
Waktu beranjak menyelusup diantara detak jarum jam.siang malam silih berganti,membungkus semua kenangan demi kenangan yang berserak ditepian kota.
aku masih mendiami kosan ini.setengah tahun sudah berlalu.semua uang yg kupunya sudah tersimpan aman di sebuah bank ternama.
sengaja aku pulang ke kota kelahiran mengurus semuanya.dan hanya singgah semalam dirumah,menemui orang tua.besoknya pagi pagi langsung pamit lagi.
tak lupa singgah di seorang ulama terkenal,disitu aku menebus sebuah pegangan berupa jimat kebal yang cukup mahal.tidak tanggung tanggung, 25 juta. itupun karena aku kenal sama salah seorang kepercayaannya.
sore itu aku menyusuri petak demi petak kios di kawasan pasar barat ibukota.rencananya mau membuka usaha.sekian lama berkeliling tak ada yang pas dengan kriteria. ketika tengah pusing mencari,datang dua orang pemuda.
tampang brewokan sedang satunya penuh tatto.bau alkohol semerbak serasa mencekik tenggorokan.
"Hai bro.." sapa yang tatoan.
"maaf nih,ganggu.. kita lagi nanggung nih bro,bagi seikhlasnya aja deh ya!!" kata si brewok menyeringai, sambil mengeluarkan pisau dari balik jaketnya.
aku melirik sekilas,"wah kebetulan nih,aku juga lagi pengen menjajal pegangan" batinku sambil kebat kebit.
"sori bro,sama .. gua juga lagi cekak !" jawabku singkat.
"hehehe.. jangan gitu kawan!". kata yg brewok seraya mengancam perutku dengan pisaunya.
aku masih diam, sementara pemuda yang tatoan mulai bergerak mendorong tubuhku sampai mepet ke tembok sebuah kios.
__ADS_1
tangannya dengan kasar menggeledah, segera kutangkap pergelangan tangannya,ku puntir sampai terbalik,lalu kutendang.tapi..
"Duk!!"
"aduh.." teriakku kaget sambil melihat kebelakang.
terlihat si brewok dengan muka pucat pasi memandangiku,sebuah pisau belati bengkok masih tergenggam erat ditangannya.
kuraba punggungku, sambil balas menyeringai.
melangkah pelan menghampiri si brewok.sekali kutendang dia meringkuk dipojokan.
"maaf bang,.. maaf..!!" katanya terbata bata.
pemuda satunya lagi,yang tatoan heran,tak mengerti apa yang terjadi sama kawannya.hanya bengong menatap.
"terimakasih bang, terimakasih.. !". kata yang brewokan sambil segera angkat kaki.
disebuah warung kopi aku duduk sambil memikirkan kejadian tadi. Antara senang dan gembira karena pegangan itu sangat berguna.
"maaf bang,saya yang tadi.."
sebuah suara membuyarkan lamunan.kulihat sekilas di sampingku berdiri pemuda brewokan yang tadi.
__ADS_1
aku menaikkan alis sambil menatapnya heran,
"ada apa?" tanyaku setenang mungkin.
"maaf,Abang kita mau bertemu sama Abang ,katanya " bisiknya lirih
"ngapain? urusannya belum kelarkah?" kataku masih tenang sambil menghembuskan asap rokok.
"eh enggak bang,bukan begitu.. Abang kita ingin berkenalan .. eh !" katanya terbata bata.
kulihat orang orang di warung mencuri pandang ke arah kami.karena malas dan tak ingin jadi pusat perhatian,aku segera mengiyakan permintaan si brewok itu.
"ayo.. dimana?" kataku segera bangkit sambil membayar ke warung.
disebuah kafe remang remang,aku bertemu dengan temannya si brewok,di sela dentuman musik dan kerlingan nakal wanita berbaju sexy. hanya perkenalan biasa,namanya Saga, sekitar 50 tahunan, dia yang menguasai kawasan barat ibukota ini.orangnya ramah namun perkenalan itu telah merubah segalanya.sejak saat itu aku adalah bagian dari mereka,malang melintang dikawasan barat ibukota.
aku tak perlu lagi membuka usaha,kerjaku adalah menjegal orang orang yang tak mau memberi setoran keamanan kepada kelompok ini.dan dari setoran itu aku mendapat bagian lumayan.
disini,aku menumpahkan semua kebencian ,kekesalan,patah hati,serta amarah yang selama ini terpendam.ditambah rasa percaya diri karena punya pegangan.
tak segan segan aku membantai siapa saja yang berani melawan,bahkan hal sepele sekalipun.tak butuh waktu lama,namaku terkenal,
"RAMBU"
__ADS_1
entah bagaimana awalnya Rambu menjadi nama kebesaranku,apakah karena tubuh ini yang kurus seperi tiang rambu lalulintas..
tapi satu yang pasti, Rambu adalah nama yang akan membuat orang berfikir dua kali untuk merecokinya.ditambah big bos Saga, sang pimpinan sangat melindungiku. jadilah aku sebagai pentolan dari kelompok ini.