Rambu Hitam.

Rambu Hitam.
7 - Suatu malam sehabis hujan


__ADS_3

Di dalam sebuah rumah sederhana dipinggiran kota,tiga orang sedang duduk melingkari sebuah meja, yang dipenuhi tumpukan uang.


" dedi,kamu yakin sudah melumpuhkan semua cctv di bank itu?" kata johan.


"Aku sudah memastikan hanya ada tiga buah cctv,di luar,di atas pintu masuk dan di pojok samping teller.ketiganya sudah aku tembak." jawab dedi


" bagus..sebaiknya kamu harus segera ganti mobil!" Kata johan lagi.


"Seharusnya memang begitu." kata dedi sambil tertawa.


"Imam,tolong beli rokok di depan!". kata bang johan sambil mengangsurkan selembar uang pecahan seratus ribu kepadaku.


"Iya bang!"


Setelah membeli rokok di sebuah toko yang hanya membutuhkan waktu tak lebih dari lima menitan,aku sudah tiba kembali dirumah.


Bang johan melirik sekilas melihat kehadiranku. sementara dedi sibuk dengan smartphonnya.tanpa bersuara ku taruh tiga bungkus rokok di meja.


Aku sudah terbiasa disuruh membeli rokok dan setiap kali membeli selalu tiga bungkus.


"Imam,ini bagianmu!,dengan uang ini kamu bisa membeli rumah atau apa saja.tapi sebaiknya kamu tetap disini dulu.karena ini baru awal.dan selanjutnya akan banyak pekerjaan menyenangkan menunggu!".kata bang johan sambil tersenyum.


Mataku nanar menatap tumpukan uang yang disodorkan bang johan.


"Ini beneran bang?" Tanyaku sambil melihat kepada mereka berdua secara bergantian.


Mereka tersenyum.sambil mengangguk.


Aku masih berdiri tegak memandang tumpukan uang yg sudah terbagi dalam tiga bagian.sementara bang johan dan dedi masing masing langsung memasukkan uang bagian mereka ke dalam tas yang telah mereka persiapkan.


"Aku ada keperluan,mungkin dalam tiga hari ke depan kamu sendirian disini.!" kata bang johan,sambil berdiri.


"Jangan bertingkah konyol,bersikaplah sewajarnya.dan kalau bisa jangan pergi kemana mana!" Katanya lagi.


***


Hujan masih mengguyur,menemaniku yang resah.entah karena senang atau takut.


Jam dinding sudah menunjuk angka sepuluh.aku masih belum bisa memejamkan mata,mondar mandir sendirian.tak terhitung berapa kali aku ke kamar kecil.


"Huh...gak punya uang ga bisa tidur,banyak uang juga sama...tetep ga bisa tidur!" rutukku dalam hati.


Ku pandangi lagi tumpukan uang yang berada di samping kasur.semua ku hitung ada lima ratus juta.


"Huuh..kereeen!"


Dengan uang ini,aku bisa beli apa saja,cukup untuk membalas semua perlakuan yang pernah kuterima dulu..


Kembali terngiang tatapan sinis orang orang dikampung,teman teman,bahkan si lakinya Laila,.. hm..peduli setan,kubikin mampus tau rasa mereka..


Tanpa sadar aroma dendam semakin mengental.


Hujan belum berhenti.namun riuhnya tak mampu membungkam keriuhan dalam otak,yang seperti tak terbiasa dengan semua yang didapatkan.


Kuambil sebatang rokok,menyalakannya..kulirik jam weker di meja,menunjuk angka sebelas.


"Mungkin karena lapar sehingga pikiran menjadi gelisah!"gumamku sendiri,sambil tertawa,menertawakan kebodohan sendiri.


Dengan memakai kardus bekas air mineral,aku berjingkat kedepan.kulihat ada tukang nasi goreng sedang berteduh ditepi jalan raya.depan emperan sebuah toko bangunan yang sudah tutup.


