rasa yang tersisa

rasa yang tersisa
Bab 2 ruang oprasi


__ADS_3

Siap tidak siap aku harus siap".


Bhatin nya.


"Ayo duduk dulu Bu, kita bantu Ibu duduk ya."


Dua orang Asisten Dokter membantu Azkia duduk,


"Lutut nya di tekuk Bu peluk lutut nya."


Ucap seorang Dokter wanita, Azkia pun menuruti memeluk lutut nya, seorang Suster memegang tangan Azkia


"Pegang tangan saya Bu kalo sakit Ibu boleh gigit tangan saya."


Ujar Asisten Dokter itu sambil tersenyum kepada Azkia, Azkia hanya tersenyum kecut, ketika melihat seorang Dokter sedang memegang sebuah suntikan, Dokter itu melangkah berjalan menghampiri Azkia, lalu berjalan memutar ke belakang Azkia.


"Tarik napas Bu..."


Ucap Dokter wanita itu, Azkia menuruti perkataan Dokter wanita yang meminta nya untuk menari napas, ketika Azkia menarik napas nya Dokter itu menyuntik kan sebuah jarum biusan anestesi ke punggung nya, Azkia memejamkan matanya...


"Silahkan Bu, berbaring lagi."


Ucap Dokter itu, lalu mereka menanyakan beberapa hal kepada Azkia untuk beberapa saat setelah itu, salah satu dari Dokter memberi isyarat waktu nya untuk di exsekusi.

__ADS_1


" Bismillah..."


Terdengar salah seorang Dokter mengucapkan basmalah, sesaat kemudian Azkia merasakan sesuatu di perut nya, Azkia sadar mereka sedang menorehkan pisau operasi di perut nya, membuka lapisan-lapisan kulit nya, dan memotong lapisan-lapisan daging perut nya, memang tidak terasa sakit tapi, dia masih bisa merasakan nya, suntik bius itu hanya membuat bagian tubuh perut ke bawah nya yang mati rasa, tetapi azkia sadar sepenuhnya.


Azkia menoleh kan kepala ke samping kanan nya, tak ingin melihat ke atas, karena di atas ada lampu oprasi yang bening seperti kaca, sehingga Azkia dapat melihat perut nya yang sidang di exsekusi, sambil terus di mulut tak henti menyebutkan nama Tuhan nya, dan membaca semua ayat-ayat suci Al-Quran yang dia ingat di luar kepala.


"Bila aku mati di meja oprasi ini setidaknya aku mati syahid, dan sedang menoleh ke kanan menyebutkan asma mu Ya Allah."


Bathin Azkia pasrah, sambil mulut nya tak henti membaca Ayat-ayat suci Al-Quran... pikiran Azkia kembali berkelana teringat ketika dia mejanda selama dua tahun, Azkia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan mencari nafkah untuk kedua anak nya, Azkia tak ingin berharap dari mantan suami nya.


Azkia menyibukkan diri dengan merawat dirinya, pergi ke sanggar Zumba sambil sekalian dia menawarkan barang dagangan nya ke Ibu-ibu yang mengikuti senam Zumba, Azkia memang pintar berdagang, dan tidak menyia- nyiakan kesempatan dan peluang, dua tahun menjadi janda banyak pria yang mendekati nya, bahkan banyak pengusaha yang mempunyai istri ingin menjadikan Azkia istri ke dua nya.


Namun bukan lah Azkia yang akan menerima menjadi yang ke dua, kalo dia mau menerima menjadi yang ke dua, dia tidak lebih baik dari pelakor suaminya, Azkia punya harga diri, dan secantik-cantik nya pelakor tetap sampah, dan Azkia tak ingin menjadi sampah, Bagi nya tak ada alasan menjadi pelakor, masih banyak lelaki kenapa harus suami orang?, menghianati pasangan bukan lah suatu kehilapan tetapi pilihan.


"Aaakhhh Dok... "


Azkia merasa napas nya sesak, tidak dapat bernapas dengan baik , Dokter segera memeriksa keadaan nya, jantung detak nadi. Dokter sempat khawatir dengan keadaan nya yang sesak lalu memberikan bantuan selang oksigen kehidung Azkia


"Sepertinya Asam lambung nya naik."


Ucap salah seorang Dokter berkata, dan memerintah kan asisten Dokter untuk menyuntikan obat ke selang infus Azkia, Azkia kembali bernafas dengan normal.


