuh,apakah kalian mempunyai bukti?" kataku mantap.
"Tak perlu banyak bacot,bro. mending langsung hajar saja" kata salah seorang dari mereka.
"Dulu aku memang agak dekat sama Laila,tapi itu dulu.dan aku tak pernah berbuat yang melebihi batas kewajaran.apalagi sekarang dia sudah bersuami,buat apa aku masih mau mengganggunya!, memangnya wanita cuma Laila seorang!?" kataku ketus.
"Setan!" kata yang berkaos merah sambil mengeluarkan celurit dari balik pakaiannya. sinarnya yang keperakan menyambar nyambar saat ia mengayunkannya ketubuhku.
Aku berkelit kesamping,dan menendang pergelangan tanganya.tapi kakiku telah lebih dulu dihadang temannya menggunakan batang kayu.
__ADS_1
"Dug!"batang kayu tepat menghantam tulang keringku.aku meringis,kakiku langsung terasa kesemutan.sementara celurit itu kembali menyambar kearah kepala.seketika aku menjatuhkan diri,menghindari tebasan celurit.kembali sebuah tendangan dari belakang menghantam tengkuk.
"Hei tunggu dulu!" teriakku
"Masih mau khotbah apa lagi kau,dasar bedebah!"
"Aku tak pernah berbuat seperti apa yang kalian tuduhkan,bangsat!!" kataku gusar.
Tapi mana mau mereka mendengar kata kataku.
aku hanya bisa mengeluh pendek,ketika sinar perak kembali berkelebat. kurasakan dingin di punggung.sebelum kemudian tendangan, batang kayu dan....celurit,silih berganti hinggap ke tubuhku.
Aku menggigil sendiri, tanpa bisa berbuat apa apa.hingga semua benar benar telah berganti gelap.dan tak ada siapa siapa.
-***-
Aku melihat ibuku sedang duduk termenung disamping jendela,wajahnya yang mulai menua terlihat kusut.disampingku,kakak perempuanku Atun tertidur dikursinya.aku langsung kaget berasa masih banyak orang yang mengeroyokku.
"Imam..kamu siuman,nak?"sebuah suara berdengung ditelingaku.
"Ibu..."kataku terputus
"Anakku!"
Aku mengedarkan pandangan,tapi kepalaku terasa susah untuk sekedar digerakkan.
"Dimana ini bu?" tanyaku heran.
"Dirumah sakit,nak!"
Aku kembali merasa gelap menyelimuti ruangan dikepalaku. seperti melayang layang dalam sebuah ruang yang luas tak berbatas...ada Laila,tapi sepertinya bukan..
.....
Sepi..
Kelam....
__ADS_1