"Bang,beli nasi goreng satu ya!"kataku.

__ADS_1


"Dibungkus apa makan disini,dik?" tanya bapaknya.


"Bungkus saja pak!".


Setelah memesan segera aku merapatkan tubuh di depan pintu toko biar tidak kehujanan.


Tak jauh dari tempatku berteduh, terlihat seseorang menggeliat.pakaiannya lusuh,kotor.dan diapun memandangku,nanar.


"Kasihan" batinku.


"Bang,sudah makan?"tanyaku pelan setelah menghampirinya.


Dia hanya memandangiku.


"Bang,satu lagi ya..dibungkus juga!" kataku kepada bapak penjual nasi goreng.


Bapaknya menoleh sebentar,sebelum kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Tinggal dimana,bang?" tanyaku kepada pemuda lusuh yang kembali memandangiku.hening sejenak..kulihat dia hanya menggeleng sedikit.


Karena pemuda tadi hanya terdiam,akupun tak lagi bertanya.mengalihkan mata kepenjual nasi goreng yg sedang bekerja.badannya tinggi,rambutnya panjang menyembul dari pecinya.yah memang rata rata orang Madura kebanyakan kekar,bukankah Abang tukang nasi goreng ini orang Madura,karena digerobaknya bertuliskan nasi goreng madura.tapi wajah bapaknya terlalu tampan untuk menjadi seorang penjual nasi goreng,dari Madura lagi..hehehe aku terkekeh sendiri.


"Ini dik,nasi gorengnya!".


"Makasih pak" sembari mengulurkan uang,dan memberikan sebungkusnya lagi kepada pemuda lusuh dipojok emperan toko,kemudian dengan berlari lari kecil kembali memasuki rumah.sementara hujan masih seperti abadi menyirami permukaan bumi.


Nasi goreng yang kumakan seperti tak mau masuk ke kerongkongan.entahlah.. apa karena senang karena banyak uang sehingga semua makanan menjadi tidak enak dimulut.


Saat itu seperti ada yang bergerak gerak didepan rumah,bayangannya terlihat dari sorot lampu yang memantul di jendela.kubuka tirai guna memastikan.


Di bawah pohon depan rumah,dekat jendela kulihat pemuda lusuh tadi memandangiku.


"Mas,boleh minta air minum!?"


Kubuka pintu,dan menyuruhnya masuk.


Setelah memberinya sebotol air mineral yang langsung tinggal sedikit diminumnya,dia memandangiku.


"Terima kasih,mas" katanya.


Aku menggeleng.dan balik bertanya.


"Abang tinggal dimana?" pertanyaan yang sama seperti tadi didepan.


Dia hanya menggeleng kecil.


"Sudahlah.abang untuk malam ini disini saja.sekalian berteduh." kataku.


"Oh iya.aku ada baju.bolehlah kau pakai"


Aku beranjak ke kamar,mengambil satu stel bajuku sendiri.


"tuh kamar mandinya.kalau tidak kedinginan,Abang mandi saja dulu!" seruku.


Kuamati pemuda itu yang kutaksir usia maupun perawakannya tak jauh beda denganku, sama sama cungkring. dia melangkah menuju kamar mandi.sementara menunggu dia keluar kamar mandi aku bikin kopi.


"Kasian .."gumamku.


Teringat dengan diri sendiri yang juga pasti akan senasib jikalau tidak secara sengaja bertemu dengan bang Johan.


"Rokok..!?" kataku sembari menyodorkan sebungkus rokok.setelah dia selesai mandi dan kuajak duduk di kursi.

__ADS_1


"Terima kasih,mas.." katanya pelan.


"Namaku Rudi, sudah tiga hari aku berjalan ke sana kemari,mencari pekerjaan.uang tak punya..aku diusir ditempat bekerja dahulu karena tidak sengaja merusak barang." terangnya.


"Ooh .."


"Barang apa itu?" tanyaku tertarik dengan ceritanya.


"TV."