"Alhamdulillah... kaget saya."

__ADS_1


Ucap salah seorang Asisten Dokter, lalu mereka kembali meneruskan operasi nya, azkia kembali ke lamunan nya yang berpetualang ke masa lalu nya.


Azkia sudah mati rasa, dia merasa dia bisa hidup tanpa laki-laki, tanpa suami pun dia bisa meencukupi kebutuhan rumah dan anak-anak nya, selama dua tahun menjanda, tak pernah sekali pun dia dekat dengan seorang pria, Azkia janda yang terhormat, tetangga-tetangga nya mengagumi, dan menghormati kekuatan pribadi Azkia.


Walaupun janda tak pernah ada omongan jelek dari tetangga nya, Azkia tak pernah memasukan pria ke dalam rumah, kalaupun ada tamu pria dia menerima nya di depan pintu rumah, tak pernah memasukkan nya ke dalam rumah, tapi ada yang mengganjal di hati Azkia, dia melihat anak-anak nya yang murung, walaupun dia sudah berusaha membuat anak-anak nya senang dengan memberikan mainan, jalan-jalan atau memasak masakan kesukaan mereka, tetap saja anak nya terlihat tidak seceria dulu.


Azkia yang terlahir dari keluarga yang orang tua nya berpisah, dapat merasakan apa yang di rasakan anak-anak nya, di tambah lagi mantan suami nya yang sering kerumah membuat anak-anak nya menjadi lebih dekat lagi, dan meminta Arman, Papah nya agar tidak pergi lagi dari rumah.


Azkia harus berkorban perasaan untuk anak-anak nya walaupun dia belum sepenuhnya memaafkan mantan suami nya, dia menerima Arman lagi ketika mantan suami nya itu meminta kembali, dengan mengatas namakan anak-anak.


Arman tau Azkia adalah anak korban perceraian orang tua nya, Arman mempunyai alasan lebih kuat meminta Azkia kembali agar anak-anak nya tidak merasakan apa yang pernah Azkia dan kakak nya dulu pernah rasakan, berpisah dengan salah satu orang tua dan tidat mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari orang tua, di tambah kedua orang tuanya menikah lagi membuat jarak Azkia, dan kakak nya menjadi jauh dari kedua orang tuanya.


Azkia pun kembali kepada Arman, Azkia berharap seiring waktu luka hatinya akan sembuh, dan Arman dapat menyembuhkan luka hati nya yang pernah di hianati, azkia pun berumah tangga dengan normal layak nya tak terjadi apapun sebelum nya, setelah selang beberapa bulan Azkia hamil anak ketiga, dan melahirkan dengan normal di tolong seorang bidan, mereka memberi nama anak ketiga nya Arka.


Kebahagiaan mempunyai anak lagi setelah perpisahan dua tahun, namun bersamaan dengan itu Azkia harus mengalami duka yang teramat dalam ketika Ibunya harus menghadap sang Illahi, Azkia kini yatim piatu sebelum nya Ayah nya meninggal dunia Lima tahun yang lalu di rumah istri muda nya.


Azkia saat itu tidak terlalu merasa kehilangan ayah nya, karena memang mereka tidak dekat dengan ayah nya yang menikah lagi, sewaktu Azkia masih di sekolah dasar, membuat nya jarang bertemu Ayah nya, Ayah nya sibuk dengan keluarga baru nya, dan melupakan Azkia dan kakak nya, yang tinggal bersama ibu mereka.


Belum juga genap Arka berusia Satu tahun, Azkia hamil lagi, dua bulan dia telat datang haid, Azkia panik langsung membeli sebuah test kehamilan di apotek, Azkia meminta ijin untuk menggugurkan kehamilan nya ke suaminya Arman, karena Azkia merasa tidak akan mampu untuk mengurus bayi lagi, sedang kan anak nya yang terakhir masih bayi.


Azkia dapat membayangkan bagaimana nanti dia akan sangat sibuk dengan dua bayi, bagaimana dengan kegiatan nya berdagang dengan teman teman nya bila dia harus mengurus dua bayi sekaligus, akhirnya nya azkia membeli obat penggugur kandungan di online shop yang harga nya lumayan mahal, tapi Azkia tidak perduli Azkia membeli, dan meminum nya.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2