Rambu Hitam.

Rambu Hitam.
3 - Peci Hitam


__ADS_3

"Kamu masih menyimpannya?" tanyanya lirih.


Aku hanya bisa terdiam kaku, meraba peci hitam yang menutupi kepala. sambil Memandang indah wajahnya yang tertunduk malu.


"Pastinya,masa iya aku buang?" jawabku mencoba mengusir jengah yang tiba tiba melanda.


Dia tersenyum kecil sambil memalingkan wajah,saat sinar matahari sore menerpanya.


"Biasa ajalah,ga usah pake ngegas" katanya sambil kembali tersenyum.


"Bagaimana kabar kamu selama ini?memangnya dijakarta tidak ada makanan enak ya?" tanyanya.


"Banyaklah, kenapa kamu bertanya seperti itu?" aku terheran heran.


"Aku kira tidak ada makanan yang enak, habis aku lihat kamu tetap saja kurus seperti itu" katanya sambil tersenyum renyah.


Yaah...Senyum itulah yang selalu bermain dipelupuk mataku.


"Hmmm...." aku menarik nafas panjang.menekan detak jantung yang tiba tiba meliar.


Laila..selama Lima tahun sejak kejadian saat itu,saat kau memberiku peci hitam ini,juga saat dimana kamu bertunangan..aku telah memutuskan untuk pergi.meninggalkan tempat kelahiran, tempat dimana aku besar dan tumbuh bersama orang orang tercinta.demi apa??


Sungguh..hanya demi bisa melupakan senyumanmu itu.


Tapi pikirku salah.ternyata tempat yang jauh tetap tak pernah bisa mengubur semua hal tentangmu.


"Mengapa kamu hanya diam saja??"


Pertanyaan Laila membuatku tersadar.


"Kalau memang tidak begitu penting,sebaiknya aku pulang. tidak enak kalau dilihat orang. aku bukan Laila yang dulu lagi, aku sudah menjadi istri orang." katanya lagi dengan tetap tersenyum ramah.


"Oh iya..maaf!" aku gelagapan.


Kupandangi wajahnya.dan sebisa mungkin bersikap wajar. sementara


kehampaan kembali melanda hatiku.


"Maaf jika aku mengganggu waktumu, tak lebih aku hanya ingin melihatmu,mungkin setelah ini aku akan mencoba sekuat tenaga untuk bisa melupakanmu. walau aku tau,itu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan bagiku." kataku pelan menumpahkan gelombang kepenatan yang selama ini mendekam di relung jiwa.

__ADS_1


"Sudahlah,mam.kita memang tidak berjodoh,aku yakin kamu bisa melupakanku." kata laila.


"Maafkan aku mam.aku tak bermaksut untuk membuatmu kecewa" katanya lagi.


Aku hanya bisa tersenyum getir.memandangi punggungnya yang dengan langkah langkah cepat berlalu.


Yaah.sudah seminggu aku kembali merasakan tempat dimana aku dibesarkan. setelah aku tahu Laila bertunangan,sementara Lailapun tak bisa berbuat apa apa,untuk sekedar melawan kehendak orang tuanya. maka aku memutuskan untuk pergi,merantau ke jakarta. meninggalkan kampungku,kampung kecil diujung timur pulau madura.


aku masih ingat,sore itu. Laila menangis. matanya yang indah berkilauan karena butiran airmata yang berderai. dengan ditemani mita aku bertemu dengannya dibelakang sebuah sekolahan.


tempatnya sepi karena memang agak jauh dari pemukiman. hanya pagi sampai siang baru tempat itu ramai. disebuah bangku panjang aku duduk berdua.


"Laila,benarkah kamu bertunangan?"tanyaku perlahan.


Dia menunduk,tak menjawab.


"Laila..jawablah..!" ujarku lagi. pertanyaan yang sebenarnya tak berarti. karena akupun sudah yakin tentang kebenaran cerita itu.


"Laila..jujur aku mencintaimu.aku sayang sama kamu..taukah kamu Laila..betapa bahagianya aku saat kaupun menerima perasaanku saat itu.."aku tercekat.berusaha menenangkan perasaan sendiri.


"tapi kenapa ini terjadi..."?kataku lagi.


Kuangkat dagunya,betapa wajahnya yang indah begitu basah oleh airmata.


tak kuasa kumelihatnya. ingin aku memeluknya,mendekapkan kepalanya di pangkuanku.


"Apakah kamu pikir aku akan berani menentang orang tuaku?"katanya pelan terbata bata sambil memandangku.


"Ya..jangankan kamu..bahkan akupun tak berani menghadapi bapakmu" gumamku.


Dan entah siapa yang memulai.saat itu kita berpelukan.aku menciumi keningmu.sedangkan mita, masih sibuk dengan permen permennya.


"Imam,akupun juga sama seperti kamu,aku tak mungkin mengingkari perasaanku sendiri. rasa sayang,rasa rindu...tapi,..." suaranya terputus.


Aku masih memeluknya.


dan membiarkan dia menangis sepuasnya dipangkuanku.


dan ternyata,waktu begitu mudah mencampakkan sebutir kebahagian itu. menyisakan peci hitam yang masih setia menemaniku. dan menjadi saksi bahwa hati kita pernah satu dalam rasa.

__ADS_1


"Hai Imam...wah keren kamu sekarang ya!" tiba tiba sebuah suara menghentak lamunanku.


"Ngapain kamu disini mam??, Bengong sendirian?"


Aku benar benar dibuat salah tingkah. Hori dan Fendi sambil cengar cengir mendatangiku.


"Ah hanya melihat lihat alam saja kawan" kataku sambil berusaha tertawa.


"Waduuh...melihat alam apa melihat Laila,nih..." kata Fendi sambil melirik kearahku.


Aku kaget..


apa mungkin mereka mengetahui keberadaanku tadi bersama Laila disini.


"Eh,tapi aku curiga nih,soalnya kita berpapasan dengan Laila di jalan tadi, dan arahnya juga pas dari sini!" kata fendi pelan sambil menekan telunjuk dibibirnya.


"Ah jangan konyol begitu, aku tidak melihat siapa siapa disini.lagian aku juga tidak ada hubungan apa apa sama yang namanya Laila" kataku mulai kesal.


"Hahaha...semenjak merantau ke jakarta,pulang pulang kau berubah jadi sentimentil begini,mam!" kata Hori sambil terbahak bahak.


"Ah siapa bilang," kataku


"Ohya,kalian pada mau kemana nih?"tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Nah kan...kenapa membahas yang lainnya!?"kata Fendi lagi sambil melirik ke arahku.


"Huh..jangan mencari gara gara deh!" kataku sewot.


"Hehehe.."fendi terkekeh.


"Kita mau kelapangan mam,nonton sepak bola.lagi ada persahabatan melawan kecamatan sebelah." kata Fendi


"Ayo ikut mam!,daripada kamu bengong disini,yang ada kesambet penunggu sini kamu.hahaha..!" kata Hori yang masih hahahihi dari tadi.


"Ayo ah!"kataku.


Sepanjang perjalanan hatiku risau,entahlah kenapa..


..

__ADS_1


__ADS_2