
"i-ini ... ini maksudnya apa kak?" Jantungnya berdebar, dan tangannya yang halus itu bergetar, setelah membaca sebuah kertas berukuran A4 yang di berikan oleh kekasih tercintanya
"Kamu gak bisa baca? berarti mulai saat ini kamu jadi istri kontrak saya!"
"T-tapi, kenapa kak?" Cairan bening dari pelupuk mata indah gadis cantik itu sudah berontak untuk di keluarkan dan segera meleleh dengan deras membasahi pipi chubby--nya yang selalu terlihat cantik dan lucu. Suara isakkan yang mati-matian dia tahan pada akhirnya keluar dan bergema memenuhi isi ruangan.
"Lebay! gitu aja nangis."
Hancur, tidak ada kata lain yang bisa di ungkapkan untuk menggambarkan kondisi hatinya saat ini. Dia adalah Nala, gadis berusia tujuh belas tahun yang di paksa untuk menikah oleh kekasihnya dengan menggunakan kata cinta sebagai umpan untuk menjeratnya. Hatinya yang baik dan lugu serta penuh ketulusan tidak pernah menyangka akan niat jahat yang tersembunyi di balik perlakuan bak malaikat kekasih hatinya itu.
laki-laki itu tidak bisa dikatakan tua. Namun usianya memang lebih tua sepuluh tahun dari Nala. Upayanya yang hebat untuk mendapatkan Nala membuat hati gadis itu luluh. Bahkan dengan status sosialnya yang lebih tinggi membuat orang tua Nala dengan cepat menyetujui pinangan laki-laki itu. Dia bersandiwara dengan sangat baik, meski Nala menolak pada awalnya, dengan sedikit paksaan dan berkali-kali ungkapan cinta yang di lontarkan laki-laki itu, akhirnya Nala menyetujuinya.
__ADS_1
Namun, kemana semua kata cinta dan sayang itu pergi? berhembus bagaikan angin lalu. Baru satu hari pernikahan itu berjalan dan dengan santainya dia memberikan surat perjanjian berisikan peraturan yang harus di taati oleh mereka berdua, juga tertulis di sana durasi pernikahan ini berlangsung. Penjahat macam apa yang menipu seorang gadis seperti ini? dengan tidak tahu malu menjual kata cinta demi keuntungannya sendiri.
Dengan gontai, Nala berjalan ke kamarnya. Dan seperti dugaannya, saat sampai di depan pintu, seluruh barang-barang miliknya sudah dikeluarkan oleh laki-laki yang berstatus suaminya itu. Tanpa perasaan, laki-laki itu menatap ke arah Nala datar. "Mulai saat ini, kamu tidak usah tidur di kamar saya. Cari ruanganmu sendiri." Setelah mengucapkan itu, dia masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Nala hanya membisu dengan perlakuan suaminya itu. Lagi pula, apa yang bisa di lakukan olehnya untuk saat ini? Dia lalu memunguti barang-barangnya dan berjalan ke lantai bawah mencari kamar yang ingin dia tempati.
Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar yang terletak tepat di samping halaman belakang rumah itu. Kamar yang tidak begitu luas dan tidak sempit, ukurannya pas menurut Nala. Dia langsung masuk dan mulai merapikan kasur serta barang-barangnya. Setelah selesai, masih dengan tangis yang tidak kunjung reda, dia duduk di tepi ranjang dan menggenggam surat perjanjian itu kembali. Membacanya ulang dengan perlahan dan hati yang terasa di sayat-sayat. Dari setiap poin perjanjian, ada dua hal yang paling menyakiti hatinya. Dikatakan bahwa tidak boleh ada yang protes dan ikut campur jika salah satu dari mereka memiliki kekasih di luaran sana. Dan mereka harus bersandiwara di depan seluruh anggota keluarga bahwa mereka baik-baik saja.
Apakah menurutnya pernikahan sebercanda itu? mengapa hingga tega melakukan hal yang begitu menjijikan? "Kak, Andaru ..." ucapnya lirih, hatinya begitu sakit. tangisan yang memilukan bergema, dia tidak menyangka laki-laki yang begitu manis dan memperlakukannya dengan penuh cinta ternyata memiliki alasan buruk di balik itu.
Meringkuk di balik selimut untuk melindungi dirinya dari hawa dingin angin malam. Mencoba memejamkan mata, dan berharap semua yang terjadi saat ini hanyalah mimpi semu belaka. Meredam tangisannya yang pilu, lalu mencoba untuk tenang. Dia adalah wanita kuat, itulah pujian yang selalu di lontarkan oleh ibunya. Berdoa, semoga esok hari saat terbangun, semuanya baik-baik saja.
***
__ADS_1
Semilir angin yang sejuk berhembus di balik tirai jendela tempat seorang gadis tertidur. Bukan, tepatnya gadis yang baru saja bersuami. Hembusan itu sangat lembut seakan tidak ingin gadis itu terbangun, perlahan sesosok bayangan muncul sedikit demi sedikit. Seperti ilusi, lalu membentuk sosok tampan berbaju ala bangsawan Eropa abad pertengahan, dengan mata merah kelam. Tatapannya begitu sayu, alis tebal dengan hidung yang mancung, serta bibirnya yang merah alami.
Menatap penuh simpati kearah gadis yang tengah bergelung di balik selimut, jantungnya berdebar saat gadis itu berbalik dan menghadap kearahnya. Pandangannya semakin tajam dan menelisik. Terlihat, fitur halus dari wajah gadis itu, kulitnya yang seputih salju di hiasi kemerahan yang bersemu di pipinya. Mata yang terpejam itu sedikit membengkak sembab, bibirnya yang kecil semerah ceri, nafasnya yang teratur menandakan bahwa dia sedang sangat lelap dalam tidurnya.
Dia memejamkan matanya, dan sekelebat ingatan muncul di pikirannya. Dia terus memutar memory yang tersimpan, berusaha mendapatkan yang dia cari meski tampak samar. Perlahan, dia terus menggunakan energinya untuk memastikan lagi dan lagi. Dia pun tersenyum.
Dengan tanpa menimbulkan suara, sosok itu naik keatas ranjang, dan membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Menatapnya dari dekat, jantungnya berdebar lebih kencang, di wajah gadis itu tersirat kesedihan yang mendalam meski tidurnya terlihat sangat damai dan tenang, terdapat pula garis halus pada keningnya. Raut kemarahan dan ketidak sukaan terpatri di wajah tampan sosok itu, giginya gemeletuk, dan dadanya naik turun. Menatap lebih dalam lagi pada wajah tenang gadis di hadapannya, lalu dengan susah payah meredam amarah di hatinya. Jemarinya yang pucat mengelus rambut panjang kecoklatan milik sang gadis, mengecup keningnya lalu memberikan sebuah pelukan.
Merasa nyaman, dengan tanpa sadar gadis itu membenamkan wajahnya pada dada bidang yang memberikannya kehangatan, lalu memeluknya erat. Sosok bermata merah itu tersenyum. Jantungnya terus berdetak semakin kencang, hingga dia hampir sesak jika saja tidak dengan cepat menenangkan diri.
"Apakah ini rasanya?"gumam sosok itu di dalam hati. Matanya terpejam dan indera penciumannya menghirup aroma mawar yang segar dari tubuh gadis itu. Dadanya bergemuruh dan keyakinan di hatinya sudah tidak dapat di bantah lagi. Bibirnya membentuk senyum menyeringai, pelukannya semakin erat seperti tidak ingin gadis itu pergi.
__ADS_1