"aku bekerja di toko elektronik, saat itu aku tak sengaja menjatuhkan TV,saat sedang membersihkannya." katanya sambil menunduk.


"Yaudah..sekarang istirahat saja..mudah mudahan besok kita punya rejeki besar" kataku.


Diam diam dalam hatiku sudah punya rencana untuk memberi dia modal buat usaha.toh aku punya duit banyak,pikirku sambil tersenyum sendiri.besok beri dia uang dan suruh cepat pergi.bukankah kalau ketahuan bang Johan,ada orang luar kesini bisa celaka aku..


Mungkin karena benar benar kelelahan,pemuda tadi sudah tertidur di bangku.akupun beranjak ke kamar.


hujan sudah berhenti.menyisakan dingin dan lembab suasana.


Dikamar,aku masih belum bisa tidur. tas ransel berisi uang lima ratus juta kujadikan sebagai guling,sambil mataku menerawang melihat langit langit kamar.


"Ah.. kenapa ga kusimpan saja uang ini di atas plafon? Pikirku.


HM..boleh juga..baiklah aku lihat dulu,cocok ga tempatnya.karena iseng dan tak bisa tidur aku jadi kurang kerjaan..hehehe aku terkekeh sendirian.dengan memanjat sisi jendela dan merembet di lemari,aku berhasil membuka tutup plafon,suasana gelap terasa. dengan inisiatif sendiri kubuka genteng biar ada sedikit cahaya.aku teringat sebuah mitos,waktu kecil dulu.


"kalau ingin melihat jin atau mahluk halus naiklah keatas wuwungan,buka genteng,longokkan kepala dan lihatlah sekeliling."


Seketika aku merinding,takut..


"Huh..dasar pengecut!" Aku memaki,sebelum kemudian tertawa sendiri.dengan perlahan aku mengeluarkan kepala sedikit demi sedikit, melongok keluar.. sepi,sinar lampu jalanan seperti bergoyang goyang.


Hujan sudah berhenti,langit sudah berbintang,tak sekelam tadi.lama kutatap langit,mengenang masa kecil dikampung,yang akrab dengan pemandangan langit kala malam hari.lamat Lamat masih terdengar deru mobil dijalanan.


Terlihat sebuah mobil berhenti di kejauhan.eh bukan satu, ada lagi yang berhenti.beberapa sosok tubuh terlihat mengendap endap dikegelapan.


"Ah,itu mah orang bukan jin" pikirku.


Beberapa sosok bayangan juga terlihat dari sisi lainnya.semua seperti mengarah ke .. tempatku.


"Siapa mereka?" pikirku bertanya tanya.


Kulihat sebuah mobil datang lagi,berhenti tepat di tempat tadi aku membeli nasi goreng.beberapa orang keluar sambil menenteng senapan.


"Hah..senapan,siapa mereka?"


"Polisi?"


Pelan pelan aku menarik kepalaku.merangkak dengan hati hati.


Terdengar suara pintu dibuka,dengan cepat pula kurapatkan lubang plafon tempat masuk tadi.


"Haii... Untung tas ransel berisi uang itu sedang berada di punggungku.."pikirku sedikit lega.


Terdengar beberapa kali suara tembakan,aku diam,menyatu bersama keheningan langit langit kamar.beberapa langkah kaki seperti mondar mandir di bawahku.


"Hallo.. iya ... semua sesuai tugas,orangnya sudah di Non aktifkan,.....  tenang bung ....nanti laporan keterangannya tersangka melawan petugas sehingga harus dilumpuhkan......ok."


Ternyata,mereka polisi.berarti tukang nasi goreng tadi? bukankah selama ini tak pernah ada tukang nasi goreng mangkal di depan....?pantas saja rasanya tak karuan,rupanya Intel yang sedang menyamar..


Malam semakin menua..

__ADS_1


Dan aku memutuskan tetap di tempat.menunggu pagi yang masih menjadi misteri.


__ADS_2